<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2425223017908718266</id><updated>2011-07-31T05:42:56.010+07:00</updated><title type='text'>Ruang Pendidikan Bagi Para Mahasiswa</title><subtitle type='html'>Lahir di Babat Raya salah satu desa terpencil di Kabupaten Terisolir Barito Kuala</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nafi82.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>NAFI KANDANGAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15298715059182094551</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JMe35SNgMFM/SfVLWczCeeI/AAAAAAAAAAc/FD-UBSQp110/S220/gatot-kaca-bule.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2425223017908718266.post-6244940949697652528</id><published>2010-04-08T06:33:00.002+07:00</published><updated>2010-04-08T06:42:18.897+07:00</updated><title type='text'>Metode Pendidikan Keimanan di Rumah Tangga pada Anak Balita</title><content type='html'>Proses tarbiyah (pendidikan) mempunyai tujuan untuk melahirkan suatu generasi baru dengan segala ciri-cirinya yang unggul dan beradab. Penciptaan generasi ini dilakukan dengan penuh keikhlasan dan ketulusan yang sepenuhnya dan seutuhnya kepada Allah swt., melalui proses tarbiyah. Melalui proses tarbiyah inilah, Allah swt., telah menampilkan peribadi muslim yang merupakan uswah dan qudwah melalui Muhammad saw. Pribadinya merupakan manifestasi dan jelmaan dari segala nilai dan norma ajaran Alquran dan sunah Rasulullah.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;METODE PENDIDIKAN KEIMANAN DI RUMAH TANGGA &lt;br /&gt;PADA ANAK USIA BALITA&lt;br /&gt;Oleh: Muhammad Nafi, S.Pd.I&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;A. Materi Pendidikan Keimanan di Rumah Tangga Pada Anak Usia Balita&lt;br /&gt;Proses tarbiyah (pendidikan) mempunyai tujuan untuk melahirkan suatu generasi baru dengan segala ciri-cirinya yang unggul dan beradab. Penciptaan generasi ini dilakukan dengan penuh keikhlasan dan ketulusan yang sepenuhnya dan seutuhnya kepada Allah swt., melalui proses tarbiyah. Melalui proses tarbiyah inilah, Allah swt., telah menampilkan peribadi muslim yang merupakan uswah dan qudwah melalui Muhammad saw. Pribadinya merupakan manifestasi dan jelmaan dari segala nilai dan norma ajaran Alquran dan sunah Rasulullah.&lt;br /&gt;Masa kanak-kanak dimulai dari selesainya masa menyusui hingga anak berumur enam atau tujuh tahun. Masa ini termasuk masa yang sangat sensitif bagi perkembangan kemampuan berbahasa, cara berpikir, dan sosialisasi anak. Di dalamnya terjadilah proses pembentukan jiwa anak yang menjadi dasar keselamatan mental dan moralnya. Pada saat ini, orang tua harus memberikan perhatian ekstra terhadap masalah pendidikan anak dan mempersiapkannya untuk menjadi insan yang handal dan aktif di masyarakatnya kelak.&lt;br /&gt;Materi-materi pendidikan keimanan yang bias diterapkan kepada anak usia balita, adalah mencakup akidah, fiqh dan akhlak, di mana ketiganya menurut penulis saling mendukung dan tidak bisa lepas satu sama lainnya. Dalam penelitian ini, penulis mengemukakan beberapa materi pendidikan keimanan yang bisa diterapkan oleh orang tua untuk menginternalisasikan iman ke dalam hati anak, yaitu:&lt;br /&gt;1. Memperdengarkan adzan dan iqamat pada bayi yang baru lahir&lt;br /&gt;2. Mentahnik&lt;br /&gt;3. Memberi nama anak dengan nama yang baik&lt;br /&gt;4. Akikah &lt;br /&gt;5. Khitan&lt;br /&gt;6. Mengajarkan kalimat tauhid ketika anak sudah mulai bisa berbicara&lt;br /&gt;7. Mengenalkan dan menanamkan cinta pada Allah&lt;br /&gt;8. Menanamkan cinta kepada Rasul&lt;br /&gt;9. Mengajarkan Alquran&lt;br /&gt;10. Mendidik untuk berpegang teguh pada akidah dan rela berkorban&lt;br /&gt;11. Mengenalkan dan mengajaknya sholat&lt;br /&gt;12. Mengajarkan adab dan akhlak kepada anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam Pemilihan Metode Pendidikan Keimanan pada Anak Usia Balita&lt;br /&gt;Sebelum masuk ke dalam metode, sudah dikemukakan di atas tentang materi-materi pendidikan keimanan yang akan diajarkan kepada anak usia balita. Hal yang juga perlu diperhatikan untuk menggunakan metode tersebut untuk initernalisasi pendidikan keimanan, yaitu mengetahui tentang sifat khusus anak.&lt;br /&gt;Muhammad Albani mengutip pendapat dari Syaikh Muhammad Said Mursi dalam bukunya Fan Tarbiyah al-Aulad fi al-Islam (Seni Mendidik Anak) menjelaskan beberapa sifat khusus yang dimiliki anak-anak.  Sifat khusus ini perlu dimengerti dan dipahami oleh para orang tua dan pendidik, sehingga pendidikan yang ia lakukan selaras dengan kondisi kejiwaan anak. Sifat khusus pada diri anak-anak yang dikemukakan oleh beliau adalah tidak bisa diam dan banyak bergerak, selalu ingin meniru, suka membangkang, tidak dapat membedakan antara yang benar dan salah, banyak bertanya, memiliki daya ingat yang sangat kuat, senang diberi motivasi (dipuji), gemar bermain dan bersuka ria, senang bersaing, senang berkhayal, kecenderungan untuk memiliki keterampilan (skill), cepat menguasai suatu bahasa, menyukai permainan bongkar pasang, dan sensitif (peka). &lt;br /&gt;1. Banyak bergerak&lt;br /&gt;Banyak bergerak adalah sifat motorik anak yang khas, dan merupakan sifat yang wajar dan tidak membahayakan. Malah justru jika seorang anak tidak banyak bergerak dan sering menyendiri, maka dapat dipastikan ia memiliki “kelainan” secara kejiwaan. &lt;br /&gt;2. Selalu ingin meniru&lt;br /&gt;Anak kecil akan selalu meniru orang dewasa, khususnya kedua orang tuanya atau gurunya dalam hal yang baik maupun buruk. Anak akan menyerap semua tingkah laku orang dewasa yang dekat dengan dirinya. Maka salah satu problem besar yang menaungi dunia pendidikan anak saat ini adalah tidak baiknya kepribadian pendidik. Orang tua dan guru yang tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Untuk itu jika menginginkan anak menjadi baik maka mulailah dari diri sendiri, perbaiki dulu akhlak kita, niscaya akhlak anak pun akan menjadi baik.&lt;br /&gt;3. Memiliki daya ingat yang sangat kuat&lt;br /&gt;Memori anak itu masih putih bersih dan belum ternoda dengan berbagai macam persoalan. Sebab itulah anak sangat mudah menghafal walaupun ia tidak paham. Bisa kita saksikan Sayyid Muhammad Husein at Tabatabai yang telah hafal juz Amma secara autodidak pada umur 2 tahun 10 bulan dan hafal Alquran sejak umur 5 tahun, di bawah bimbingan ayahnya yang memang menjadi pengajar Alquran. &lt;br /&gt;4. Senang dimotivasi (dipuji)&lt;br /&gt;Inilah yang sering kali dilupakan oleh para orang tua dan guru, yakni memberikan pujian kepada anak ketika ia melakukan kebaikan atau berhasil melaksanakan tugasnya. Pujian akan memperbaharui semangat dan menyegarkan jiwa anak. Selama ini anak agaknya lebih sering diteror jiwanya dengan bentakan, kata-kata kasar, makian, bahkan pukulan; dan kurang mendapatkan pujian, penghargaan dan motivasi (dorongan) secara proporsional.&lt;br /&gt;5. Cepat menguasai bahasa &lt;br /&gt;Untuk itu hendaklah orang tua menghindari perkataan kotor, kasar dan kurang baik, seperti bentakan, celaan dan makian. Karena kata-kata tersebut akan mengendap dan mewarnai keterampilan ucap anak. Jika anak dibentak, pada hakikatnya ia belajar membentak. Jika anak dimaki, maka ia belajar memaki. Jika anak dicela, ia belajar untuk mencela. Jika dimarahi, maka ia belajar marah.&lt;br /&gt;Manusia merupakan makhluk pilihan Allah yang mengembangkan tugas ganda, yaitu sebagai khalifah Allah dan Abdullah (Abdi Allah). Untuk mengaktualisasikan kedua tugas tersebut, manusia dibekali dengan sejumlah potensi didalam dirinya. Hasan Langgulung mengatakan, potensi-potensi tersebut berupa ruh, nafs, akal, qalb, dan fitrah. Sejalan dengan itu, Zakiyah Darajat mengatakan, bahwa potensi dasar tersebut berupa jasmani, rohani, dan fitrah namun ada juga yang menyebutnya dengan jismiah, nafsiah dan ruhaniah.&lt;br /&gt;Aspek jismiah&lt;br /&gt;Aspek jismiah adalah keseluruhan organ fisik-biologis, serta sistem sel, syaraf dan kelenjar diri manusia. Organ fisik manusia adalah organ yang paling sempurna diantara semua makhluk. Alam fisik-material manusia tersusun dari unsur tanah, air, api dan udara. Keempat unsur tersebut adalah materi dasar yang mati. Kehidupannya tergantung kepada susunan dan mendapat energi kehidupan yang disebut dengan nyawa atau daya kehidupan yang merupakan vitalitas fisik manusia. Kemampuannya sangat tergantung kepada sistem konstruksi susunan fisik-biologis, seperti: susunan sel, kelenjar, alat pencernaan, susunan saraf sentral, urat, darah, tulang, jantung, hati dan lain sebagainya. Jadi, aspek jismiah memiliki dua sifat dasar. Pertama berupa bentuk konkrit berupa tubuh kasar yang tampak dan kedua bentuk abstrak berupa nyawa halus yang menjadi sarana kehidupan tubuh. Aspek abstrak jismiah inilah yang akan mampu berinteraksi dengan aspek nafsiah dan ruhaniah manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek nafsiah&lt;br /&gt;Aspek nafsiah adalah keseluruhan kualitas insaniah yang khas dimiliki dari manusia berupa pikiran, perasaan dan kemauan serta kebebasan. Dalam aspek nafsiah ini terdapat tiga dimensi psikis, yaitu dimensi nafsu, ‘aql, dan qalb.  &lt;br /&gt;Dimensi nafsu merupakan dimensi yang memiliki sifat-sifat kebinatangan dalam sistem psikis manusia, namun dapat diarahkan kepada kemanusiaan setelah mendapatkan pengaruh dari dimensi lainnya, seperti ‘aql dan qalb, ruh dan fitrah. Nafsu adalah daya-daya psikis yang memiliki dua kekuatan ganda, yaitu: daya yang bertujuan untuk menghindarkan diri dari segala yang membahayakan dan mencelakakan (daya al-ghadabiyah) Serta daya yang berpotensi untuk mengejar segala yang menyenangkan (daya al-syahwaniyyah). &lt;br /&gt;Dimensi akal adalah dimensi psikis manusia yang berada di antara dua dimensi lainnya yang saling berbeda dan berlawanan, yaitu dimensi nafsu dan qalb. Nafsu memiliki sifat kebinatangan dan qalb memiliki sifat dasar kemanusiaan dan berdaya cita-rasa. Akal menjadi perantara di antara keduanya. Dimensi ini memiliki peranan penting berupa fungsi pikiran yang merupakan kualitas insaniah pada diri manusia.&lt;br /&gt;Dimensi qalb memiliki fungsi kognisi yang menimbulkan daya cipta seperti berpikir, memahami, mengetahui, memperhatikan, mengingat dan melupakan. Fungsi emosi yang menimbulkan daya rasa seperti tenang, sayang dan fungsi konasi yang menimbulkan daya karsa seperti berusaha. &lt;br /&gt;Aspek ruhaniah &lt;br /&gt;Aspek ruhiyah adalah keseluruhan potensi luhur (high potention) diri manusia. Potensi luhur itu memancar dari dimensi ruh dan fitrah. Kedua dimensi ini merupakan potensi diri manusia yang bersumber dari Allah. Aspek ruhaniyah bersifat spiritual dan transedental. Spiritual, karena ia merupakan potensi luhur batin manusia yang merupakan sifat dasar dalam diri manusia yang berasal dari ruh ciptaan Allah. Bersifat transidental, karena mengatur hubungan manusia dengan yang Maha transenden yaitu Allah. Fungsi ini muncul dari dimensi fitrah. &lt;br /&gt;Dari penjabaran di atas, dapat disebutkan bahwa aspek jismiah bersifat empiris, konkrit, indrawi, mekanistik dan determenistik. Aspek ruhaniah bersifat spiritual, transeden, suci, bebas, tidak terikat pada hukum dan prinsip alam dan cenderung kepada kebaikan. Aspek nafsiah berada di antara keduanya dan berusaha mewadahi kepentingan yang berbeda.  &lt;br /&gt;Pada hakikatnya, proses pendidikan merupakan proses aktualisasi potensi diri manusia. Sistem proses menumbuhkembangkan potensi diri itu telah ditawarkan secara sempurna dalam sistem ajaran Islam, ini yang pada akhirnya menyebabkan manusia dapat menjalankan tugas yang telah dibebankan Allah.&lt;br /&gt;Pembinaan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual secara komprehensif melalui rukun iman dan rukun Islam adalah proses pengaktualisasian potensi diri manusia secara totalitas. Potensi luhur diri manusia yang bersumber dan ruh dan fitrah Allah, inilah inti ibadah. &lt;br /&gt;Pengaktualisasian potensi ruh mewujudkan fungsi khalifah dan aktualisasi potensi fitrah mewujudkan fungsi ibadah. Dimana aktivitas pendidikan hamba Allah tetap akan menjadi ibadah, bukan malah sebaliknya menjadi aktivitas yang jauh dari nilai-nilai relegiusitas. Bukan kah kita hidup tanpa nilai-nilai relegiusitas terasa hambar? Mari kita sejenak berfikir, saya juga ikut berfikir untuk kemajuan daerah dan bangsa kita ini!&lt;br /&gt;Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa tauhid merupakan landasan Islam. Apabila seseorang benar tauhidnya, maka dia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, tanpa tauhid dia pasti terjatuh ke dalam kesyirikan dan akan menemui kecelakaan di dunia serta kekekalan di dalam adzab neraka. Allah swt., berfirman dalam surah al-Nisa ayat 48 yang berbunyi:&lt;br /&gt;•                        &lt;br /&gt;Oleh karena itu, di dalam Al-Quran pula Allah kisahkan nasehat Luqman kepada anaknya, yaitu pada surah Luqman ayat 13, yang berbunyi,&lt;br /&gt;              &lt;br /&gt;C. Metode Internalisasi Pendidikan Keimanan di Rumah Tangga pada Anak Usia Balita&lt;br /&gt;1. Menyerukan Adzan di Telinga Bayi&lt;br /&gt;Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud, yaitu:&lt;br /&gt;‏عَنْ ‏ ‏عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَبِيهِ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏أَذَّنَ فِي أُذُنِ ‏ ‏الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ ‏ ‏حِينَ وَلَدَتْهُ ‏ ‏فَاطِمَةُ ‏ ‏بِالصَّلَاةِ  ‏ &lt;br /&gt;Hal ini dimaksudkan supaya adzan yang berisi pengagungan Allah dan dua kalimat syahadat itu merupakan suara yang pertama kali masuk ke telinga bayidan juga menjadi perisai bagi anak, karena adzan berpengaruh untuk mengusir dan menjauhkan syaitan dari bayi yang baru lahir, yang ia senantiasa berupaya untuk mengganggu dan mencelakakannya. &lt;br /&gt; Ibnu al-Qayyim – sebagaimana dikutip oleh Jamal Abdur Rahman – mengatakan bahwa rahasia dilakukan adzan dan iqamat di telinga bayi yang baru lahir mengandung harapan yang optimis agar mula-mula suara yang terdengar oleh telinga sang bayi adalah seruan adzan yang mengandung makna keagungan dan kebesaran Allah serta syahadat yang menjadi syarat utama bagi seseorang yang baru masuk islam. Dengan demikian, tuntunan pengajaran ini menjadi perlambang Islam bagi seseorang saat dilahirkan ke alam dunia. Hal yang sama dianjurkan pula agar yang bersangkutan dituntun untuk mengucapkan kalimat tauhid ini saat sedang meregang nyawa meninggalkan dunia yang fana ini.  Tidaklah aneh bila pengaruh adzan dapat menembus kalbu sang bayi dan mempengaruhinya meskipun perasaan bayi yang bersangkutan masih belum dapat menyadarinya. &lt;br /&gt; Sudah kita maklumi semua bahwa setan akan lari terbirit-terbirit manakala mendengar suara adzan. Karenanya, setan yang berupaya mengganggunya agar tidak mendengar kalimat adzan tersebut. Perlakuan ini menerangkan bahwa Nabi saw., sangat perduli terhadap akidah tauhid yang harus ditanamkan sejak dini dalam jiwa sang anak dan sekaligus untuk mengusir setan yang selalu berupaya mengganggu sang bayi sejak lahir dan memulai kehidupan barunya di dunia.&lt;br /&gt; Hal ini memang sudah ditegaskan oleh Nabi saw., sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, yaitu:&lt;br /&gt; ‏عَنْ ‏ ‏أَبِي هُرَيْرَةَ ‏ ‏أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ إِلَّا ‏ ‏ابْنَ مَرْيَمَ ‏ ‏وَأُمَّهُ &lt;br /&gt;2. Tahnik (Mengolesi langit-langit mulut)&lt;br /&gt;Termasuk sunnah yang seyogianya dilakukan pada saat menerima kelahiran bayi adalah tahnik, yaitu melembutkan sebutir korma dengan dikunyah atau menghaluskannya dengan cara yang sesuai lalu dioleskan di langit-langit mulut bayi. Caranya,dengan menaruh sebagian korma yang sudah lembut di ujung jari lain dimasukkan ke dalam mulut bayi dan digerakkan dengan lembut ke kanan dan ke kiri sampai merata. Jika tidak ada korma, maka diolesi dengan sesuatu yang manis (seperti madu atau gula). Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Musa menuturkan:&lt;br /&gt;‏‏وُلِدَ لِي غُلَامٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏فَسَمَّاهُ ‏ ‏إِبْرَاهِيمَ ‏ ‏فَحَنَّكَهُ ‏ ‏بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ وَدَفَعَهُ إِلَيَّ  ‏&lt;br /&gt;Tahnik mempunyai pengaruh kesehatan sebagaimana dikatakan para dokter. Dr. Faruq Masahil dalam tulisan beliau yang dimuat majalah Al Ummah, Qatar, edisi 50, menyebutkan: "Tahnik dengan ukuran apapun merupakan mu'jizat Nabi dalam bidang kedokteran selama empat belas abad, agar umat manusia mengenal tujuan dan hikmah di baliknya. Para dokter telah membuktikan bahwa semua anak kecil (terutama yang baru lahir dan menyusu) terancam kematian, kalau terjadi salah satu dari dua hal:&lt;br /&gt;a. Jika kekurangan jumlah gula dalam darah (karena kelaparan).&lt;br /&gt;b. Jika suhu badannya menurun ketika kena udara dingin di sekelilingnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memberi Nama&lt;br /&gt;Termasuk hak seorang anak terhadap orangtua adalah memberi nama yang baik. Hadis Nabi saw., yang diriwayatkan oleh Muslim, yaitu:&lt;br /&gt;‏ ‏عَنْ ‏ ‏ابْنِ عُمَرَ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ  ‏&lt;br /&gt;Pemberian nama merupakan hak bapak.Tetapi boleh baginya menyerahkan hal itu kepada ibu. Boleh juga diserahkan kepada kakek, nenek,atau selain mereka. Rasulullah merasa optimis dengan nama-nama yang baik.  &lt;br /&gt;Dan nabi juga melarang memberikan nama-nama yang kurang bagus, sebagaimana sabda beliau, yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Umar bin Khatab, yaitu:&lt;br /&gt;‏عَنْ ‏ ‏عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ‏ ‏قَالَ ‏قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏لَئِنْ عِشْتُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنْهَيَنَّ أَنْ يُسَمَّى ‏ ‏رَبَاحٌ ‏ ‏وَنَجِيحٌ ‏ ‏وَأَفْلَحُ ‏ ‏وَنَافِعٌ ‏ ‏وَيَسَارٌ  ‏&lt;br /&gt;Sehubungan dengan dengan hal ini bahwa sesungguhnya Rasulullah saw., telah menjelaskan makna yang dimaksud dan penyebab pemberian nama yang baik, yaitu karena untuk memberikan berkah kepada mereka.&lt;br /&gt;4. Aqiqah&lt;br /&gt;Yaitu kambing yang disembelih untuk bayi pada hari ketujuh dari kelahirannya. berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, yaitu:&lt;br /&gt;‏عَنْ ‏ ‏سَمُرَةَ ‏عَنْ النَّبِيِّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏كُلُّ غُلَامٍ ‏ ‏مُرْتَهَنٌ ‏ ‏بِعَقِيقَتِهِ ‏ ‏تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى  ‏&lt;br /&gt;‏عَنْ ‏ ‏سِبَاعِ بْنِ ثَابِتٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أُمِّ كُرْزٍ ‏ ‏قَالَتْ ‏سَمِعْتُ النَّبِيَّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏يَقُولُ ‏ ‏عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ ‏ ‏مُتَكَافِئَتَانِ ‏ ‏وَعَنْ ‏ ‏الْجَارِيَةِ ‏ ‏شَاةٌ &lt;br /&gt;Aqiqah merupakah sunnah yang dianjurkan. Demikian menurut pendapat yang kuat dari para ulama. Adapun waktu penyembelihannya yaitu hari ketujuh dari kelahiran. Namun, jika tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh boleh dilaksanakan kapan saja, Wallahu A'lam. Ketentuan kambing yang bisa untuk aqiqah sama dengan yang ditentukan untuk kurban. Dari jenis domba berumur tidak kurang dari 6 bulan, sedang dari jenis kambing kacang berumur tidak kurang dari 1 tahun, dan harus bebas dari cacat.&lt;br /&gt;5. Khitan&lt;br /&gt;Yaitu memotong kulup atau bagian kulit sekitar kepala zakar pada anak laki-laki, atau bagian kulit yang menonjol di atas pintu vagina pada anak perempuan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah saw., bersabda: &lt;br /&gt;‏الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ ‏ ‏خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ ‏ ‏الْخِتَانُ ‏ ‏وَالِاسْتِحْدَادُ ‏ ‏وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ ‏ )رواه مسلم( &lt;br /&gt;Khitan wajib hukumnya bagi kaum pria, dan rnustahab (dianjurkan) bagi kaum wanita. Meskipun lazimnya anak dikhitan pada umur di atas 5 tahun, namun ada sebagian orang yang melakukannya pada saat usia anak 7 hari, atau lebih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mengajarkan Kalimat Tauhid Ketika Anak Sudah Mulai Bisa Berbicara&lt;br /&gt;          Secara fisik anak usia 3 tahun sudah mampu melakukan gerakan-gerakan motorik yang sederhana. Seperti berdiri dalam keadaan siap, berdiri dengan 1 kaki selama 30 detik, melompat-lompat seperti katak, naik dan turun tangga, mengayunkan lengan secara berulang-ulang, melambungkan bola dan menendang bola dalam keadaan diam. Perkembangan motorik halusnya antara lain bisa meniru gerak gerik tangan, memegang pensil, membuat sesuatu dengan benda yang lunak (plastisin), membalik halaman buku satu persatu, menarik garis datar dan tegak, melipat, dan menggunting mengikuti garis lurus. &lt;br /&gt;          Anak sampai usia 3 tahun juga sudah dapat menberikan informasi tentang dirinya (nama panggilan dan umur), menirukan kembali urutan kata (2 kata), mengikuti perintah sederhana, menyanyikan satu lagu, mengemukakan keinginan, mengungkapkan rasa, menyebutkan bilangan , dan senang mendengarkan orang bercerita. Anak juga sudah mulai mandiri, tidak tergantung sepenuhnya pada orang tua. Bisa makan dan minum sendiri, membuka dan menutup pintu, membuka celana dan baju, mencuci tangan sendiri dan buang air sendiri. Perkembangan kognitifnya antara lain bisa menyebutkan 4 warna, membedakan ukuran benda besar dan kecil, mengetahui bentuk lingkaran, segitiga dan segi empat. Anak juga akan terus bertanya dengan menggunakan kata “apa”. &lt;br /&gt;         Sekalipun belum fasih mengucapkannya, anak usia 3 tahun sudah dapat melafadzkan doa dan hadits, melafadzkan dan hafal kalimat-kalimat thoyyibah. Anak juga mulai dapat mengenal dan mau melakukan gerakan wudlu dan shalat sekalipun belum berurutan.&lt;br /&gt;Ibnu Abbas ra., menceritakan bahwa Rasulullah saw., bersabda: &lt;br /&gt;إفتحوا على صبيانكم أول كلمة لا اله إلا الله و لقنوهم عند الموت لا اله إلا الله) رواه البيهقى) &lt;br /&gt;Tujuan dari memperdengarkan dan mengajarkan kalimat tauhid ini agar pertama kali yang didengar anak yang baru lahir adalah kalimat tauhid. Jadikan suara yang didengar pertama oleh mereka adalah pengetahuan tentang Allah, keesaanNya.  Mengajarkan kalimat tauhid sejak dini juga dilakukan dengan  memperdengarkan adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri. Abu Daud meriwayatkan sebuah hadis Rasulullah saw., yang berkaitan dengan hal ini, yaitu: &lt;br /&gt;عَنْ ‏ ‏عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَبِيهِ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏أَذَّنَ فِي أُذُنِ ‏ ‏الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ ‏ ‏حِينَ وَلَدَتْهُ ‏ ‏فَاطِمَةُ ‏ ‏بِالصَّلَاةِ(رواه أبو داود)  ‏&lt;br /&gt; Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah membuat hati anak selalu berhubungan dengan Allah swt. Karena pahala yang paling besar adalah menanamkan prinsip-prinsip tauhid dalam hati anak. Prinsip-prinsip tersebut antara lain: iman, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, taat kepada keduanya, serta takut kepada siksaan Allah dan mengharap pahala dari-Nya. &lt;br /&gt;7. Mengenalkan dan Menanamkan Cinta Pada Allah&lt;br /&gt;‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ ‏ ‏يُقْذَفَ ‏ ‏فِي النَّار(رواه المسلم) &lt;br /&gt; Kalau ada waktu senggang, atau bisa dijadwalkan bawa anak untuk rekreasi ke gunung, ke danau, ke pantai atau sejenisnya dan kenalkan bahwa yang menciptakan gunung ini adalah Allah, yang menciptakan langit adalah Allah, yang menciptakan bumi adalah Allah. Dengan begitu jiwa anak akan terpaut dengan Allah. Hal demikian sesuai dengan hadist Nabi saw., yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yaitu: &lt;br /&gt;‏عَنْ ‏ ‏أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ‏ ‏.... قَالَ فَمَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ قَالَ اللَّهُ قَالَ فَمَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ قَالَ اللَّهُ قَالَ فَمَنْ نَصَبَ هَذِهِ الْجِبَالَ وَجَعَلَ فِيهَا مَا جَعَلَ قَالَ اللَّهُ  ... (رواه المسلم) &lt;br /&gt;Masa balita dan usia sekolah adalah masa-masa peka bagi anak dalam menerima dan mencerna informasi. Kemampuan anak mengolah informasi pada masa ini didukung oleh pertumbuhan organ tubuh yang pesat, khususnya organ otak.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu semakin sering diasah dan diberi masukan yang disertai dengan contoh nyata dan suri tauladan, semakin tajam dan mudah pula informasi dicerna anak. Pada akhirnya, apa yang disampaikan orang tua akan dapat diingat anak sepanjang hayatnya.&lt;br /&gt;Orang tua yang bijaksana tentu tidak akan melewatkan begitu saja masa-masa peka yang berharga ini, dan berusaha mengisinya dengan informasi yang bermanfaat. Agar anak mencintai Islam dan bangga dengan jati dirinya sebagai muslim/muslimah, ada dua hal mendasar yang perlu diperkenalkan kepada mereka, yang pertama dan terutama adalah mengenal Allah swt., dan diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;Untuk mengenalkan Allah swt pada anak, berikut di bawah ini merupakan langkah-langkah yang perlu kita lakukan, yaitu:&lt;br /&gt;a. Menjelaskan kepada anak bahwa Tuhan yang menciptakan kita bernama Allah swt. Allah swt., memerintahkan kepada nabi Muhammad saw., untuk menyebarkan agama Islam di dunia. Kita (ayah, ibu dan anak) beragama Islam. Jadi kita akan disayang Allah swt., karena memeluk agama Islam, agama yang disukai Allah swt.&lt;br /&gt;b. Menceritakan kepada anak bahwa Allah swt., Maha Pandai. Allah swt., pandai menciptakan apa saja. Allah swt., dapat membuat orang; ayah, ibu dan anak, tumbuh-tumbuhan, bunga, pohon dan lain-lain. Allah swt., lah yang menciptakan berbagai jenis hewan, bulan, bintang, matahari. Allah swt., memberi mata untuk melihat, telinga untuk mendengar. Karena itu ucapkanlah Alhamdulillah. Dan bila melihat hasil ciptaan Allah swt., yang indah, bagus dan cantik ucapkanlah Subhanallaah.&lt;br /&gt;c. Membiasakan anak mendengarkan/memperdengarkan suara adzan dan dilanjutkan dengan berlatih untuk berwudhu serta mengajaknya shalat berjamaah.&lt;br /&gt;d. Mengajar anak menghafalkan berbagai doa. Misalnya doa mau makan, selesai makan, mau tidur, bangun tidur, doa untuk orang tua, dan lain-lain. Menjelaskan kepada anak bahwa kita hanya berdoa kepada Allah swt., meminta apa saja hanya kepadaNya, karena hanya Allah swt., lah Yang Maha Kaya dan Maha Penolong.&lt;br /&gt;e. Mengenalkan Allah pada anak usia di bawah 3 tahun juga dapat dilakukan dengan terus menerus melafadzkan kalimat thoyyibah. Seperti mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar disertai dengan aktivitas yang dilakukan sehingga anak bisa menyambungkan bacaan dan aktivitasnya. Misalnya Alhamdulillah diucapkan sebagai wujud rasa syukur ketika selesai melakukan aktivitas tertentu. Subhanallah dilafadzkan jika melihat ciptaan Allah  dan sebagainya. Selain itu anak juga mulai dapat dikenalkan Allah melalui ciptaan-Nya. Anak-anak seusia ini sangat senang dengan binatang. Anak bisa kita ajak ke kebun binatang, mendengarkan suara-suara binatang, bernyanyi dan lain-lain. Tentang siapa Allah, ajarkan Surat Al-Ikhlas dengan artinya, dan juga lagu-lagu yang syairnya dapat mengenalkan anak pada Allah swt.&lt;br /&gt;Hadis Nabi yang berkenaan dengan hal ini diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, yaitu:&lt;br /&gt;عَنْ ‏ ‏أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ ‏ ‏قَالَ ‏قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏الْوُضُوءُ ‏ ‏شَطْرُ ‏ ‏الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآَنِ ‏ ‏أَوْ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ‏ ‏وَالصَّلَاةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ ‏ ‏بُرْهَانٌ ‏ ‏وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ  ‏ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Menanamkan cinta kepada Rasul&lt;br /&gt;Muslim meriwayatkan sebuah hadis Nabi saw., yang berkenaan dengan hal ini yaitu: &lt;br /&gt;‏عَنْ ‏ ‏أَنَسٍ ‏ ‏قَالَ ‏قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ ‏) ‏وَفِي حَدِيثِ ‏ ‏عَبْدِ الْوَارِثِ ‏ ‏الرَّجُلُ( ‏ ‏حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ‏ &lt;br /&gt;Para sahabat dan ulama salaf sangat suka menceritakan sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw., terhadap anak-anak mereka, dengan diselingi materi pelajaran Alquran. Pemahaman terhadap sejarah kehidupan Nabi diyakini akan memberikan pengaruh kepada pendidikan dan perkembangan jiwa anak. Karena pemahaman yang baik terhadap kepribadian Nabi saw., secara tidak disadari akan menumbuhkan rasa cinta  anak terhadap pribadi beliau. Beliau akan dijadikan sebagai tokoh pujaan yang pada akhirnya anak akan berusaha meniru apa yang beliau telah lakukan selama hidupnya. Langkah semacam ini secara perlahan akan membentuk pribadi anak tidak lepas dari patokan agama, mampu memahai makna cinta yang sebenarnya terhadap beliau, serta memiliki semangat jihad yang tinggi dalam rangka menyelamatkan umat manusia dari lingkungan yang penuh dengan kesesatan menuju lingkungan yang baik, dari dunia yang penuh dengan kebatilan menuju dunia yang penuh dengan kebenaran, dan dari lingkungan yang penuh kebodohan menuju cahaya Islam yang gemilang. &lt;br /&gt;Kita tentu tidak akan pernah mampu memperoleh kepercayaan dan kaitan dari mereka kecuali jika kita telah mampu memberikan kepada mereka contoh teladan yang tinggi dan nilai-nilai yang sudah barang tentu jauh dari berbagai kesalahan dan kekhilafan. Sebaliknya, ia merupakan sosok yang cukup sempurna dan terpelihara dari kesalahan dan kekhilafan tersebut. Sosok tersebut adalah Rasulullah saw., sebagai panutan dan teladan terbaik umat Islam semuanya. Kita mengambil contoh dari petunjuk dan akhlak yang dibawa oleh beliau yang mulia. Firman Allah surat Al-Ahzab ayat 21:&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;Kisah teladan yang ada pada diri Rasulullah saw., tersebut bisa kita ajarkan dan contohkan kepada anak-anak kita, yang dibawanya dalam sikap dan kehidupan sehari-hari. Kemudian apabila anak tertarik akan cerita itu, maka ceritakanlah berulang-ulang kepadanya, sehingga dia menjadikan Rasulullah saw., sebagai idolanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Mengajarkan Alquran&lt;br /&gt;Dimulai dengan surat Al-Fatihah dan surat-surat yang pendek serta doa tahiyat untuk shalat dan menyediakan guru khusus bagi mereka yang mengajari tajwid, menghapal Alquran serta hadits. Begitu pula dengan doa dan dzikir sehari-hari. Hendaknya mereka mulai menghapalkannya, seperti doa ketika makan, keluar masuk WC dan lain-lain. &lt;br /&gt;Mengajarkan Alquran kepada anak berarti mengajak anak untuk dekat kepada pedoman hidupnya. Dengan cara itu, mudah-mudahan  kelak ketika dewasa anak-anak benar-benar dapat menjalani hidup sesuai dengan Alquran. Inilah satu-satunya jalan untuk membentuk menjadi manusia yang shaleh. Mengajarkan Alquran pada anak 0 sampai 3 tahun dapat dilakukan dengan mulai mengenalkan, memperdengarkan, dan menghafalkan. Tak heran bila Rasulullah mengingatkan kita untuk mendidik anak dengan Alquran. Firman Allah dalam surah Al-Isra ayat 9, yang berbunyi:&lt;br /&gt;•            •       &lt;br /&gt;Cara mengajarkannya bukan seperti mengajarkan kepada anak yang telah bisa mengaji, namun sesuai dengan kondisi umurnya saat itu, yaitu dengan cara:&lt;br /&gt;a. Mengenalkan Alquran &lt;br /&gt;Saat yang paling tepat mengenalkan Alquran adalah ketika anak sudah mulai tertarik dengan buku. Anak usia 2 sampai 3 tahun biasanya sudah mulai tertarik dengan buku. Hal ini penting, karena banyak orang tua yang lebih suka menyimpan Alquran di rak lemari paling atas. Sesekali perlihatkanlah Alquran kepada anak sebelum mereka mengenal buku-buku lain, apalagi buku dengan gambar-gambar yang lebih menarik. Mengenalkan Alquran juga bisa dilakukan dengan mengenalkan terlebih dulu huruf-huruf hijaiyyah. Bukan mengajarinya membaca, tetapi sekedar memperlihatkannya sebelum anak mengenal A, B, C, D. Tempelkan gambar-gambar tersebut ditempat yang sering dilihat anak.Tentu dilengkapi dengan gambar dan warna yang menarik. Dengan sering melihat, akan memancing anak untuk bertanya lebih lanjut. Saat itulah kita boleh memperkenalkan huruf-huruf Alquran. &lt;br /&gt;b. Memperdengarkan &lt;br /&gt;Memperdengarkan ayat-ayat Alquran bisa dilakukan secara langsung atau dengan memutar kaset atau CD. Kalau ada teori yang mengatakan bahwa mendengarkan musik klasik pada janin dalam kandungan akan meningkatkan kecerdasan, Insya Allah memperdengarkan Alquran akan jauh lebih baik pengaruhnya buat bayi. Apalagi jika ibu yang membacanya sendiri. Ketika membaca Alquran, suasana hati dan pikiran ibu akan menjadi lebih khusyu’ dan tenang. Kondisi seperti ini, akan sangat membantu perkembangan psikologis janin yang ada  dalam kandungan karena secara teoritis, kondisi psikologis ibu tentu akan sangat berpengaruh pada perkembangan bayi khususnya perkembangan psikologisnya. Ibu yang sering mengalami stress, tentu akan berpengaruh buruk pada kandungannya. &lt;br /&gt;Memperdengarkan Alquran bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Juga tidak mengenal batas usia anak. Untuk anak-anak yang belum bisa bicara, Insya Allah lantunan ayat Alquran itu akan terekam dalam memorinya. Dan jangan heran kalau tiba-tiba si kecil lancar melafadzkan surat al-Fatihah, misalnya begitu dia bisa bicara. Untuk anak yang lebih besar, memperdengarkan ayat-ayat Alquran (surat-surat pendek) terbukti memudahkan anak menghafalkannya. &lt;br /&gt;c. Menghafalkan &lt;br /&gt;Menghafalkan Alquran bisa dimulai sejak anak lancar berbicara. Mulailah dengan surat atau ayat yang pendek. Atau potongan lafadz dari sebuah ayat (misalnya fastabiqul khayrat, hudallinnas, birrulwalidayn dan sebagainya). Menghafal bisa dilakukan dengan cara sering-sering membacakan ayat-ayat tersebut kepada anak, dan latihlah anak untuk menirukannya. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai anak hafal di luar kepala. Masa anak-anak adalah masa meniru dan memiliki daya ingat yang luar biasa. Orang tua harus menggunakan kesempatan ini dengan baik, jika tidak ingin menyesal kehilangan masa emas (golden age) pada anak. Menghafal bisa dilakukan kapan saja. Usahakan di saat  anak merasa nyaman. Walau demikian, hendaknya orang tua tetap mempunyai target baik tentang ayat, atau jumlah yang akan dihafal anak.&lt;br /&gt;Dalam mengajarkan Alquran, para orang tua, juru dakwah dan para pendidik hendaknya mendasarkan pengajaranya kepada Alquran dan hadits yang berisi petunjuk-petunjuk penting Rasulullah saw. Sebab yang akan diajarkan adalah firman Ilahi yang merupakan ”undang-undang” dan pedoman hidup umat manusia. Kitab yang tidak menyimpan sedikitpun kebatilan. Kitab yang mendapat jaminan keutuhan langsung dari Dzat yang menurunkanya; Allah swt. Kita juga patut berterima kasih kepada Allah yang telah menurunkan Alquran dengan bahasa Arab. Kitab yang mengandung syariat Islam serta petunjuk halal haram dan bebas dari segala macam penyimpangan, perubahan atau bahkan penggantian dengan kalimat-kalimat lain, sekalipun memiliki makna yang sama. Karena Alquran berada dibawah pengawasan dan penjagaan langsung Allah swt.&lt;br /&gt;Orang-orang terdahulu (salaf-al-ummah) banyak yang telah melaksanakan pendidikan Alquran ini untuk anak-anaknya, dan sering dilaksanakan di masjid-masjid. Out put dari modal pendidikan ini cukup mengagumkan. Mereka tumbuh menjadi suatu generasi yang sangat gigih mempertahankan dan menyebarkan Islam diberbagai penjuru dunia. Sejarah banyak mencatat keberhasilan mereka. Mereka yang menjadi ”singa” di siang hari, tetapi di malam hari mereka tetap ruku’ dan sujud dengan penuh kekhusyukan. Ini semua karena mereka telah ”menghirup” air yang memancarkan dari mata air Alquran.&lt;br /&gt;Dengan mempelajarinya, berarti mereka telah mempelajari ilmu pengetahuan sekaligus mempraktekkanya. Ketika Alquran sudah bersemayam di kedalaman hati mereka, dada mereka akan menjadi lapang dan tidak mudah stress, bahasa mereka lancar dan pintu-pintu samudera ilmu pengetahuan terbuka lebar untuk mereka. Mengapa orang-orang terdahulu (salaf) ini begitu antusias melaksanakan tugas pengajaran Alquran? Jawabanya jelas. Karena, pertama, Alquran adalah firman Ilahi. Kedua, Rasulullah mengajarkan mereka selalu mendorong agar mempelajari Alquran untuk kemudian di ajarkan kepada orang lain. Ketiga, karena pemberian orang tua kepada anak yang memiliki nilai tinggi adalah mengajarkan Alquran. Hal ini karena di dalam Alquran terdapat ajaran budi pekerti, tata krama, akhlak, seluruh jenis keutamaan, hikmah serta sejarah hidup umat terdahulu sejak dari nabi Adam As. Di dalamnya juga terdapat pesan-pesan para Rasul bahwa Allah swt., yang tidak menginginkan ada di antara hamba-hamba-Nya yang kufur. &lt;br /&gt;Dengan mengajarkan Alquran kepada anak-anak, berarti kita telah memulai pendidikan yang benar dan sesungguhnya. Sebab dengan begitu, berarti kita telah mengajarkan hal-hal yang telah diwajibkan oleh Allah, seperti ibadah serta kewajiban-kewajiban lain. Di samping itu, berarti kita telah memulai mengikat mereka dengan kitab Allah serta mendidik mereka untuk mengagungkan Alquran untuk kemudian melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala laranganyang tertuang di dalamnya.&lt;br /&gt;10. Mendidik Untuk Berpegang Teguh Pada Akidah dan Rela Berkorban&lt;br /&gt;Al-Ghazali menceritakan kisah Sahl bin Abdullah al-Tusturi yang ketika berumur tiga tahun bangun malam dan melihat pamannya yang bernama Muhammad bin Siwar. Sang paman bertanya kepadanya: “Bukankah kamu ingat kepada Allah yang menciptakanmu?” Sahl bertanya kepadanya: “Bagaimana cara saya mengingat-Nya?”. Sang paman berkata: “Katakanlah dalam hatimu ketika kamu bolak-balik di dalam pakaianmu, tiga kali dengan tanpa menggerakkan lidahmu:&lt;br /&gt;الله معى الله نــاظر الي الله شاهدى&lt;br /&gt; Maka doa tersebut selalu dibaca selama beberapa malam dengan bilangan, 3 kemudian 7, 11 kali setiap malam. Hingga setahun, hingga sang paman berpesan jagalah apa yang sudah saya ajarkan kepadamu, lakukan secara terus menerus sampai kamu masuk kubur, karena doa itu bermanfaat bagimu dunia dan akhirat.  Hal tersebut dilakukan bertahun-tahun dan di dalam hati Sahl terasa mendapatkan kemanisannya. Pamannya mengatakan kepada Sahal: “Wahai Sahl, barang siapa yang Allah bersamanya, Allah memandang kepadanya dan Allah selalu menyaksikannya, adakah ia masih berbuat  maksiat kepada-Nya? &lt;br /&gt;Rasulullah saw., sendiri telah memberikan contoh penanaman aqidah yang kokoh ini ketika beliau mengajari anak paman beliau, Abdullah bin Abbas ra.,  dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dengan sanad yang hasan. Ibnu Abbas bercerita yang artinya: &lt;br /&gt;“Pada suatu hari aku pernah berboncengan di belakang Nabi (di atas kendaraan), beliau berkata kepadaku: “Wahai anak, aku akan mengajari engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia) berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat kepadamu, tidak akan bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan bermanfaat bagimu). Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia) berkumpul untuk mencelakakan kamu, tidak akan mampu mencelakakanmu sedikitpun, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan sampai dan mencelakakanmu). Pena telah diangkat, dan telah kering lembaran-lembaran”. &lt;br /&gt;Perkara-perkara yang diajarkan oleh Rasulllah saw., kepada Ibnu Abbas ra., di atas adalah perkara tauhid.&lt;br /&gt;Termasuk aqidah yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini adalah tentang di mana Allah berada. Ini sangat penting, karena banyak kaum muslimin yang salah dalam perkara ini. Sebagian mengatakan bahwa Allah ada di mana-mana. Sebagian lagi mengatakan bahwa Allah ada di hati kita, dan beragam pendapat lainnya. Padahal dalil-dalil menunjukkan bahwa Allah itu berada di atas arsy, yaitu di atas langit. Dalilnya antara lain, firman Allah dalam surah Thaha ayat 5 yang berbunyi: &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Makna istiwa adalah tinggi dan meninggi sebagaimana di dalam riwayat Al-Bukhari dari tabi’in. &lt;br /&gt;Adapun dari hadits, Rasulullah saw., bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitabnya Muwatta, bahwa:&lt;br /&gt;عن عمر بن الحكم...  فقال لها رسول الله صلى الله عليه وسلم أين الله فَقَالَتْ فِي السَّمَاءِ فَقَالَ مَنْ أَنَا فَقَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْتِقْهَا  &lt;br /&gt; Rasulullah pernah bertanya kepada seorang budak wanita, “Dimana Allah?”. Budak tersebut menjawab, “Allah di langit”. Beliau bertanya pula, “Siapa aku?” budak itu menjawab, “Engkau Rasulullah”. Rasulllah kemudian bersabda, “Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia adalah wanita mu’minah”. &lt;br /&gt;Aqidah yang tumbuh dan tertanam dalam jiwa anak merupakan sesuatu yang sangat penting sebagai salah satu pijakan dan pedoman hidup dalam menata masa depan yang berarti dan secara tidak langsung berdampak positif bagi kelangsungan hidup masyarakat. Karena itu penanaman aqidah pada anak sejak dini merupakan sarana pendidikan yang efektif bagi pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak. Dan diakui bahwa aqidah yang tertanam dalam jiwa anak akan semakin kokoh apabila anak bersangkutan memiliki nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan dalam dirinya untuk membela aqidah yang diyakini kebenarannya, bahkan tidak peduli terhadap resiko yang mengancam dirinya. Semakin kuat nilai perjuangan dan pengorbanan seseorang akan semakin kokoh pula aqidah yang dimiliki. &lt;br /&gt;Ceritakan kisah anak-anak para sahabat yang sangat antusias mempelajari ajaran Islam, bahkan tidak sedikit yang berani berkurban untuk menegakkan dan mengharumkan kalimat Allah. Imam Ahmad dan Bukhari mengeluarkan sebuah hadits yang bersumber dari Anas Bin Malik r.a yang menceritakan bahwa Haritsah Bin Ar-Rabi’ r.a ikut dalam perang Badar, padahal dia masih kecil. &lt;br /&gt;11. Mengenalkan dan Mengajaknya Sholat&lt;br /&gt;Firman Allah dalam Alquran surah Thaha ayat 132 yang berbunyi:&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Firman Allah dalam surah Luqman ayat 17, yang berbunyi:&lt;br /&gt;             •    &lt;br /&gt;Dalam surah al-Tahriim ayat 6, Allah berfirman:&lt;br /&gt;        ••    &lt;br /&gt;Salah satu tanggung jawab orang tua yang harus diperhatikan adalah mendidik anak untuk mengikuti pendidikan-pendidikan yang diberikan oleh orang tua, sehingga tidak menjadi suatu kebiasaan asing bagi anak. Hal ini dimulai dari sejak pagi hari hingga pagi hari lagi. Ketika memulai kehidupan pagi orang tua membiasakan mengucapkan dzikir setelah bangun tidur, dan mengajarkan kepada anak tentang apa yang diucapkannya. Kemudian bila masuk ke kamar kecil, orang tua mengamalkan etika tata cara masuk kamar kecil menurut Islam, dan menerangkan dan membimbing anak untuk melakukan hal yang sama dengan dirinya. Setelah itu orang tua berwudhu bersama anak, orang tua menjelaskan keutamaan wudhu, bahwa wudhu bisa melebur dosa-dosa, juga mengajarkan kepada mereka tentang tata cara berwudhu, sunah, rukun dan kemakruhan dalam wudhu. Setelah itu, orang tua mengajarkan kepada anaknya untuk mengerjakan shalat sunat dua rakaat setelah wudhu. Orang tua mengajarkan kepada anak-anak doa setelah adzan. Menjelaskan tentang keutamaan shalat berjamaah di mesjid, membiasakan membawa mereka ke mesjid (bila telah memungkinkan), kemudian mengajarinya untuk membaca tasbih, tahmid, takbir, dan doa setelah shalat, setelah itu mengajarkan dan mengajaknya bersama-bersama untuk melakukan dzikir pagi, kemudian mengajarinya dan mengajaknya membaca Alquran meski sedikit. Selanjutnya orang tua dan anak bersantap pagi bersama, di sini orang tua mengajarkan etika makan secara Islami dalam hal makan dan minum, sopan santun harus diajarkan sejak dini agar mereka terbiasa beradab ketika makan dan minum. Orang tua mengajarkan kepadanya adab keluar rumah, bila memakai sandal ajarkan untuk mendahulukan yang kanan dan bila melepas mendahulukan kaki kiri. Kemudian orang tua mengajarkan kepada anak adab dijalan diantaranya: berjalan dengan rasa rendah hati, berhati-hati terhadap kendaraan, tidak membuang benda-benda yang dapat membahayakan orang lain di jalan, bila melihat sesuatu yang membahayakan di jalan dia harus menyingkirkannya. Ketika sore hari orang tua mengajaknya untuk shalat berjamaah di mesjid, memakai pakaian putih atau hijau yang rapi ketika pergi ke mesjid, membiasakan masuk masjid dengan tenang, mendahulukan kaki kanan ketika masuk mesjid dan kaki kiri ketika keluar dari mesjid, membaca doa ketika masuk mesjid, shalat dua rakaat sebelum duduk di masjid, setelah menunaikan shalat jamaah tidak berdiri sebelum membaca dzikir dan wirid. Mengajarkan kepada anak wirid sebelum tidur dan memasang niat yang benar sebelum tidur.&lt;br /&gt;Hendaknya sejak kecil putra-putri kita diajarkan bagaimana beribadah dengan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mulai dari tatacara bersuci, shalat, puasa serta beragam ibadah lainnya.Rasulullah saw., bersabda:&lt;br /&gt;مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ (رواه ابو داود عن ابن عمرو بن العاص) &lt;br /&gt;Dalam hal ini, karena anak belum sampai umur 7 tahun sebagaimana dalam hadits tersebut di atas, maka dalam umur balita ini maka orang tua hanya mengenalkan dan mencontohkannya, dan bila anaknya telah mampu membaca dan menghafal Alfatihah dan dzikir-dzikir dalam sholat maka tidak ada salahnya orang tua mengajarkannya. Sebagaimana Sayyid Muhammad Husein yang telah hafal Juz Amma secara autodidak pada umur 2 tahun 10 bulan, dan hafal Alquran secara penuh pada umur 5 tahun.&lt;br /&gt;Bila mereka telah bisa menjaga ketertiban dalam shalat, maka ajak pula mereka untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid. Dengan melatih mereka dari dini, insya Allah ketika dewasa, mereka sudah terbiasa dengan ibadah-ibadah tersebut.&lt;br /&gt;12. Mengajarkan Adab dan Akhlak Kepada Anak&lt;br /&gt;Menurut Hurlock sebagaiamana dikutip oleh M. Arifin, mengatakan bahwa akhlak anak berkembang setingkat demi setingkat ditentukan oleh 2 faktor yakni faktor kebiasaan atau pembiasaan dan faktor kesadaran berakhlak. &lt;br /&gt;Ajarilah anak dengan berbagai adab Islami seperti makan dengan tangan kanan, mengucapkan basmalah sebelum makan, menjaga kebersihan, mengucapkan salam, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Begitu pula dengan akhlak. Tanamkan kepada mereka akhlaq-akhlaq mulia seperti berkata dan bersikap jujur, berbakti kepada orang tua, dermawan, menghormati yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda, serta beragam akhlaq lainnya.&lt;br /&gt;Contoh yang konkret adalah mem¬baca basmalah ketika hendak makan, bila lupa, dan ingat dipertengahan makan  hendaknya membaca bismillahi awaluhu wa akhirahu.&lt;br /&gt;Anak hendaknya diajari dan dibiasakan untuk membaca basmalah setiap kali hendak makan atau minum, sebagaimana sabda Nabi saw., yang berbunyi: &lt;br /&gt;اذا أكل احدكم فليذكر اسم الله تعالى.... (رواه ابو داود عن عـائشة) &lt;br /&gt;Al-Munajjid menukil riwayat dari Jarhad bahwa Rasulullah saw., pernah lewat di hadapannya, sementara ia sedang tersingkap pahanya, maka Rasulullah saw., bersabda: “Tutuplah pahamu, karena itu (paha) termasuk aurat.”  &lt;br /&gt; Ketika orang tua menemui anaknya makan dengan menggunakan tangan kiri, maka ia harus segera menegurnya, dengan mengatakan bahwa Rasulullah melarang makan dengan tangan kiri, dan menyunnahkan makan dengan tangan kanan. Bila banyak orang di sekelilingnya, maka ada baiknya bila dibisikkan di telinganya.&lt;br /&gt; Wajib bagi seorang muslim untuk makan dan minum dengan tangan kanannya, serta membiasakan anak-anaknya (termasuk anak) untuk melakukan hal-hal yang demikian.  Demikian juga dengan menguap, orang tua perlu memberikan teguran kepada anaknya bila melakukan penyimpangan menurut syar’i.&lt;br /&gt; Rasulullah saw., bersabda:&lt;br /&gt;‏‏إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ (رواه مسلم عن عبد الله بن عمر) &lt;br /&gt; Rasulullah saw., bersabda:&lt;br /&gt;اذا تثائب احدكم فليمسك بيده على فيه فان الشيطان يدخل (رواه مسلم عن أبى سعيد الخدرى ) &lt;br /&gt;Demikian adab dan akhlak yang bisa orang tua kenalkan dan ajarkan kepada anak, setelah terlebih dahulu bahwasanya orang tua menjadi teladan bagi anaknya. Jangan sampai, anak melihat kita makan dengan berdiri, makan dengan tangan kiri, atau menguap tanpa menutup mulut, karena anak akan menjadi bingung kenapa dia diajari dan disuruh untuk menutup mulut ketika menguap tetapi ayah atau ibunya tidak melakukan hal tersebut.&lt;br /&gt;Orang tua membiasakan untuk mengucapkan salam kepada sesama muslim, lebih-lebih ketika keluar atau masuk rumahnya. Dan sering-seringlah orang tua mengucapkan salam kepada anaknya, karena hal ini sesuai dengan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, yaitu:&lt;br /&gt;‏عَنْ ‏ ‏أَنَسٍ ‏ ‏قَالَ ‏أَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏وَنَحْنُ صِبْيَانٌ فَسَلَّمَ عَلَيْنَا  ‏&lt;br /&gt;Serta membiasakan untuk saling berjabat tangan dengan saudara yang muslim, serta tidak ada salahnya orang tua mencium tangan seorang ulama atau orang yang dituakan dalam hal ini, dan menyuruhnya juga untuk melakukannya. Hal ini untuk memberikan contoh kepada anak bahwa kita diharuskan selalu menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, yaitu:&lt;br /&gt;‏عَنْ ‏ ‏الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ ‏ ‏قَالَ: ‏قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا  ‏&lt;br /&gt;Hadis Nabi saw., yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, yaitu:&lt;br /&gt;‏عَنْ ‏ ‏ابْنِ عُمَرَ ‏ ‏قَالَ ‏قَبَّلْنَا يَدَ النَّبِيِّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ &lt;br /&gt;Bacakanlah kepada mereka kisah-kisah keberanian Nabi dan para sahabatnya dalam peperangan untuk menegakkan Islam agar mereka mengetahui bahwa beliau adalah sosok yang pemberani, dan sahabat-sahabat beliau seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali dan Muawiyah telah membebaskan negeri-negeri.&lt;br /&gt;Didiklah mereka agar berani beramar ma’ruf nahi munkar, dan hendaknya mereka tidaklah takut melainkan hanya kepada Allah. Dan tidak boleh menakut-nakuti mereka dengan cerita-cerita bohong, horor serta menakuti mereka dengan gelap.&lt;br /&gt;Hendaknya anak-anak dibiasakan menggunakan pakaian sesuai dengan jenis kelaminnya. Anak laki-laki menggunakan pakaian laki-laki dan anak perempuan menggunakan pakaian perempuan. Jauhkan anak-anak dari model-model pakaian barat yang tidak syar’i, bahkan ketat dan menunjukkan aurat.&lt;br /&gt;Untuk anak-anak perempuan, biasakanlah agar mereka mengenakan kerudung penutup kepala sehingga ketika dewasa mereka akan mudah untuk mengenakan jilbab yang syar’i. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Ahzab ayat 59, yang berbunyi:&lt;br /&gt; •                         &lt;br /&gt;Allah memerintahkan kepada kita orang tua khususnya suami untuk mendidik istri anak-anak, untuk selalu mengenakan pakaian yang islami. Hal ini juga sejalan dengan firman Allah dalam surah al-Tahriim ayat 6, dan bertujuan sebagaimana surat a-Dzariyat ayat 56. Dengan membiasakan anak untuk berpakaian secara syari sejak kecil, besar kemungkinan anak akan terbiasa dengan pakaian tersebut. Di sini lagi-lagi keteladanan orang tua dalam hal pakaian dituntut keras, agar anak tidak merasa digurui tapi gurunya sendiri tidak melakukan apa yang diajarkan kepadanya.&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mendidik anak. Hendaknya para orang tua dan pendidik bisa merealisasikannya dalam pendidikan mereka terhadap anak-anak. Dan hendaknya pula mereka ingat, untuk selalu bersabar, menasehati putra-putri Islam dengan lembut dan penuh kasih sayang. Jangan membentak atau mencela mereka, apalagi sampai mengumbar-umbar kesalahan mereka.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan rumah tangga tanpa disadari masing-masing merupakan aktor yang selalu dilihat dan dinilai oleh orang lain. Maka jadilah aktor atau model peran yang baik bagi anak-anak. Sekali-kali adakan forum untuk saling menyampaikan kesan dan penilaian yang satu kepada yang lain dalam suasana yang rileks, nyaman, tanpa tekanan. Bahkan masing-masing harus bisa yang lain. Jadilah orangtua sebagai pendengar yang baik bagi anakanaknya. Jika anak bicara jangan buru-buru dipotong lalu diceramahi. Dengarkan dan perhatikan dengan tatapan mata yang penuh antusias dan stimulatif agar anak terlatih mengutarakan pikiran dan emosinya dengan lancar, tertib, dan jernih. Ibarat sumur kalau sering ditimba maka airnya akan jernih.&lt;br /&gt;Secara garis besarnya, orang tua bisa mengenalkan mengajarkan dan meneladankan adab dan akhlak sebagaimana di bawah ini, meskipun tidak semuanya, dan diperhatikan usia anak untuk menerima pelajaran tersebut.&lt;br /&gt;a. Dibiasakan mengambil, memberi, makan dan minum dengan tangan kanan. Jika makan dengan tangan kiri, diperingatkan dan dipindahkan makanannya ke tangan kanannya secara halus.&lt;br /&gt;b. Dibiasakan mendahulukan bagian kanan dalam berpakaian. Ketika mengenakan kain, baju, atau lainnya memulai dari kanan; dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri.&lt;br /&gt;c. Dilarang tidur tertelungkup dandibiasakan •tidur dengan miring ke kanan.&lt;br /&gt;d. Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek, agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya.&lt;br /&gt;e. Dicegah menghisap jari dan menggigit kukunya.&lt;br /&gt;f. Dibiasakan sederhana dalam makan dan minum, dan dijauhkan dari sikap rakus.&lt;br /&gt;g. Dilarang bermain dengan hidungnya.&lt;br /&gt;h. Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak makan.&lt;br /&gt;i. Dibiasakan untuk mengambil makanan yang terdekat dan tidak memulai makan sebelum orang lain.&lt;br /&gt;j. Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun kepada orang yang makan.&lt;br /&gt;k. Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik.&lt;br /&gt;l. Dibiasakan memakan makanan yang ada dan tidak mengingini yang tidak ada.&lt;br /&gt;m. Dibiasakan kebersihan mulut denganmenggunakan siwak atau sikat gigi setelah makan, sebelum tidur, dan sehabis bangun tidur.&lt;br /&gt;n. Dididik untuk mendahulukan orang lain dalam makanan atau permainan yang disenangi, dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya, sanak familinya yang masih kecil, dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati sesuatu makanan atau permainan.&lt;br /&gt;o. Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali setiap hari.&lt;br /&gt;p. Dibiasakan membaca "Alhamdulillah" jika bersin, dan mengatakan "Yarhamukallah" kepada orang yang bersin jika membaca "Alhamdulillah".&lt;br /&gt;q. Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap, dan jangan sampai bersuara.&lt;br /&gt;r. Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan, sekalipun hanya sedikit.&lt;br /&gt;s. Tidak memanggil ibu dan bapak dengan namanya, tetapi dibiasakan memanggil dengan kata-kata: Ummi (Ibu), dan Abi (Bapak).&lt;br /&gt;t. Ketika berjalan jangan mendahului kedua orangtua atau siapa yang lebih tua darinya, dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati mereka.&lt;br /&gt;u. Dibiasakan bejalan kaki pada trotoar, bukan di tengah jalan.&lt;br /&gt;v. Tidak membuang sampah dijalanan, bahkan menjauhkan kotoran darinya.&lt;br /&gt;w. Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan mengatakan "Assalamu 'Alaikum" serta membalas salam orang yang mengucapkannya.&lt;br /&gt;x. Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik.&lt;br /&gt;y. Dibiasakan menuruti perintah orangtua atau siapa saja yang lebih besar darinya, jika disuruh sesuatu yang diperbolehkan.&lt;br /&gt;z. Bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran dengan suka rela, jika memungkinkan. Tapi kalau tidak, dipaksa untuk menerima kebenaran, karena hal  ini lebih baik daripada tetap membantah dan membandel.&lt;br /&gt;aa. Hendaknya kedua orangtua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti perintah dan menjauhi larangan. Bisa juga sekali-kali memberikan hadiah yang disenangi berupa makanan, mainan atau diajak jalan-jalan.&lt;br /&gt;bb. Tidak dilarang bermain selama masih aman, seperti bermain dengan pasir dan permainan yang diperbolehkan, sekalipun menyebabkan bajunya kotor. Karena permainan pada periode ini penting sekali untuk pembentukan jasmani dan akal anak.&lt;br /&gt;cc. Ditanamkan kepada anak agar senang pada alat permainan yang dibolehkan seperti bola, mobil-mobilan, miniatur pesawat terbang, dan lain-lainnya. Dan ditanamkan kepadanya agar membenci alat permainan yang mempunyai bentuk terlarang seperti manusia dan hewan.&lt;br /&gt;dd. Dibiasakan menghormati milik orang lain, dengan tidak mengambil permainan ataupun makanan orang lain, sekalipun permainan atau makanan saudaranya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Analisis&lt;br /&gt;Dari berbagai uraian tentang metode penanaman iman kepada anak usia balita tersebut di atas, penulis menemukan bahwa untuk menanamkan iman yang kuat kepada anak, adalah sejak anak masih dalam kandungan. Dan karena pembahasan penelitian ini menitik beratkan kepada penanaman iman kepada anak usia balita, maka yang bisa dilakukan adalah memperdengarkan adzan dan iqamat kepada anak yang baru lahir, sebagai cara untuk menanamkan ketauhidan dihati anak, perkataan yang paling awal dia dengar ketika anak lahir adalah kalimat tauhid. Demikian pula dengan tahnik, selanjutnya pemberian nama yang bagus, akikah, khitan, pada waktu ini anak belum bisa diajak untuk berinteraksi untuk menghafal atau melafalkan sesuatu bahasa. Kemudian setelah anak mulai bisa mengucapkan kata-kata, maka yang pertama kali di ajarkan oleh kedua orang tuanya adalah kalimat la ilaha illallah. Mengajarkan anak untuk mencintai Allah dengan mengajarkan kalimat thoyyibah berupa dzikir dan sejenisnya dengan keteladanan orang tua tentunya. Mengajarkan Alquran, lewat pengenalan, pengajaran dan menghafal ayat-ayat pendek, serta surah-surah pendek. Dengan tanpa mengekangnya ketika ia bermain. &lt;br /&gt;Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita berikan kepada anak saat mereka mulai bisa kita ajak berbicara. Pertama, memperkenalkan Allah kepada anak melalui sifat-Nya yang pertama kali dikenalkan, yakni al-Khaliq (Maha Pencipta). Kita tunjukkan kepada anak-anak kita bahwa kemana pun kita menghadap wajah kita, di situ kita menemukan ciptaan Allah. Kita tumbuhkan kesadaran dan kepekaan pada mereka, bahwa segala sesuatu yang ada di sekelilingnya adalah ciptaan Allah. Semoga dengan demikian, akan muncul kekaguman anak kepada Allah. Ia merasa kagum, sehingga tergerak untuk tunduk kepada-Nya. &lt;br /&gt;Kedua, kita ajak anak untuk mengenali dirinya dan mensyukuri nikmat yang melekat pada anggota badannya. Dari sini kita ajak mereka menyadari bahwa Allah Yang Menciptakan semua itu. Pelahan-lahan kita rangsang mereka untuk menemukan amanah di balik kesempurnaan penciptaan anggota badannya. Katakan, misalnya, pada anak yang menjelang usia dua tahun, "Mana matanya? Wow, matanya dua, ya? Berbinar-binar. Alhamdulillah, Allah ciptakan mata yang bagus untuk Owi. Matanya buat apa, Nak?"&lt;br /&gt;Secara bertahap, kita ajarkan kepada anak proses penciptaan manusia. Tugas mengajarkan ini, kelak ketika anak sudah memasuki bangku sekolah, dapat dijalankan oleh orangtua bersama guru di sekolah. Selain merangsang kecerdasan mereka, tujuan paling pokok adalah menumbuhkan kesadaran – bukan hanya pengetahuan – bahwa ia ciptaan Allah dan karena itu harus menggunakan hidupnya untuk Allah.&lt;br /&gt;Ketiga, memberi sentuhan kepada anak tentang sifat kedua yang pertama kali diperkenalkan oleh Allah kepada kita, yakni al-Karim. Di dalam sifat ini berhimpun dua keagungan, yakni kemuliaan dan kepemurahan. Kita asah kepekaan anak untuk menangkap tanda-tanda kemuliaan dan sifat pemurah Allah dalam kehidupan mereka sehari-hari, sehingga tumbuh kecintaan dan pengharapan kepada Allah. Sesungguhnya manusia cenderung mencintai mereka yang mencintai dirinya, cenderung menyukai yang berbuat baik kepada dirinya dan memuliakan mereka yang mulia.&lt;br /&gt;Anak atau bahkan manusia secara umum diciptakan dengan membawa bakat iman kepada Allah Swt. Hal itu kita buktikan dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang selalu ada di benaknya tentang asal-muasal dunia. Dari mana ia datang? Siapakah yang menciptakan kedua orang tuanya? Dari manakah asalnya mereka yang berada di sekelilingnya? Anak, dengan kemampuan berpikirnya yang sangat terbatas, siap untuk menerima teori adanya Tuhan yang menciptakan alam.&lt;br /&gt;Kewajiban ayah dan ibu adalah memanfaatkan pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk mengenalkannya pada Allah swt., Tuhan yang Maha pencipta. Tentu saja, pengenalan tersebut sebatas kemampuan sang anak dalam mencerna pembicaraan dan permasalahan yang ada di hadapannya. Pengenalan anak pada keimanan kepada Allah swt., sama-sama ditekankan, baik oleh para ulama agama maupun para pakar ilmu jiwa.&lt;br /&gt;Menghormati anak, memperlakukannya dengan baik, menunjukkan rasa cinta kepada anak, menanamkan pada dirinya bahwa ia memiliki tempat di hati orang tua dan masyarakat sekitarnya, semua itu tidak boleh dilakukan secara berlebihan dan melampui batas kewajaran. Orang tua tidak boleh memberinya kebebasan mutlak sehingga anak bisa berbuat apa saja semuanya. Karena itu, diperlukan adanya konsep yang menyeimbangkan sikap orang tua terhadap anak. &lt;br /&gt;Berdasarkan konsep tersebut, orang tua tidak memberikan kebebasan mutlak dan tidak pula bersikap keras terhadap semua tindakan yang dilakukan anak. Dengan kata lain, orang tua harus menerapkan sikap lembut dan keras dengan batasnya masing-masing. &lt;br /&gt;Sikap netral seperti ini hendaknya diusahakan untuk dipertahankan sampai anak melewati masa kanak-kanaknya dan mampu membedakan antara perbuatan yang benar dan terpuji dengan perbuatan yang salah dan dibenci. Sebab, tahun-tahun pertama adalah masa yang sangat sensitif dalam membentuk karakter dan jati diri anak.&lt;br /&gt;Ketika anak melakukan tindakan salah dan tidak terpuji, tugas orang tua adalah mengingatkannya bahwa bahwa perbuatan tersebut memiliki dampak negatif dan harus secepatnya ditinggalkan dan tidak diulangi lagi. &lt;br /&gt;Namun jika nasehat dan sikap lemah-lembut ini tidak meninggalkan kesan apa-apa, maka tibalah giliran mereka harus bersikap tegas dan menghukum sisi psikis anak, bukan badannya. Sebab, hukuman terhadap jiwa anak lebih baik dari hukuman terhadap sisi jasmaninya. &lt;br /&gt;Tidak dianjurkan untuk memperlakukan anak dengan amat longgar saat ia melakukan kesalahan, juga tidak menyuruh menghukum anak dengan mendiamkannya dalam waktu yang lama. Akan tetapi, beliau mengajarkan bagaimana bersikap netral dan menyeimbangkan sikap lembut dan keras. Berlebihan atau sebaliknya, bersikap tidak acuh pada satu masalah akan menimbulkan banyak dampak negatif terhadap perkembangan nalar, emosi, dan perilaku anak.&lt;br /&gt;Cara mendidik yang benar adalah dengan menyeimbangkan antara pujian dan hukuman bagi anak. Pujian yang berlebihan akan berakibat sama buruknya dengan hukuman berlebihan karena kedua-duanya akan mengganggu keseimbangan mental anak dan membuatnya gelisah. &lt;br /&gt;Kematangan emosi anak manja akan jauh lebih lambat dibanding dengan anak-anak lainnya. Masa kanak-kanak bagi anak seperti ini akan lebih panjang. Ia akan selalu memerlukan bantuan dan bimbingan orang tuanya dalam semua hal. Hal ini akan berlangsung sampai sang anak menginjak usia dewasa. &lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak menyaksikan anak-anak atau bahkan orang dewasa yang selalu menunggu uluran tangan orang lain atau masyarakat dalam menyelesaikan urusan mereka. Mereka pun selalu mengharapkan orang lain untuk mendukung pendapatnya dan selalu mengharapkan pujian dari pihak lain. Orang-orang seperti ini tidak mampu menghadapi tantangan kehidupan. Disini bisa diperhatikan bahwa anak harus dididik dengan adab dan akhlak agar timbul iman yang mantap. Keimanan tidak hanya diajarkan lewat ilmu tauhid, tetapi lewat fiqh, adab dan akhlak. &lt;br /&gt;Dalam masa ini juga orang tua bisa memasukan anak ke TK yang berbasis Islami, atau PAUD Islami, untuk lebih meningkatkan daya kreatif anak, dan memberikan pelajaran kepada anak tentang kesosialan. Selain itu di rumah, orang tua selalu mengajarkan pendidikan keimanan yang bagus dengan berbagai metode yang bisa diterapkan dengan memperhatikan tingkat perkembangan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR KUTIPAN BAB III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;[URL=http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html]http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html[/URL]&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2425223017908718266-6244940949697652528?l=nafi82.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nafi82.blogspot.com/feeds/6244940949697652528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2010/04/metode-pendidikan-keimanan-di-rumah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/6244940949697652528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/6244940949697652528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2010/04/metode-pendidikan-keimanan-di-rumah.html' title='Metode Pendidikan Keimanan di Rumah Tangga pada Anak Balita'/><author><name>NAFI KANDANGAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15298715059182094551</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JMe35SNgMFM/SfVLWczCeeI/AAAAAAAAAAc/FD-UBSQp110/S220/gatot-kaca-bule.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2425223017908718266.post-4372657425324113932</id><published>2009-12-07T14:14:00.001+07:00</published><updated>2009-12-07T14:17:31.931+07:00</updated><title type='text'>Planning Manajemen</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;PLANNING dalam MANAJEMEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;[URL=http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html]http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html[/URL]&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2425223017908718266-4372657425324113932?l=nafi82.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nafi82.blogspot.com/feeds/4372657425324113932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/12/planning-manajemen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/4372657425324113932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/4372657425324113932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/12/planning-manajemen.html' title='Planning Manajemen'/><author><name>NAFI KANDANGAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15298715059182094551</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JMe35SNgMFM/SfVLWczCeeI/AAAAAAAAAAc/FD-UBSQp110/S220/gatot-kaca-bule.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2425223017908718266.post-7587074777094618750</id><published>2009-05-29T07:41:00.001+07:00</published><updated>2009-05-29T07:45:20.595+07:00</updated><title type='text'>LANDASAN PENTING PENDIDIKAN ANAK</title><content type='html'>Ada beberapa landasan diperlukan dilakukan pendidikan keimanan pada anak usia balita, di antaranya adalah, Al Quran Surah al-Tahrim ayat 6, Al Quran Surah al-Taghabun ayat 14, dari 2 ayat di atas bisa kita simpulkan bahwa sebuah kebahagian agung yang merekahkan hati setiap orang tua, apabila ia dikaruniai seorang anak yang salih dan salihah. Ini adalah salah salah satu pilar terpenting bagi terwujudnya keluarga sakinah, sebuah keluarga bahagia yang meneduhkan hati penghuninya. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tetapinya anak-anak shalih salihah hanya akan menjadi harapan belaka, bila tidak disertai dengan usaha mendidiknya dan mengarahkannya menjadi insan yang mengerti dan menjalankan perintah agamanya sejak kecil sejak usia dini.&lt;br /&gt;Muhammad Albani mengutip pendapat Ibnu Katsir yang mengatakan bahwa keturunan atau anak akan menjadi penyejuk hati apabila ia tumbuh menjadi anak yang taat kepada Allah, tekun beribadah, menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, menjauhi segala apa yang dilarang dan diharamkan-Nya. &lt;br /&gt;Menjaga diri dan keluarga termasuk anak dari jalan-jalan yang mengarah kepada neraka adalah kewajiban bagi setiap orang tua. Karena dengan terjaganya diri orang tua maka akan bisa menjaga keluarganya. Hanya anak yang menjalankan perintah ajaran agama dengan baik dan memiliki akhlakul karimah yang dapat menjadi penyejuk hati. Dan siapa lagi yang bertanggung jawab terhadap hal tersebut kecuali kedua orang tuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hadis nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, yang berbunyi:&lt;br /&gt;ألا إن فى الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله و إذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب &lt;br /&gt;5. Hadis nabi yang berbunyi:&lt;br /&gt;ما من مولود الا يولد على الفطرة فابواه يهودانه و ينصرانه و يمجسانه (وفى رواية: يشركانه) (رواه مسلم عن ابى هريرة) &lt;br /&gt;Menurut hadis di atas, hati (qalbu) adalah motor penggerak laku tubuh. Jika hati selalu terdidik dalam ketaatan kepada allah, maka jasad, akan mudah dan ringan diajak tunduk kepada-Nya untuk menjalankan segenap perintah agama. Apabia di kaitkan dengan agenda pendidikan anak, hadis tersebut di atas memuat petunjuk Rasulullah saw., yang sangat penting bagi para pendidikan dan orang tua tentang bagaimana seharusnya mendidik anak secara benar agar anak salih dan salihah.&lt;br /&gt;Peranan orang tua terutama ibu terhadap pembentukan kepribadia anak sangat dominan. Bila anak tidak mendapatkan pendidikan moral spiritual di rumah secara baik, maka kemiskinan akhlak pada diri anak sebenarnya sudah tersemaikan sejak awal dari rumah.&lt;br /&gt;Demikian beberapa landasan dari ayat Alquran dan hadis yang dapat dijadikan pegangan dan dasar oleh orang tua dan pendidik untuk mendidik anak sejak kecil tentang pengetahuan agama (yang tentunya disesuaikan dengan tingkat umur anak). Bahkan yang terpenting adalah menanamkan iman di dalam hatinya, sehingga dengan tertanam dan tumbuhnya iman ia akan mudah menjalankan perintah agama dan akhirnya mempermudah kita untuk mengajar pelajaran lainnya di tahap berikutnya. &lt;br /&gt;Tidak jauh dari landasan maka tujuan yang diinginkan dari pendidikan tersebut adalah terciptanya insan yang bertakwa kepada Allah. Demikian sudah terangkum dalam firman Allah dalam surah al-Dzariyat ayat 56:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;[URL=http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html]http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html[/URL]&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2425223017908718266-7587074777094618750?l=nafi82.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nafi82.blogspot.com/feeds/7587074777094618750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/05/landasan-penting-pendidikan-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/7587074777094618750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/7587074777094618750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/05/landasan-penting-pendidikan-anak.html' title='LANDASAN PENTING PENDIDIKAN ANAK'/><author><name>NAFI KANDANGAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15298715059182094551</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JMe35SNgMFM/SfVLWczCeeI/AAAAAAAAAAc/FD-UBSQp110/S220/gatot-kaca-bule.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2425223017908718266.post-3837729583965168923</id><published>2009-05-29T07:38:00.000+07:00</published><updated>2009-05-29T07:41:27.674+07:00</updated><title type='text'>SUDAHKAH ENGKAU BERSYUKUR UNTUK DETIKMU?</title><content type='html'>Ya Allah bukankah semua yang ada padaku ini adalah milik-MU. dan semua yang ada di langit dan di bumi selalu memuji-Mu. tapi sering kali aku lupa untuk sekedar berterima kasih dan bersyukur kepada-Mu. Ketika kusadari bahwa aku mendapatkan banyak nikmat dari-Mu aku lupa, ketika aku mendapat bala aku bertanya kepada diriku kenapa Engkau memberikan cobaan ini. berlanjut untuk bekerja&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;[URL=http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html]http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html[/URL]&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2425223017908718266-3837729583965168923?l=nafi82.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nafi82.blogspot.com/feeds/3837729583965168923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/05/sudahkah-engkau-bersyukur-untuk-detikmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/3837729583965168923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/3837729583965168923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/05/sudahkah-engkau-bersyukur-untuk-detikmu.html' title='SUDAHKAH ENGKAU BERSYUKUR UNTUK DETIKMU?'/><author><name>NAFI KANDANGAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15298715059182094551</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JMe35SNgMFM/SfVLWczCeeI/AAAAAAAAAAc/FD-UBSQp110/S220/gatot-kaca-bule.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2425223017908718266.post-5055602532147159220</id><published>2009-05-29T07:30:00.002+07:00</published><updated>2009-05-29T07:36:36.425+07:00</updated><title type='text'>SEBUAH PENGADUAN</title><content type='html'>CPNS dan PNS luruskah pilihan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah pertanyaan yang selama ini menghantui aku. aku takut dengan jabatan itu. dulu aku sangat tidak berminat sama sekali untuk menjadi PNS karena PNS adalah pekerja pemerintah. dan telah kupelajari bahwa salah satu tanda tidak berkahnya ilmu seseorang adalah dia akan mengabdi di lingkungan pemerintah. (coba periksa kitab Ta'limu Muta'alim, karya Syeikh al-Zarnuji). namun ketika kubertanya pada diriku sendiri, banyaknya sahabat dan tabiin yang dulu mengabdikan dirinya kepada pemerintah namun tidak mengurangi keimanan mereka. lantas apa yang mereka lakukan sehingga mereka bisa tetap dalam iman dan berkah dalam ilmu? apakah aku sekarang bisa melakukan seperti apa yang mereka lakukan?&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;inilah yang akan kucoba kutulis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;[URL=http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html]http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html[/URL]&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2425223017908718266-5055602532147159220?l=nafi82.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nafi82.blogspot.com/feeds/5055602532147159220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/05/sebuah-pengaduan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/5055602532147159220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/5055602532147159220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/05/sebuah-pengaduan.html' title='SEBUAH PENGADUAN'/><author><name>NAFI KANDANGAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15298715059182094551</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JMe35SNgMFM/SfVLWczCeeI/AAAAAAAAAAc/FD-UBSQp110/S220/gatot-kaca-bule.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2425223017908718266.post-1957673600351349287</id><published>2009-05-11T12:50:00.001+07:00</published><updated>2009-05-11T12:53:19.410+07:00</updated><title type='text'>HUKUMAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN</title><content type='html'>BAB II&lt;br /&gt;HUKUMAN DAN PENDIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian Hukuman&lt;br /&gt;Secara etimologi hukuman berasal dari kata dasar “hukum” yang berarti undang-undang, peraturan yang mempunyai sangsi hukum.  Jika ditambah dengan akhiran  -an, maka hukuman berarti: Denda atau pengurungan atas diri yang bersalah.” &lt;br /&gt; Adapun secara terminologi, menurut Kartini Kartono, hukuman adalah perbuatan yang secara intensional diberikan, sehingga menyebabkan penderitaan lahir dan batin, diarahkan untuk menggugah hati nurani dan penyadaran si penderita akan kesalahannya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sedangkan menurut Kamus Istilah Pendidikan dan Umum, hukuman secara terminologis diartikan sebagai suatu perbuatan di mana seseorang sadar dan sengaja menjatuhkan nestapa pada orang lain dengan tujuan untuk memperbaiki atau melindungi dirinya dari kelemahan jasmani dan rohani, sehingga terhindar dari segala macam pelanggaran. &lt;br /&gt; Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa hukuman merupakan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang lebih dewasa dan lebih berkuasa terhadap orang yang lebih lemah baik dari segi jasmani maupun rohaninya yang dilakukan dengan sadar dan sengaja dan mempunyai tujuan yaitu agar memperbaiki dan menyadarkan yang bersangkutan dari kesalahannya dan agar ia tidak mengulanginya lagi.&lt;br /&gt; Dalam konteks pendidikan, hukuman merupakan salah satu alat pendidikan. Adapun yang dimaksud dengan alat pendidikan adalah  usaha-usaha atau perbuatan-perbuatan dari si pendidik yang ditujukan untuk melaksanakan tugas mendidik. &lt;br /&gt; Hukuman dapat dijadikan sebagai salah satu alat pendidikan apabila hukuman tersebut dilakukan si pendidik dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Dengan demikian, apabila hukuman tersebut dilakukan oleh pendidik karena ada faktor lain, misalnya karena ia marah atau jengkel terhadap peserta didik yang telah melakukan kesalahan, maka hukuman tersebut tidak dapat disebut alat pendidikan.&lt;br /&gt; Abdullah Nashih Ulwan menggolongan pendidikan dengan memberikan hukuman sebagai salah satu metode pendidikan.  Namun demikian ada juga ahli pendidikan yang tidak menggolongkan hukuman sebagai alat pendidikan. Terlepas dari perbedaan tersebut, para ahli pendidikan telah sepakat untuk menggunakan hukuman dalam pendidikan. &lt;br /&gt; Prinsip imbalan dan hukuman memang merupakan salah satu prinsip pendidikan yang fundamental, yang diletakkan oleh agama Islam dalam posisi penting. Kalaulah tidak ada prinsip ini, tentu tiada bedanya antara orang yang berbuat baik dan orang yang berbuat buruk. Allah swt., berfirman dalam surah al-Mu’min ayat 58 yang berbunyi:&lt;br /&gt;            •     &lt;br /&gt; Harun al-Rasyid berkata kepada orang yang mendidik anaknya, al-Amin, agar jangan terlampau toleran kepada anaknya. Karena anak tersebut akan merasa nyaman dan terbiasa hidup berleha-leha. Beliau menyuruh sang pendidik agar membina anaknya dengan keakraban dan kelembutan. Dan bila tidak berhasil dengan kedua cara ini maka beliau (al-Rasyid) mengizinkan sang pendidik bertindak keras dan kasar kepadanya. &lt;br /&gt; Imbalan dan sanksi merupakan sanksi merupakan bentuk pendidikan, kontrol sosial, dan pembinaan prilaku yang paling menonjol. Imbalan membantu dalam mengokohkan dan menguatkan prilaku yang lurus serta dalam memperbaiki dan meluruskan pelaksanaan sesuatu.&lt;br /&gt; Sehubungan dengan penggunaan sanksi, para pendidik muslin berpesan agar tidak mengandalkan cara itu saja kecuali setelah teknik-teknik targhib tidak membuahkan hasil. Ucapan terima kasih, pujian, memandang baik, memberikan hadiah yang sederhana, dan sebagainya dapat mendorong siswa untuk lebih berhasil. Jika hanya teknik sanksi yang digunakan, akan menyebabkan kemalasan, kelemahan, dan menurunkan semangat. Di samping itu, perlu diperhatikan pula perbedaan indivindual. Di antara anak, ada yang meresa takut hanya dengan isyarat dan ada pula yang menghentikan keburukannya setelah dibentak dengan tegas. &lt;br /&gt;B. Bentuk-bentuk Hukuman &lt;br /&gt;Ada beberapa jenis hukuman yang lazim diterapkan dalam dunia pendidikan, namun secara garis besar, bentuk-bentuk hukuman tersebut dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu:&lt;br /&gt;1. Restitusi, yiatu menyuruh anak untuk melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;2. Deprivasi, mencabut atau menghentikan sesuatu yang disenangi anak.&lt;br /&gt;3. Membebani dengan sesuatu yang menyakitkan atau menyedihkan. &lt;br /&gt;Berdasarkan tipe-tipe tersebut, maka dibuatlah bentuk-bentuk hukuman yang beragama macamnya. Adapun bentuk-bentuk hukuman tersebut antara lain:&lt;br /&gt;1. Kontrol Sederhana &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan kontrol sederhana adalah hukuman yang berupa penunjukkan mimik seorang pendidik kepada anak yang telah melakukan pelanggaran disiplin di mana dengan mimik tersebut anak dapat memahami bahwa si pendidik tersebut tidak senang atas perbuatan yang telah dilakukannya. Dengan ini anak bereaksi seperti merasa malu dan jera. Bentuk kontrol sederhana ini dapat berupa menunjukkan muka marah, menggelengkan kepada, menatap tanpa berkedip, menertawakan secara sinis, dan mimik lainnya.&lt;br /&gt;Kelebihan dari kontrol sederhana ini, antara lain: bersifat simpel, pengajaran tetap berlangsung, menghindari terjadinya hal yang tidak menyenangkan, dan pengaruh yang ditimbulkan tidak terlalu merugikan kepribadian. &lt;br /&gt; Kontrol sederhana ini dapat diterapkan untuk mengatasi siswa yang suka berbicara ketika pelajaran sedang berlangsung atau melakukan kegiatan lain, sehingga ia tidak memperhatikan penjelasn guru tentang materi pelajaran yang diberikan. Pemberian kontrol sederhana ini tidak membutuhkan waktu yang lama sehingga tidak mengganggu pengajaran yang sedang berlangsung.&lt;br /&gt;2. Menghilangkan Hak Istimewa&lt;br /&gt;Siswa yang telah melakukan pelanggara disiplin dapat dihukum dengan mencabut sebagaian atau seluruh haknya, seperti tidak diikutsertakan dalam kegiatan olahraga, darmawisata atau kesenian. Dengan pencabutan hak ini, siswa akan merasakan kerugian akibat kesalahan yang telah diperbuat, apalagi kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang disukainya.&lt;br /&gt;3. Skorsing &lt;br /&gt;Bentuk hukuman skorsing ini dapat berupa pemindahan siswa dari tempat terjadinya pelanggaran atau tempat yang menyenangkan ke tempat yang tidak menyenangkan. Misalnya ketika pelajaran sedang berlangsung, anak tidak memperhatikan pelajaran, tetapi ia sibuk melakukan kegiatan lain, seperti mencoret-coret kertas, atau memainkan alat tulis, oleh guru, ia kemudian disuruh berdiri di depan kelas. Berdiri di depan kelas sementara siswa lain mengikuti pelajaran merupakan pekerjaan yang tidak menyenangkan karena ia akan ditertawakan oleh teman-temannya.&lt;br /&gt;Bentuk skorsing yang lebih berat dapat berupa dicabut haknya untuk mengikuti kegiatan secara keseluruhan dalam waktu tertentu, misalnya seminggu, sebulan atau  satu semester. Selama waktu yang telah ditentukan tersebut, siswa tidak boleh hadir di sekolah atau mengikuti seluruh pelajaran dan kegiatan lainnya.&lt;br /&gt;4. Hukuman Fisik&lt;br /&gt;Hukuman fisik adalah hukuman yang akibatnya lebih dirasakan oleh fisik anak yang menerima hukuman. Hukuman ini dapat berupa pemukulan pada badan, menjewer telinga, berdiri di depan kelas dengan kaki diangkat sebelah atau ditugaskan melakukan suatu pekerjaan, seperti membersihkan wc, mengepel, menyapu halaman, dan sebagainya.&lt;br /&gt;5. Hukuman Verbal&lt;br /&gt;Hukuman verbal adalah hukuman yang berupa kata-kata, seperti membentak, berteriak, memaki atau mengatakan sesuatu yang menimbulkan perasaan bersalah, malu atau takut. Hukuman ini paling sering dilakukan oleh seorang guru, karena sangat mudah dan bahkan sering dilakukan dengan spontan.&lt;br /&gt;6. Menunda Pemberian Ganjaran&lt;br /&gt;Menunda atau meniadakan ganjaran dapat dirasakan seorang anak yang biasanya mendapat ganjaran apabila ia melakukan suatu hal yang baik sebagai suatu hukuman. Dengan tidak memberikan ganjaran, anak akan merasa kecewa dan perasaan kecewa ini merupakan hukuman baginya.&lt;br /&gt;7. Menahan Setelah Sekolah&lt;br /&gt;Siswa yang melakukan pelanggaran, diperintahkan untuk tetap di kelas, sedangkan teman-temannya yang lain pulang. Ketika siswa ditahan, guru bisa membicarakan permasalahan yang dihadapi anak yang menyebabkan ia melakukan kesalahan dan kemudian memberikan nasihat serta jalan keluar dari permasalahan tersebut.&lt;br /&gt;8. Pertemuan Indiviual&lt;br /&gt;Siswa yang melakukan pelanggaran dipanggil untuk menghadap guru atau kepala sekolah di kantor. Pada waktu ini, guru  atau kepala sekolah dapat menanyakan penyebab dari pelanggaran yang dilakukan siswa kemudian diberi nasihat.&lt;br /&gt; Demikian beberapa bentuk hukuman yang dapat diterapkan di sekolah juga di rumah oleh orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Urgensi Hukuman dalam Proses Pendidikan &lt;br /&gt;Dalam proses pendidikan, hukuman diperlukan dalam rangka menegakkan kedisiplinan pada diri peserta didik. Tanpa ada hukuman, sulit untuk menanamkan kedisiplinan pada diri peserta didik.&lt;br /&gt;Akan tetapi pada dasarnya hukuman tidaklah mutlak diperlukan, karena ada sebagian orang yang berhasil dididik hanya melalui keteladanan dan nasihat. Namun ada pula orang-orang yang hanya akan berhasil dididik jika dilengkapi dengan kekerasan, yiatu hukuman.&lt;br /&gt;Pendidikan dengan cara lemah lembut dan penuh kasih sayang sering berhasil dalam mendidik anak menjadi orang yang berakhlak mulia, namun pendidikan yang terlalu lembut akan berpengaruh buruk bagi anak karena membuat jiwa anak tidak stabil. Dalam  hal ini Muhammad Quth mengemukakan:&lt;br /&gt;Jiwa dalam hal ini sama seperti tubuh, bila terlalu memanjakan, maka jiwa itu tidak akan mampu menahan suatu kerja berat yang melelahkan dan suatu kesulitan yang disulit diatasi. Akibatnya ialah bahwa ia tidak mampu sama sekali dan selalu goyah. Dan bila anda terlalu memanjakan jiwa anda, maka jiwa itu tidak akan mampu sama sekali menahan sesutu yang tidak disenanginya, akibatnya kepribadiannya cair, tidak normal dan goyah. Lebih dari itu, jiwa itu membuat orang tidak bahagia, karena ia tidak memberi kesempatan sedikitpun kepada orang itu untuk menahan perasaannya dan keinginannya. Akhirnya ia terbentur pada kenyataan bahwa tidaklah semua orang di dunia memperoleh semua yang dikehendakinya. Disini haruslah ada “sedikit” kekerasan dalam mendidik anak-anak dan juga orang dewasa buat kepentingan mereka sendiri dan orang lain. &lt;br /&gt;Dalam rangka proses pendidikan, seorang pendidik berhadapan dengan makhluk yang pada dasarnya tidak rasional. Anak pada dasarnya sering belum mampu berfikir untuk menetukan mana yang benar dan mana yang salah. Karena itu, hukuman tetap merupakan sebuah sarana mendidik yang penting. Kadang-kadang hukuman sering merupakan satu-satunya teknik yang efektif untuk menyadarkan anak akan kekeliruan yang dilakukannya.&lt;br /&gt;Rasulullah saw., dalam mendidik kaum muslimin juga menerapkan hukuman jika terjadi pelanggaran disiplin. Beliau juga memerintahkan orang tua untuk menghukum anaknya jika anak tersebut tidak mau melaksanakan perintah Allah. Sabda Rasulullah saw.,:&lt;br /&gt;و عن عمر بن شعيب عن أبيه عن جده رضى الله عنه, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مروا اولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين وأضربوهم عليها وهم أبناء عشر وفرقوا بينهم فى المضاجع (رواه ابو داود) &lt;br /&gt;Sesuai dengan definisi dari hukuman yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat dikemukakan tujuan dari tujuan dari penerapan hukuman dalam pendidika, yaitu bertujuan untuk memperbaiki individual yang bersangkutan agar menyadari kekeliruannya, dan tidak mengulanginya lagi, melindungi pelakunya agar tidak melanjutkan pola tingkah laku yang menyimpang, buruk dan tercela, sekaligus juga melindungi masyarakat luar dari perbuatan-perbuatan salah (nakal, jahat, asusila, kriminal, abnormal, dll), yang dilakukan oleh anak atau orang dewasa.&lt;br /&gt;Jadi, diterapkannya hukuman dalam proses pendidikan untuk memperbaiki anak yang telah melakukan kesalahan itu sendiri. Dengan dijatuhi hukuman seorang anak diharapkan akan menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu merupakan perbuatan yang salah dan tidak boleh dilakukannya lagi. Tanpa hukuman, kemungkinan anak tidak akan mau menghentikan perbuatan salahnya itu. Di samping itu, hukuman juga sekaligus melindungi orang lain dari akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan salah tersebut dan juga menjadi contoh bagi orang lain untuk tidak melakukan perbuatan yang sama.&lt;br /&gt;Jadi kesimpulannya, bahwa hukuman memang perlu diterapkan dalam proses pendidikan. Namun perlu diingat, hukuman jangan dijadikan cara yang utama untuk mengatasi pelanggaran disiplin. Hukuman baru boleh dilakukan jika dengan cara lain tidak berhasil menghentikan perbuatan salah anak didik, seperti dengan teguran dan nasihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Dampak Hukuman Terhadap Proses Pendidikan&lt;br /&gt;Telah diketahui bahwa hukuman memang diperlukan dalam pendidikan. Akan tetapi, seorang pendidik harus hati-hati untuk menerapkannya kepada peserta didik, karena selain mendatangkan dampak positif, seperti menghentikan pelanggaran, hukuman juga dapat menimbulkan dampak yang negatif.&lt;br /&gt;Ngalim Purwanto, menyebutkan akibat-akibat yang bisa ditimbulkan dari hukuman, baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Menimbulkan perasaan dendam pada si terhukum, ini akibat dari hukuman yang sewenang-wenang dan tanpa tanggung jawab. Akibat semacam inilah yang harus dihindari oleh pendidik.&lt;br /&gt;2. Menyebabkan anak lebih pandai menyembunyikan pelanggaran. Ini pun akibat yang tidak baik, bukan yang diharapkan oleh pendidik.&lt;br /&gt;3. Memperbaiki tingkah laku si pelanggar. Misalnya yang suka bercakap-cakap di dalam kelas, karena mendapat hukuman, mungkin pada akhirnya berubah juga kelakuannya.&lt;br /&gt;4. Mengakibatkan si pelanggar menjadi kehilangan perasaan bersalah, oleh karena kesalahannya dianggap telah terbayar dengan hukuman yang dideritanya.&lt;br /&gt;5. Akibat yang lain adalah memperkuat kemauan si pelanggar untuk menjalankan kebaikan. &lt;br /&gt;Jadi adanya hukuman tersebut dapat menimbulkan dendam pada diri anak yang dihukum. Perasaan dendam itu terkadang dilampiaskan kepada orang lain. Misalnya dengan cara mengganggu teman-temannya atau bisa juga dnegan melakukan pelanggaran-pelanggaran lainnya yang tentunya mengakibatkan ia mendapatkan hukuman kembali.&lt;br /&gt;Hukuman juga menyebabkan anak pandai menyembunyikan perbuatan salahnya. Hal ini tentunya tidak sesuai dengan tujuan diterapkannya hukuman. Yang diinginkan dari adanya hukuman adalah bahwa dengan atau tanpa diketahui oleh guru, seorang anak tidak akan melakukan perbuatan salah, karena ia telah sadar akan kesalahan itu.&lt;br /&gt;Dampak negatif lainnya dari penerapan hukuman dalam pendidikan adalah bahwa anak tidak melakukan kesalahan karena anak takut akan hukuman bukan karena kesadarannya. Kalau hal tersebut terjadi, maka anak akan berani melakukan pelanggaran jika ia mengetahui bahwa tidak ada lagi hukuman bagi pelanggaran tersebut.&lt;br /&gt;Ibnu Khaldun, seperti yang dikutip oleh Nashih Ulwan, mengatakan bahwa barang siapa yang diperlakukan keras lagi kasar, harga dirinya akan turun, semangatnya akan lemah, membuatnya malas dan akan sering berdusta karena takut dimarahi. Lama kelamaan, kebiasaan jelek ini menjadi kepribadiannya. Dan rusaklah arti kemanusiaan yang dimilikinya. &lt;br /&gt;Hukuman juga bisa mengakibatkan rusakknya hubungan antara guru dengan anak didik, karena anak mungkin akan merasa benci kepada guru yang telah menghukumnya tersebut. Kalau ini terjadi maka bisa berakibat anak membenci pelajaran yang diajarkan oleh guru yang bersangkutan, akhirnya berakibat prestasinya pada pelajaran itu menjadi rendah. Selain perasaan benci pada guru tersebut, bisa pula timbul perasaan malu dan takut kepada guru yang telah menghukumnya itu, sehingga ia kemudian menghindari terjadinya pertemuan dengan guru itu. Hal ini tentunya juga tidak baik.&lt;br /&gt;Seringkali setelah melakukan kesalahan seorang anak merasa sedih dan menyesal. Dalam hati sebenarnya ia mengakui bahwa apa yang dilakukannya tersebut adalah salah dan merugikan bagi dirinya dan juga orang lain. Pada saat seperti ini, jika anak dihukum, maka kemungkinan bebannya akan bertambah. Hal ini bisa menimbulkan sifat menentang.&lt;br /&gt;Akan tetapi ada pula kemungkinan bahwa anak merasa lebih suka dihukum. Dengan menerima hukuman, anak merasa lega, karena perasaan bersalahnya telah mendapat imbalan. Namun jika anak merasa hukuman yang diterimanya tidak sepadan dengan kesalahannya, maka akan menimbulkan perasaan jengkel pada diri anak.&lt;br /&gt;Hukuman juga terkadang menimbulkan perasaan bersalah pada diri orang yang menghukum. Perasaan bersalah ini membuat mereka kemudian merasa kasihan dan menampakan perasaan kasihan dan bersalah itu kepada anak. Hal ini dapat mengakibatkan hukuman menjadi tidak bermanfaat, anak tidak takut melakukan kesalahan lagi, karena ia mengetahui bahwa yang menghukumnya akan mengasihaninya.&lt;br /&gt;Hukuman juga seringkali tidak sepadan dengan kesenangan yang diperoleh anak dari sebuah pelanggaran. Anak sering mendapatkan kesenangan dari pelanggaran yang dilakukannya, sehingga ia rela dihukum asal kesenangan tersebut dapat dinikmatinya, apalagi kalau hukumana yang diterimanya lebih ringan dibandingkan kesenangan yang diperolehnya tersebut. Jadi meskipun anak telah berkali-kali dihukum, ia akan tetap melakukan pelanggaran.&lt;br /&gt;Banyak anak yang melakukan pelanggaran karena ingin mendapatkan perhatian dari guru atau orang tua. Baginya lebih baik mendapatkan hukuman, karena berarti mereka masih diperhatikan, meskipun dengan perhatian yang negatif, daipada diacuhkan. Dalam hal ini hukuman tidak akan membawa hasil yang baik.&lt;br /&gt;Di samping beberapa dampak negatif yang telah disebutkan, hukuman juga banyak memberikan pengaruh negatif bagi proses pendidikan. Seperti yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto, bahwa hukuman dapat memperbaiki tingkah laku si pelanggar dan juga memperkuat kemauannya untuk melakukan perbuatan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Ketentuan-ketentuan Dalam Pelaksanaan Hukuman&lt;br /&gt;Seperti yang telah disebutkan pada bagian terdahulu, bahwa penerapan hukuman pada proses pendidikan dapat menimbulkan dampak negatif. Oleh sebab itu, agar dampak negatif tersebut dapat ditekan sekecil mungkin, dan agar hukuman tersebut dapat efektif, maka pelaksanaannya harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebaggai berikut:&lt;br /&gt;1. Gunakan Hukuman Seiring dengan Konsekuensi-Konsekuensi Lain&lt;br /&gt;Hukuman akan lebih efektif apabila konsekuensi-konsekuensi lain seperti ganjaran dan pengabaian juga diterapkan. Menurut Mallary M. Collins dan Don Fontenelle bahwa ganjaran dan pengabaian hendaknya diterapkan dengan kadar sekitar 60% sampai 70%, sedangkan hukuman diterapkan dengan kadar sekitar 30% sampai 40%.  Jadi ganjaran dan pengabaian harus lebih sering diterapkan dibanding dengan hukuman. Jika hukuman dijadikan sebagai metode utama untuk menanamkan kedisiplinan, maka anak akan merasa bahwa guru hanya melihat kepada kesalahannya saja tanpa memperdulikan keberhasilan yang pernah diraihnya. Hal  ini dapat mengakibatkan anak malas untuk melakukan perbuatan baik, sebaliknya anak akan terdorong untuk melakukan kesalahan karena ingin mendapatkan perhatian dari guru meskipun dalam bentuk perhatian negatif yaitu hukuman.&lt;br /&gt;2. Jangan Menghukum Secara Acak &lt;br /&gt;Hindarkanlah menghukum anak secara acak, yaitu menentukan hukuman setelah kejadian terjadi. Tentukan jenis hukuman sebelum anak melakukan kesalahan. Dengan cara ini anak akan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan karena ia tidak ingin menerima hukuman yang dijatuhkan akibat kesalahan yang dia lakukan.&lt;br /&gt;3. Hukumlah Dengan Segera&lt;br /&gt;Hukuman hendaknya dilakukan segera setelah terjadi pelanggaran yang dilakukan anak. Hal ini agar anak merasakan adanya pertalian antara pelanggaran yang dilakukan dengan hukuman yang diterimanya. Jika jarak antara waktu pelanggaran dengan pemberian hukuman cukup lama, hukuman tidak akan efektif. Anak telah melupakan pelanggaran yang dilakukan, sehingga ia tidak merasakan bahwa hukuman itu adalah sebagai akibat pelanggarannya. Seperti yang dikatakan oleh Mallary M. Collin dan Don Fontenelle yang mengatakan bahwa konsekuensi negatif yang diterapkan dengan cepat akan berpengaruh dan berhasil yang paling baik dalam mengubah prilaku. Karena itu, guru tidak boleh menunda pemberian hukuman. &lt;br /&gt;4. Orang Yang Melaksanakan Hukuman Harus Memiliki Sifat Pengasih Kepada Anak&lt;br /&gt;Anak yang menerima hukuman dari orang yang diketahuinya menaruh kasih sayang kepadanya akan sangat merasakan akibat dari hukuman tersebut. Anak akan merasakan sedih dan menyesal telah melakukan pelanggaran yang mengakibatkan ia dihukum dan kehilangan kasih sayang dari orang yang selama in telah mengasihinya tersebut terpaksa menghukumnya, karena ia tahu bahwa orang  yang menghukumnya juga merasakan kesedihan karena harus menghukumnya.&lt;br /&gt; Dalam hal ini Langeveld mengatakan bahwa barang siapa yang menghukum tanpa mempunyai hubungan batin dengan anak didik yang dihukum, ia sebenarnya bermain sandiwara, yang dapat dilanjutkannya selama anak didik tidak mengetahui, bahwa pendidiknya itu sebenarnya tidak mempunyai hubungan dengan dia. Bila suatu waktu terbuka mata anak didik mengenai keadaan sebenarnya, maka ia akan benci melihat seorang pendidik yang dengan semaunya “menyerobot” hak mengasihi dengan sikap yang tidak kenal cinta. &lt;br /&gt; Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 159, yang berbunyi: &lt;br /&gt;                &lt;br /&gt;Jadi jika orang yang menghukum adalah orang yang tidak memiliki hubungan batin dengan anak yang dihukumnya, ada kemungkinan ia menghukum lebih didasari oleh perasaan marah dan dendam.&lt;br /&gt;5. Bersikaplah Tenang&lt;br /&gt; Jika menjatuhkan hukuman, seorang pendidik harus dapat bersikap tenang. Hal ini agar hukuman yang dijatuhkan benar-benar bersifat pedagogis, artinya hukuman tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk pendidikan, yaitu dengan harapan bahwa hukuman itu dapat mengubah prilaku anak ke arah yang lebih baik. Jika seorang pendidik menjatuhkan hukuman dalam keadaan emosional, maka kemungkinan hukuman itu akan menjadi lebih berat dan tidak sesuai dengan kadar kesalahan anak.&lt;br /&gt;6. Gunakan Peringatan&lt;br /&gt;Sebelum menjatuhkan hukuman sebaiknya berilah peringatan terlebih dahulu. Jangan menghukum anak pada kesalahan yang pertama. Gunakan kesempatan pada kesalahan pertama itu untuk memberikan peringatan, akan adanya hukuman jika mengulanginya lagi. Dengan demikian, anak mendapat kesempatan untuk memikirkan yang diterimanya jika ia melakukan kesalahan.&lt;br /&gt;Berkenaan dengan hal ini, Allah swt., berfirman dalam surah Al-Nisa ayat 34, yang berbunyi:&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Pada ayat ini Allah memberitahukan petunjuk kepada para suami yang menghadapi istri yang melakukan pembangkangan. Hendaknya suami memberi nasihat, kemudian jika ia tetap membangkang, maka pisahkan ia dari tempat tidur dan jika ia masih saja membangkang barulah suami boleh memukulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Hindari Hukuman Berupa Pemukulan&lt;br /&gt;Hukuman berupa pemukulan sering menimbulkan dendam atau sikap suka melwan. Di samping itu, dikhawatirkan akibat pemukulan itu akan berpengaruh pada fisik anak. Oleh karena itu, jika akan menggunakan pemukulan dalam menghukum, hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. seorang pendidik tidak boleh memukul kecuali jika sarana peringatan dan ancaman tidak mempan lagi.&lt;br /&gt;b. Tidak boleh memukul dalam keadaan marah, karena dikhawatirkan membahayakan diri anak. &lt;br /&gt;c. Pemukulan tidak boleh dilakukan pada tempat-tempat yang berbahaya, seperti dada, perut, atau muka.&lt;br /&gt;d. Disarankan agar pukulan tidak terlalu keras dan tidak menyakitkan. Sasarannya adalah kedua tangan atau kaki dengan alat pukul yang lunak, selain itu, hendaklah pukulan-pukulan itu dimulai dari hitungan 1 sampai 3 jika anak belum baligh. Tetapi jika sudah menginjak masa remaja, sementara sang pendidik melihat bahwa pukulan tadi tidak membuat jera si anak, dia boleh menambah lagi sampai hitungan 10.&lt;br /&gt;e. Jika kesalahan itu baru pertama kali dilakukan si anak haruslah diberi kesempatan bertaubat dari kesalahannya.&lt;br /&gt;f. Hukuman harus dilakukan oleh seorang pendidik sendiri, tidak diwakilkan kepada orang lain agar terhindar dari kedengkian dan perselisihan.&lt;br /&gt;g. Seorang pendidik harus dapat menempatkan waktu yang sudah ditetapkan untuk memulai memukul, yaitu langsung ketika anak melakukan kesalahan. Tidak dibenarkan  jika seorang pendidik memukul anak yang bersalah setelah berselang dua hari dari perbuatan salahnya. Keterlambatan pemukula sampai dua hari hampir tidak ada gunanya sama sekali.&lt;br /&gt;h. Jika sang pendidik melihat bahwa dengan cara memukul masih belum membuahkan hasil yang diinginkan, dia tidak boleh meneruskannya dan harus mencari jalan pemecahan yang lain. &lt;br /&gt;8. Jangan Menghukum dengan sistem borongan&lt;br /&gt;Jangan mengumpulkan dulu sekian banyak kesalahan anak baru menghukumnya sekalian. Setiap kali anak melakukan kesalahan, berilah peringatan dan jika ia mengulangi lagi, segeralah beri hukuman, jangan menunggu ia melakukan kesalahan yang lebih banyak. Hal ini agar anak mengetahui bahwa yang dilakukannya itu adalah salah dan tidak boleh diulanginya lagi. Jika anak telah berkali-kali melakukan kesalahan, baru kemudian dihukum, maka anak tidak akan mengetahui perbuatannya yang mana yang salah, sehingga pada suatu saat kemungkinan ia akan kembali melakukannya.&lt;br /&gt;9. Hukuman hanya untuk pelanggaran yang dapat dihindari anak&lt;br /&gt;Seorang pendidik hendaknya tidak menghukum anak yang melakukan kesalahan di luar kemampuannya. Hukuman tidak akan dapat menghentikan pelanggaran anak jika hal tersebut secara biologis tidak mampu untuk dicegah. Tidak ada hukuman yang mampu mengubah sesuatu yang telah berlaku alami.&lt;br /&gt;10. Berilah Nasihat setelah dihukum&lt;br /&gt;Hukuman haruslah diakhiri dengan nasihat-nasihat yang dapat membuat anak menyadari kesalahannya termasuk penjelasan mengapa ia dihukum dan pemberian maaf dari penghukuman. Pemberian maaf ini tidak perlu diucapkan. R.I. Suhartin C, mengemukakan bahwa maaf itu tidak perlu dinyatakan, kadang-kadang cukup dengan menegur anak itu, tidak didiamkan, atau diminta bantuannya. Dengan cara ini anak sudah merasa bahwa ia telah dimaafkan. Hal ini penting sekali, sebab hukuman bagi anak dirasakan sebagai pemutusan “tali” cinta kasih, sehingga betul-betul menyedihkan. Dan “tali” yang putus itu harus disambung dengan maaf atau pengampunan. &lt;br /&gt;Al-Qabasi juga mengakui adanya hukuman dengan pukulan. Namun dia menetapkan beberapa syarat supaya pukulan itu tidak melenceng dari tujuan preventif dan perbaikan ke penindasan dan balas dendam. Syarat-syarat yang dimaksud adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Guru tidak boleh melakukan pukulan kecuali karena suatu dosa.&lt;br /&gt;2. Guru harus melakukan pukulan yang selaras dengan dosa yang dilakukan oleh anak. Pukulan itu hanya menggugurkan kewajiban atas tindakan kriminal anak.&lt;br /&gt;3. Pukulan berkisar dari satu hingga tiga kali. Jika orang yang diserahi untuk mendidik anak akan memukul sebanyak satu hingga sepuluh kali, dia perlu meminta izin kepada walinya.&lt;br /&gt;4. Boleh melakukan lebih dari sepuluh pukulan jika usia anak mendekati dewasa dan sulit untuk dididik, berakhlak kasar, dan tidak dapat disadarkan dengan sepuluh pukulan.&lt;br /&gt;5. Guru sendiri yang melakukan pemukulan, tidak boleh mewakilkannya kepada anak yang lain, sebab hal itu akan menimbulkan pertengkaran atau sikap saling melindungi.&lt;br /&gt;6. Pukulan itu sekedar menimbulkan rasa sakit dan tidak boleh menimbulkan  luka yang berbahaya.  &lt;br /&gt;Demikian ketentuan dalam pelaksanaan hukuman yang harus diperhatikan oleh setiap pendidik agar dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh hukuman tersebut dapat dihindari dan hukuman menjadi lebih efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;[URL=http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html]http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html[/URL]&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2425223017908718266-1957673600351349287?l=nafi82.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nafi82.blogspot.com/feeds/1957673600351349287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/05/hukuman-dalam-dunia-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/1957673600351349287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/1957673600351349287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/05/hukuman-dalam-dunia-pendidikan.html' title='HUKUMAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN'/><author><name>NAFI KANDANGAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15298715059182094551</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JMe35SNgMFM/SfVLWczCeeI/AAAAAAAAAAc/FD-UBSQp110/S220/gatot-kaca-bule.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2425223017908718266.post-3383278996555024989</id><published>2009-05-07T10:02:00.003+07:00</published><updated>2009-05-07T10:08:39.168+07:00</updated><title type='text'>TINJAUAN TEORITIS TENTANG METODE PENDIDIKAN DALAM ISLAM</title><content type='html'>TINJAUAN TEORITIS TENTANG METODE &lt;br /&gt;PENDIDIKAN DALAM ISLAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian Metode Pendidikan&lt;br /&gt;Metode berasal dari dua perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui” dan hodos berarti “jalan atau cara”, berarti metode artinya tentang jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Metode dapat diartikan sebagai cara untuk menyampaikan materi pelajaran kepada nak didik (peserta didik). Metode merupakan salah satu alat atau cara untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; Mohammad Athiyah al-Abrasy mendefinisikan metode sebagai jalan yang kita ikuti untuk memberi paham kepada murid-murid dengan segala macam pelajaran, dalam segala mata pelajaran. Metode adalah rencana yang kita buat untuk untuk diri kita sebelum kita memasuki kelas dan kita terapkan dalam kelas selama kita mengajar dalam kelas itu. Prof. Abdul Rahim Ghunaimah menyebut metode sebagai cara-cara yang diikuti oleh guru untuk menyampaikan sesuatu kepada anak didik. Adapun Edgar Bruce Wesley mendefinisikan metode sebagai kegiatan yang terarah bagi guru yang menyebabkan terjadinya proses belajar mengajar, sehingga pengajaran menjadi berkesan. &lt;br /&gt; Sedangkan kata pendidikan yang dalam bahasa Inggris “education” dan dalam bahasa Arab disebut “tarbiyah”. Kata tarbiyah berasal dari kata dasar rabba ( ربي ), yurabbi  ( يربي ), menjadi tarbiyah  yang berarti tumbuh dan berkembang (Al-Munjid).  Dalam al-Mu’jam al-Wasith terdapat penjelasan sebagai berikut:&lt;br /&gt;و رباه نمى قوة الجسدية والعقلية والخلقية&lt;br /&gt;Artinya: “Mendidiknya berarti menumbuhkan potensi jasmaniah, akliyah (akal) serta akhlak (budi pekertinya).”&lt;br /&gt; Secara umum, pendidikan dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Pendidikan merupakan usaha manusia melestarikan hidupnya.&lt;br /&gt; Pendidikan secara teoritis mengandung pengertian “memberi makan (opvoeding) kepada jiwa anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah, juga sering diartikan dengan “menumbuhkan kemampuan dasar manusia”.  Bila ingin diarahkan kepada pertumbuhan sesuai dengan ajaran Islam, maka harus berproses melalui sistem kependidikan Islam, baik melalui kelembagaan maupun sistem kurikuler.&lt;br /&gt; Soegarda Poerbakawatja dalam Ensiklopedi Pendidikan menggunakan pengertian pendidikan dalam arti yang luas sebagai semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya serta keterampilannya (mengalihkan kebudayaan) kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah. Dapat pula dikatakan bahwa pendidikan itu adalah usaha sengaja dari orang dewasa dengan pengaruhnya meningkatkan si anak menuju arah kedewasaan dengan artian mampu memikul tanggung jawab moril dari segala perbuatannya. &lt;br /&gt; Dalam hal ini Dosen FIP IKIP Malang menyimpulkan pengertian pendidikan adalah: &lt;br /&gt;1. Aktifitas dan usaha untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi dan pribadi rohaninya (pikir, rasa, karsa, cipta, dan budi murni) dengan jasmaniah (panca indera serta ketrampilan-ketrampilan).&lt;br /&gt;2. Lembaga yang bertanggung jawab menetapkan cita-cita (tujuan) pendidikan ini sistem dan organisasi pendidikan. Lembaga-lembaga ini meliputi: keluarga, sekolah dan masyarakat (negara).&lt;br /&gt;3. Hasil atau prestasi yang dicapai oleh perkembangan manusia dan usaha lembaga tersebut dalam mencapai tujuan. Pendidikan dalam arti ini merupakan tingkat kemajuan masyarakat kebudayaan sebagai satu kesatuan. &lt;br /&gt;Dari beberapa pengertian mengenai metode dan pendidikan yang dikemukakan para ahli pendidik, namun yang penting kita tangkap adalah makna pokok yang terkandung dalam pengertian metode pendidikan itu sendiri, makna pokoknya antara lain:&lt;br /&gt;1. Metode pendidikan adalah cara yang digunakan untuk menjelaskan materi pendidikan kepada  anak didik.&lt;br /&gt;2. Metode pendidikan adalah cara yang digunakan merupakan cara yang tepat guna untuk menyampaikan materi pendidikan tertentu dalam kondisi tertentu dan melalui cara itu diharapkan materi yang disampaikan mampu memberi kesan yang mendalam pada diri anak didik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Jenis-Jenis Metode Pendidikan&lt;br /&gt;Jenis-jenis metode pendidikan menurut para ahli pendidikan antara lain, adalah:&lt;br /&gt;1. Metode situasional yang mendorong manusia didik untuk belajar dengan perasaan gembira dalam berbagai tempat dan keadaan. Metode ini dapat memberikan kesan-kesan yang menyenangkan, sehingga melekat pada ingatan yang cukup lama.&lt;br /&gt;2. Metode Tarhib wa Targhib, mendorong manusia didik untuk belajar suatu bahan pelajaran atas dasar minat yang berkesadaran pribadi, terlepas dari paksaan atau tekanan mental. Belajar berdasarkan motif-motif yang bersumber dari kesadaran pribadi dipandang oleh ahli psikologi suatu kegiatan yang positif yang membawa keberhasilan proses belajar.&lt;br /&gt;3. Metode belajar yang berdasarkan condotioning dapat menimbulkan konsentrasi perhatian anak didik ke arah bahan-bahan pelajaran yang disajikan oleh guru (pendidik).&lt;br /&gt;4. Metode yang berdasarkan prinsip bermakna, menjadikan anak didik menyukai dan bergairah untuk mempelajari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Dengan perasaan suka tersebut proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan lancar, karena manusia didik menyadari bahwa yang dipelajari gurunya terdiri dari bahan-bahan ilmu pengetahuan yang akan memberikan makna bagi hidupnya lebih lanjut.&lt;br /&gt;5. Metode dialogis yang melahirkan sikap saling keterbukaan antara guru dan murid akan mendorong untuk saling memberi dan menerima (take and give) antara guru dan murid dalam proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;6. Prinsip inovasi dalam proses belajar mengajar menjadikan manusia didik diberi pelajaran ilmu pengetahuan bagus yang dapat menarik minat mereka. Mereka didorong secara aktif dan inovatif serta kreatif melalui metode inquiry (menyelidiki) dan metode discovery (menemukan) fakta-fakta pengetahuan yang baru dari lingkungan sekitar dirinya sendiri.&lt;br /&gt;7. Metode pemberian contoh teladan yang baik (uswatun hasanah) terhadap manusia didik, terutama anak-anak yang belum mampu berpikir kritis, akan banyak mempengaruhi pola tingkah laku mereka dalam kehidupan sehari-hari. Guru sebagai pembawa dan pengenal nilai-nilai agama, kultural dari ilmu pengetahuan akan memperoleh manfaat dalam mendidik anak apabila menerapkan metode ini, terutama dalam pendidikan akhlak dan agama serta sikap mental anak didik. Sistem sekolah aktif dalam melahirkan metode “belajar dengan berbuat” (learning by doing) dari ahli Amerika Serikat oleh Miss Helen Parkhuest. Dalam proses pendidikan Islam yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW sendiri metode ini lebih banyak mendapatkan perhatian dalam berbagai kesempatan. Pengaruh praktik dalam proses belajar mengajar telah banyak diselidiki oleh para ahli pendidik yang membuktikan bahwa dengan melalui praktik, seseorang akan lebih mendalam dan diingat dalam jangka lama daripada hanya belajar teori saja. Dalam penelitian dapat diketahui berbagai pengaruh cara belajar sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Belajar hanya dengan mendengarkan (learning by learning) hanya berhasil diserap oleh manusia didik sebesar 15 persen materi pelajaran.&lt;br /&gt;b. Belajar dengan menggunakan mata (visualisasi) dapat menghasilkan 55 persen dari bahan yang disajikan.&lt;br /&gt;c. Belajar dengan praktik menghasilkan apersepsi sampai dengan 90 persen dari bahan yang diajarkan.&lt;br /&gt;8. Metode yang menitikberatkan pada bimbingan yang berdasarkan rasa kasih sayang terhadap anak didik akan menghasilkan rasa kasih sayang terhadap anak didik akan menghasilkan kedayagunaan proses belajar mengajar. Rasa kasih sayang akan mampu memperlancar kegiatan belajar dari hambatan-hambatan psikologis akibat ketakutan atau keresahan batin dan sebagainya.&lt;br /&gt;9. Di samping metode-metode di atas, dalam pendidikan Islam masih didapati metode-metode lain seperti metode cerita, metode metafora, metode tanya jawab, metode induktif, metode verbalistik, metode pemberian hukuman dan pemberian hadiah.&lt;br /&gt;a. Metode cerita banyak terdapat dalam al-Quran yang bertujuan suatu cerita adalah untuk menunjukkan fakta kebenaran. Pengulangan suatu cerita menunjukkan bahwa cerita tersebut amat besar artinya bagi manusia untuk dijadikan ingatan dan peringatan serta bahan pelajaran yang diambil hikmahnya bagi kehidupan generasi berikutnya. Seluruh cerita dalam al-Quran adalah mengandung iktibar yang bersifat mendidik manusia. Dari segi psikologis, metode cerita mengandung makna reinforcement (penguatan) kepada seseorang untuk bertahan uji dalam berjuang melawan keburukan. Khusus bagi Nabi Muhammad SAW., cerita dalam Al-Quran adalah untuk menguatkan tekad Nabi dalam perjuangan melawan musuh-musuh, yaitu kaum kafir dan musyrikin.&lt;br /&gt;b. Metode tanya jawab atau dialogis, seperti telah disinggung dalam metode butir lima di atas perlu ditambahkan sedikit contoh tentang penerapannya seperti dialog Tuhan dengan Nabi Ibrahim dalam surah al-Anbiya ayat 21 yang berbunyi:&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Artinya: Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)?&lt;br /&gt;c. Metode dengan metafora, yang tujuannya untuk memudahkan pengertian manusia didik tentang suatu konsep melalui pertimbangan akal. Misalnya firman Alah dalam surah al-Ankabut ayat 41 tentang perumpamaan orang-orang yang mengambil perlindungan selain dari Allah digambarkan sebagai laba-laba yang membuat rumahnya yang sangat lemah. Firman Allah yang artinya:&lt;br /&gt;Artinya: Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.&lt;br /&gt; Dalam surah Ibrahim ayat 18, Allah menggambarkan bahwa amalan orang kafir bagaikan abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang, mereka tidak mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang mereka usahakan (di dunia) dan yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. Firman Allah yang artinya:"orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti Abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;d. Metode hukuman dan hadiah atau pemberian (tsawab/pahala) dan iqab  (siksa) yang tujuan pokoknya untuk membangkitkan perasaan tanggung jawab manusia didik. Efektifitas ini terletak pada hubungannya dengan kebutuhan individual. Seorang anak didik bila diberi hadiah, akan merasa bahwa hal itu merupakan bukti tentang penerimaan dirinya dalam berbagai ukuran norma-norma kehidupan (dalam hal ini misalnya dalam kegiatan belajar) dan karena diberi hadiah ia menjadi tenang dan tenteram hatinya. Rasa tenang dan aman adalah merupakan kebutuhan anak didik dalam belajar, sedangkan hukuman sebaliknya, merupakan ancaman terhadap rasa aman itu.&lt;br /&gt;10. Metode mendidik secara kelompok disebut mutual education, misalnya dicontohkan oleh Nabi sendiri dalam mengajarkan shalat dengan mendemonstrasikan cara-cara shalat yang baik agar mereka lebih jelas dan mudah menirunya. Dengan cara berkelompok inilah maka proses mengetahui dan memahami ilmu pengetahuan lebih efektif, oleh karena satu sama lain dapat saling bertanya dan saling mengoreksi bila satu sama lain melakukan kesalahan.&lt;br /&gt;11. Metode pendidikan dengan menggunakan cara instruksional, yaitu yang bersifat mengajar tentang ciri-ciri orang yang beriman dalam sikap dan bertingkah laku, agar mereka dapat mengetahui bagaimana seharusnya bersikap dan berbuat. Misalnya sabda Nabi:&lt;br /&gt;ايات المنافقين ثلاث : اذا حدث كذب واذا وعد خلف واذا ائتمن خان&lt;br /&gt;Artinya: Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga yaitu: apabila berbicara dia berdusta, dan apabila berjanji dia mengingkari dan apabila dia beri amanat dia khianat.&lt;br /&gt;12. Dalam al-Quran terdapat firman-firman Allah yang mengandung metode bimbingan dan penyuluhan, justru karena al-Quran sendiri diturunkan untuk membimbing dan menasihati manusia sehingga dapat memperoleh kehidupan batin yang tenang, sehat serta bebas dari segala konflik kejiwaan. Dengan metode ini manusia akan mampu mengatasi segala bentuk kesulitan hidup yang dia hadapi. Ayat yang menunjukkan metode ini adalah dalam surah al-Nisa ayat 58, yang artinya: Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.&lt;br /&gt;Pendekatan yang diperlukan dalam melaksanakan metode tersebut adalah melalui sikap lemah lembut dan lunak hati dengan gaya menuntun/membimbing ke arah kebenaran.&lt;br /&gt;Hal ini didasarkan atas firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 159, yang artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. &lt;br /&gt;13. Metode diskusi juga diperhatikan oleh al-Quran dalam mendidik dan mengajar manusia dengan tujuan lebih memantapkan pengertian dan pengetahuan mereka terhadap suatu masalah. Perintah Allah dalam menggali manusia ke jalan benar harus dengan hikmah dan mau’izah yang baik dan membantah mereka dengan berdiskusi dengan mereka secara benar seperti dalam surah al-Nahl ayat 125 yang artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah swt., dalam surah al-Ankabut ayat 46 yang artinya: Janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik. &lt;br /&gt;14. Mendidik dengan menggunakan metode pemberian perumpamaan atau metode imtsal tentang kekuasaan Tuhan dalam menciptakan hal-hal yang hak dan hal-hal yang batil, metode ini menunjukkan bahwa metode imtsal  untuk mendidik dan mengajar termasuk efektif. seperti dalam surah Ibrahim ayat 24-26 yang artinya: 24. tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,&lt;br /&gt;25. pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.&lt;br /&gt;26. dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surah al-Ankabut ayat 41 yang artinya: Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.&lt;br /&gt;Surah al-Ra’d ayat 17 yang artinya: Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, Maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Metode taubat dan ampunan, yaitu cara membangkitkan jiwa dari rasa frustasi kepada kesegaran hidup dan optimisme dalam belajar seseorang, dengan memberikan kesempatan bertobat dan kesalahan/kekeliruan yang telah lampau yang diikuti dengan pengampunan atas dosa dan kesalahannya. Sebagai contoh adalah firman Allah dalam surah al-Nisa ayat 110 yang artinya: Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan Menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;16. Metode-metode lainnya seperti acquistion (self-education), explanation,  dan exposition (penyajian) dengan disertai motivasi-motivasi belajar, juga dapat ditemui di dalam firman Allah dalam al-Quran dan berbagai sabda nabi dengan tujuan yang sama, yaitu agar manusia sebagai mahkluk Tuhan dengan kemampuan yang ada dalam dirinya bersedia menjalankan perintah. &lt;br /&gt;Sedangkan menurut Muhammad al-Toumy al-Syaibani menyodorkan pembagian metode dalam pendidikan Islam, yakni metode yang umumnya pernah digunakan dalam pendidikan Islam, antara lain:&lt;br /&gt;1. Metode Induksi (pengambilan kesimpulan)&lt;br /&gt;Metode ini digunakan untuk mendidik agar anak didik dapat mengetahui fakta-fakta dan kaidah-kaidah umum dengan cara menyimpulkan pendapat.&lt;br /&gt;2. Metode Perbandingan (Qiyasah)&lt;br /&gt;Metode ini digunakan untuk mendidik agar anak didik dapat membandingkan kaidah-kaidah umum atau teori dan kemudian menganalisanya dalam bentuk rincian-rincian.&lt;br /&gt;3. Metode Kuliah &lt;br /&gt;Metode ini digunakan untuk mendidik anak didik agar mereka dapat mengintisarikan materi yang diberikan secara benar, sesuai dengan kemampuan masing-masing.&lt;br /&gt;4. Metode dialog dan perbincangan&lt;br /&gt;Metode ini digunakan untuk mendidik anak agar mereka dapat mengemukakan kritik-kritik terhadap materi yang diberikan. Kritik dilakukan secara lisan melalui dialog antara guru dan anak didik.&lt;br /&gt;5. Metode halaqah&lt;br /&gt;6. Metode riwayat&lt;br /&gt;7. Metode mendengar&lt;br /&gt;8. Metode membaca&lt;br /&gt;9. Metode imla&lt;br /&gt;10. Metode hafalan&lt;br /&gt;11. Metode pemahaman&lt;br /&gt;12. Metode lawatan untuk mencari ilmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Fungsi Metode Pendidikan&lt;br /&gt;Dalam proses pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan, karena ia menjadi sarana dalam menyampaikan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum. Tanpa metode, suatu materi pelajaran tidak akan dapat berproses secara efesien dan efektif dalam kegiatan belajar mengajar menuju tujuan pendidikan Islam.&lt;br /&gt;Metode pendidikan yang tidak efektif akan menjadi penghambat kelancaran proses belajar mengajar sehingga banyak tenaga dan waktu terbuang sia-sia. Oleh karena itu, metode yang diterapkan oleh seorang guru akan berdaya guna dan berhasil guna jika mampu dipergunakan dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;Dalam proses pendidikan Islam, metode yang tepat guna apabila mengandung nilai-nilai yang intrinsik dan ekstrinsik sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dapat dipakai untuk merealisasikan nilai-nilai ideal yang terkandung dlaam tujuan pendidikan Islam. Antara metode, kurikulum, dan tujuan pendidikan Islam mengandung relevansi dan operasional dalam proses kependidikan. Oleh karena itu proses kependidikan mengandung makna internalisasi dan transformasi nilai-nilai Islam ke dalam pribadi manusia didik dalam upaya membentuk pribadi muslim yang beriman, bertakwa, dan berilmu pengetahuan. &lt;br /&gt;Selain dari ragam metode, al-Syaibani juga mengemukakan dasar-dasar penyusunan metode pendidikan Islam. Menurut penilaiannya, ada 4 yang menjadi dasar pertimbangan menggunakan metode pendidikan Islam, yaitu:&lt;br /&gt;1. Dasar agama, meliputi pertimbangan bahwa metode yang digunakan bersumber dari tuntunan al-Quran, sunah Nabi dan pelaksanaan pendidikan yang dilakukan oleh para sahabat dan para ulama sahabat.&lt;br /&gt;2. Dasar biologis, meliputi pertimbangan kebutuhan jasmani dan tingkat perkembangan usia anak didik.&lt;br /&gt;3. Dasar psikologis, meliputi pertimbangan terhadap motivasi, kebutuhan, emosi, minat, sikap, keinginan, kesediaan, bakat, dan intelektual anak didik.&lt;br /&gt;4. Dasar sosial, meliputi pertimbangan sosial di lingkungan anak didik.&lt;br /&gt;Karena itu, ungkap al-Syaibani selanjutnya, bahwa metode pendidikan Islam merangkum empat tujuan pokok, yaitu: (1) menolong anak didik mengembangkan kemampuan individunya, (2) membiasakan anak didik membentuk sikap diri, (3) membantu anak bertindak efektif dan efisien, dan (4) membimbing aktifitas anak didik. &lt;br /&gt;Atas dorongan firman-firman Allah itulah, umat Islam sejak masa Nabi telah menaruh perhatian tentang metode mendidik dan mengajarkan agama kepada anak didik berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Kemampuan psikologis dalam menerima dan menghayati serta mengamalkan ajaran agama sesuai dengan usia, bakat dan lingkungan hidupnya, seperti Nabi yang menyatakan bahwa kita harus dapat berbicara kepada manusia sesuai dengan tingkat kemampuan akal pikirannya, juga harus berdasarkan atas hikmah kebijaksanaan dan mauizah yang baik.&lt;br /&gt;2. Kemampuan pendidik sendiri harus siap (paraat) baik dalam ilmu pengetahuan yang akan diajarkan maupun sikap mental serta keguruannya dalam waktu melaksanakan tugas pendidikan benar-benar mantap dan menyakinkan. Sebagaimana Ibnu Abdun pernah menasihatkan agar guru jangan mengajar pada waktu lapar, haus, sedih, marah atau tidak tenag pikirannya atau dalam keguncangan batin. Dan jangan terlalu lama pelajaran yang diberikan, sehingga menjemukan atau janganlah suaranya terlalu keras atau terlalu lemah sehingga tak terdengar oleh para pendengarnya.&lt;br /&gt;3. Tujuan pendidikan harus dipegang sebagai pengaruh dalam menggunakan metode karena metode apapun hanya berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan. Bisa juga metode itu bersifat polyvalent  (banyak guna) tidak  monovalent (satu guna) saja, yang sangat bergantung pada tujuan yang hendak dicapai. Oleh karena itu, pendidikan muslim perlu memahami pandangan hidup  (way of life) Islam karena ia bertugas mentransformasikan nilai-nilai agama Islam ke dalam pribadi anak didik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;[URL=http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html]http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html[/URL]&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2425223017908718266-3383278996555024989?l=nafi82.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nafi82.blogspot.com/feeds/3383278996555024989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/05/tinjauan-teoritis-tentang-metode.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/3383278996555024989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/3383278996555024989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/05/tinjauan-teoritis-tentang-metode.html' title='TINJAUAN TEORITIS TENTANG METODE PENDIDIKAN DALAM ISLAM'/><author><name>NAFI KANDANGAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15298715059182094551</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JMe35SNgMFM/SfVLWczCeeI/AAAAAAAAAAc/FD-UBSQp110/S220/gatot-kaca-bule.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2425223017908718266.post-2530405692750903260</id><published>2009-05-05T11:28:00.001+07:00</published><updated>2009-05-05T11:40:15.834+07:00</updated><title type='text'>IMPLEMENTASI NILAI-NILAI IBADAH KURBAN DALAM PENDIDIKAN ANAK</title><content type='html'>BAB III&lt;br /&gt;IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM &lt;br /&gt;IBADAH KURBAN  PADA PENDIDIKAN ANAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kurban dan Hukumnya&lt;br /&gt;Kurban berasal dari bahasa Arab, al-udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan, seperti unta, sapi (kerbau), dan kambing yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq sebagai taqarrub kepada Allah.  &lt;br /&gt;Allah swt., telah mensyariatkan kurban dengan firman-Nya,"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus." (Al-Kautsar: 1-3).&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah dalam Alquran surah al-Hajj ayat 36, yang artinya: Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam Keadaan berdiri (dan telah terikat). kemudian apabila telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur.&lt;br /&gt;Hukum Kurban&lt;br /&gt;Ibadah kurban hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Bagi orang yang mampu melakukannya lalu ia meninggalkan hal itu, maka ia dihukumi makruh. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi saw., pernah berkurban dengan dua kambing kibasy yang sama-sama berwarna putih kehitam-hitaman dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelih kurban tersebut, dan membacakan nama Allah serta bertakbir (waktu memotongnya).&lt;br /&gt;Hadis Nabi saw.,:&lt;br /&gt;عن أنس، قال: ضحى النبي صلى الله عليه وسلم بكبشين أملحين أقرنين. ذبحهما بيده وسمى وكبر. ووضع رجله على صفاحهما. )رواه مسلم(&lt;br /&gt;Artinya: Dari Anas, dia berkata: Nabi saw., menyembelih dua ekor kambing kibas yang sama-sama berwarna putih kehitam-hitaman dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelih kurban tersebut, dan membacakan nama Allah serta bertakbir (waktu memotongnya).&lt;br /&gt;Kesunahmuakadan ibadah kurban ini didasarkan  oleh hadis dari Ummu Salamah, yang mengatakan bahwa Nabi bersabda:&lt;br /&gt;إذا رأيتم هلال ذي الحجة، وأراد أحدكم أن يضحي، فليمسك عن شعره وأظفاره (رواه مسلم)&lt;br /&gt;Artinya: Dan jika kalian telah melihat hilal (tanggal) masuknya bulan Dzu al-Hijjah, dan salah seorang di antara kalian ingin berkurban, maka hendaklah ia membiarkan rambut dan kukunya. &lt;br /&gt;Arti sabda Nabi saw., “ingin berkorban” adalah dalil bahwa ibadah kurban ini sunnah bukan wajib. Diriwayatkan dari Abu Bakar dan Umar ra bahwa mereka berdua belum pernah melakukan kurban untuk keluarga mereka berdua, lantaran keduanya takut jika perihal kurban itu dianggap wajib. &lt;br /&gt;Binatang yang boleh untuk kurban adalah onta, sapi (kerbau) dan kambing. Untuk selain yang tiga jenis ini tidak diperbolehkan. Allah swt., berfirman yang artinya:" Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).&lt;br /&gt;Dan dianggap memadai berkurban dengan domba yang berumur setengah tahun, kambing jawa yang berumur satu tahun, sapi yang berumur dua tahun, dan unta yang berumur lima tahun, baik itu jantan atau betina. Hal ini sesuai dengan hadis-hadis di bawah ini: &lt;br /&gt;Binatang-Binatang yang Tidak Diperbolehkan untuk Kurban&lt;br /&gt;Syarat-syarat binatang yang untuk kurban adalah bintang yang bebas dari aib (cacat). Karena itu, tidak boleh berkurban dengan binatang yang aib seperti di bawah ini:&lt;br /&gt;a. Yang penyakitnya terlihat dengan jelas. &lt;br /&gt;b. Yang picak dan jelas terlihat kepicakannya. &lt;br /&gt;c. Yang pincang sekali. &lt;br /&gt;d. Yang sumsum tulangnya tidak ada, karena kurus sekali. &lt;br /&gt;Rasulullah saw., bersabda:&lt;br /&gt;اربع لا تجوز فى الضحايا العوراء البين عورهــا, والمريضة البين مرضها, والعرجاء البين ضلعها, والكبيرة التى لاتنقى (رواه احمد و الاربعة)  &lt;br /&gt;Artinya: ”Empat macam hewan yang tidak boleh dijadikan kurban, yaitu : yang tampak jelas butanya, yang tampak jelas sakitnya, yang tampak jelas pincangnya, dan hewan tua yang tidak bersumsum.” (HR Ahmad dan Imam Empat) &lt;br /&gt;e. Yang cacat, yaitu yang telinga atau tanduknya sebagian besar hilang.&lt;br /&gt;Selain binatang lima di atas, ada binatang-binatang lain yang tidak boleh untuk kurban, yaitu: &lt;br /&gt;a. Hatma' (ompong gigi depannya, seluruhnya). &lt;br /&gt;b. Ashma' (yang kulit tanduknya pecah). &lt;br /&gt;c. Umya' (buta). &lt;br /&gt;d. Taula' (yang mencari makan di perkebunan, tidak digembalakan). &lt;br /&gt;e. Jarba' (yang banyak penyakit kudisnya). &lt;br /&gt;Juga tidak boleh berkurban dengan binatang yang tak bersuara, yang buntutnya terputus, yang bunting, dan yang tidak ada sebagian telinga atau sebagian besar bokongnya tidak ada. Menurut yang tersahih dalam mazhab Syafi'i, bahwa yang bokong/pantatnya terputus tidak mencukupi, begitu juga yang puting susunya tidak ada, karena hilangnya sebagian organ yang dapat dimakan. Demikian juga yang ekornya terputus. &lt;br /&gt;Waktu Penyembelihan&lt;br /&gt;Untuk kurban disyaratkan tidak disembelih sesudah terbit matahari pada hari 'Idul Adha. Sesudah itu boleh menyembelihnya di hari mana saja yang termasuk hari-hari Tasyrik, baik malam ataupun siang. Setelah tiga hari tersebut tidak ada lagi waktu penyembelihannya.&lt;br /&gt;Dari al-Barra' ra., bahwa Nabi saw.,  bersabda:&lt;br /&gt;إن أول ما نبدأ به في يومنا هذا، نصلي ثم نرجع فننحر. فمن فعل ذلك، فقد أصاب سنتنا. ومن ذبح، فإنما هو لحم قدمه لأهله. ليس من النسك في شيء  (رواه مسلم)&lt;br /&gt;Artinya: "Sesungguhnya yang pertama kali kita lakukan pada hari ini (Idul adha) adalah kita salat, kemudian kita kembali dan memotong kurban. Barangsiapa melakukan hal itu, berarti ia mendapatkan sunnah kami. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum itu, maka sembelihan itu tidak lain hanyalah daging yang ia persembahkan kepada keluarganya yang tidak termasuk ibadah kurban sama sekali."&lt;br /&gt;Dari Bara’ ra., mengatakan bahwa Rasulullah saw., bersabda: &lt;br /&gt;من صلى صلاتنا، ووجه قبلتنا، ونسك نسكنا، فلا يذبح حتى يصلي (رواه مسلم)&lt;br /&gt;Artinya: Barangsiapa salat sesuai dengan salat kami dan menghadap ke kiblat kami, dan beribadah dengan cara ibadah kami, maka ia tidak menyembelih kirban sebelum ia salat'."&lt;br /&gt;Bergabung dalam Berkurban&lt;br /&gt;Dalam berkurban dibolehkan bergabung jika binatang korban itu berupa onta atau sapi (kerbau). Karena, sapi (kerbau) atau unta berlaku untuk tujuh orang jika mereka semua bermaksud berkurban dan bertaqarrub kepada Allah swt.&lt;br /&gt;Nabi saw.,  memberikan penetapan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, sebagai berikut:&lt;br /&gt;و عن جابر بن عبد الله قال : نحرنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم عام الحديبية البدنة عن سبعة و البقرة عن سبعة (رواه مسلم) &lt;br /&gt;Artinya: Jabir bin Abdullah berkata: Kami pernah menyembelih bersama Rasulullah saw., pada tahun Hudaibiyah seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang.  &lt;br /&gt;Pembagian Daging Kurban&lt;br /&gt;Disunahkan bagi orang yang berkurban memakan daging kurbannya, menghadiahkannya kepada para kerabat, dan menyerahkannya kepada orang-orang fakir.  Dalam hal ini para ulama mengatakan, yang afdhal adalah memakan daging itu sepertiga, menyedekahkannya sepertiga dan menyimpannya sepertiga. Daging kurban boleh diangkut (dipindahkan) sekalipun ke negara lain. Akan tetapi, tidak boleh dijual, begitu pula kulitnya. Dan, tidak boleh memberi kepada tukang potong daging sebagai upah. Tukang potong berhak menerimanya sebagai imbalan kerja. Orang yang berkurban boleh bersedekah dan boleh mengambil kurbannya untuk dimanfaatkan (dimakan).&lt;br /&gt;Menurut Abu Hanifah, bahwa boleh menjual kulitnya dan uangnya disedekahkan atau dibelikan barang yang bermanfaat untuk rumah.&lt;br /&gt;Orang yang Berkurban Menyembelihnya Sendiri&lt;br /&gt;Orang yang berkorban yang pandai menyembelih disunahkan menyembelih sendiri binatang kurbannya. Ketika menyembelih disunahkan membaca, "Bismillahi Allahu Akbar, Allahumma haadza 'an?" (Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar, ya Allah kurban ini dari ?[sebutkan namanya]).&lt;br /&gt;Karena, Rasulullah saw., menyembelih seekor kambing kibasy dan membaca, "Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma haadza 'anni wa'an man lam yudhahhi min ummati" (Dengan nama Allah, dan Allah Maha Besar, Ya Allah sesungguhnya (kurban) ini dariku dan dari umatku yang belum berkurban)." (HR Abu Daud dan Tirmidzi).&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah saw.,:&lt;br /&gt;عن جابر بن عبد اللّه قال: ذبح النبي صلى اللّه عليه وسلم يوم الذبح كبشين أقرنين أملحين موجئين ، فلما وجههما قال: "إنِّي وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض، على ملة إبراهيم حنيفاً، وما أنا من المشركين، إنَّ صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي للّه ربِّ العالمين لاشريك له، وبذلك أمرت وأنا من المسلمين، اللهمَّ منك ولك عن محمدٍ وأمته، باسم اللّه واللّه أكبر" ثم ذبح  .(رواه أبو داود)&lt;br /&gt;Artinya: Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Nabi saw., menyembelih pada hari Raya Adha dua ekor kibas yang sama-sama berwarna putih kehitam-hitaman dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelih kurban tersebut, dan membacakan nama Allah serta bertakbir (waktu memotongnya). Manakala dihadapkan kedua kibas itu, beliau bersabda: Inni wajahtu …Allahumma minka wa laka an Muhammad wa umatihi, bi ismillah wa Allahu akbar.” Kemudan beliau menyembelih.&lt;br /&gt;Jika orang yang berkurban tidak pandai menyembelih, hendaknya dia menghadiri dan menyaksikan penyembelihannya. Dan menyembelihnya pun harus dengan adab-adab syariah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud, hadis Nabi saw.,: &lt;br /&gt;عن شدّاد بن أوس قال: خصلتان سمعتهما من رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم "إن اللّه كتب الإِحسان على كلِّ شيء، فإِذا قتلتم فأحسنوا".(رواه أبو داود)&lt;br /&gt;Artinya: Dari Saddad bin Aus, dia berkata: dua hal yang aku dengar dari Rasulullah saw.,: (1) Sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan atas tiap sesuatu, (2) apabila kalian hendak menyembelih maka baguskanlah sembelihan kalian.&lt;br /&gt;B. Hikmah Kurban&lt;br /&gt;Ibadah kurban disyariatkan Allah untuk mengenang Nabi Ibrahim as., dan sebagai suatu upaya untuk memberikan kemudahan pada hari Id, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw., "Hari-hari itu tidak lain adalah hari-hari untuk makan dan minum serta berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla."&lt;br /&gt;Memperingati Idul Adha, atau bisa juga disebut hari raya Kurban, sesungguhnya menuntut kembali ketakwaan dan peran umat Islam di tengah realitas sosial, setelah sekitar dua bulan sebelumnya telah meninggalkan puasa di bulan Ramadhan dan dilanjutkan Idul Fitri yang pesan-pesannya adalah juga supaya kaum muslim menjadi orang bertakwa.&lt;br /&gt;Adanya keyakinan bahwa nilai takwa bersifat fluktuatif, maka pesan hari raya Kurban seperti ingin meneguhkan kembali keimanan dan kedekatan akan kehadiran Tuhan sebagai salah satu implementasi pesan takwa. Hari raya Kurban jauh dari mitos-mitos di balik penyembelihan hewan, bahkan secara tegas dalam firman-Nya, dikatakan dalam Alquran sendiri bahwa Tuhan tak menilai darah dan daging hewan kurban, tetapi hanya menilai ketakwaan seseorang. Firman Allah swt., dalam surah al-Hajj ayat 37 yang artinya: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.&lt;br /&gt;Asal usul diturunkannya ayat itu (asbab al-Nuzul) adalah terkait dengan kisah-kisah Israiliyat, dalam arti kisahnya juga tertuang pada kitab Perjanjian Lama yang juga dipegang oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Dikisahkan bahwa Nabi kaum monoteis, Nabi Ibrahim, ketika itu diperintah Tuhan untuk menyembelih anaknya, Ismail, lewat suatu mimpi. Karena ketakwaannya yang tinggi, Ibrahim menuruti perintah itu. Namun ketika akan mengeksekusi, Tuhan menggantikannya dengan seekor domba yang besar. Melihat secara integral atas firman Tuhan di atas, jelas bahwa hari raya Kurban ingin meneguhkan ketakwaan di satu sisi dan di sisi lain menyiratkan pesan bahwa berkurban sangat jauh dari mitologi penyembelihan hewan seperti dituduhkan kaum Jahiliyah pada masa Nabi Muhammad. &lt;br /&gt;Sebaik-baiknya pesan takwa, kemudian tak berhenti hanya pada penghadiran kembali akan Tuhan dalam iman kaum muslim, namun melampaui dari itu, iman akan Tuhan kemudian diimplementasi ke dataran realitas-sosiologis, sehingga kehadiran kaum muslim berperan dalam setiap aspek kehidupan sosial yang ada.   &lt;br /&gt;Kurban dan Realitas Sosiologis&lt;br /&gt;Pada skala yang bertataran mikro dan simbolik dalam Idul Adha, kaum muslim yang berkecukupan-ekonominya diperintah untuk berkurban. Ia membeli hewan kurban seperti domba untuk satu orang, sedangkan hewan lain seperti kerbau atau sapi bisa untuk tiga orang lebih. Sekali lagi, nilai-nilai yang dituangkan dalam mekanisme seperti itu adalah dalam rangka memupuk iman dan ketakwaan pada Tuhan yang kategorinya dijustifikasi oleh ketentuan hukum (fikih). Hewan-hewan kurban itu lalu disembelih, kemudian dagingnya dibagi-bagikan hingga menjangkau lebih dari 30 orang fakir-miskin (untuk satu hewan kurban) dalam komunitas di mana seseorang yang berkurban itu tinggal.&lt;br /&gt;Jika dilihat pada skala makro, pesan hari raya kurban menyiratkan tentang pentingnya arti kepedulian akan sesama. Maksudnya jelas, ketakwaan bukan berarti hanya kesalehan individu yang tak menyentuh dengan persoalan-persoalan, misalnya, kemiskinan. Namun di situ ketakwaan mesti berimplikasi pada peneguhan identitas seorang muslim untuk turut berpartisipasi secara konkret terhadap pengentasan kemiskinan dan berkiprah dalam realitas sosial. Kesadaran untuk peduli terhadap sesama itu sangat penting, karena kehidupan manusia pada intinya saling bersimbiosis. Yang kaya membutuhkan yang miskin, begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;Dalam ajaran Islam, seseorang diperintahkan untuk mencari kekayaan,  karena kemiskinan akan membawa pada kekafiran. Namun ketika Tuhan telah memberi rizki yang banyak dan memberi kekayaan pada seseorang, maka sudah sepatutnya pula kekayaannya diperuntukan untuk membantu mengentaskan kemiskinan dan berguna bagi realitas sosiologis. Karena kesadaran akan iman kemudian menghantarkan pengetahuan, bahwa kemiskinan akan membawa kekafiran, atau bahkan bisa mengakibatkan kerusakan jiwa pada orang yang miskin, maka tugas mengentaskan kemiskinan adalah bersifat wajib bagi tanggung jawab orang kaya. Rasa peduli itu di tengah-tengah kebudayaan-globalitas-modernitas yang menyelubungi setiap orang di jaman sekarang ini, terasa sudah sangat menipis, asing dan langka. Sehingga, terkadang diperlukan adanya suatu peringatan-peringatan kembali dalam ranah keagamaan yang mesti diimplementasi dalam ranah sosiologis, seperti adanya perayaan Kurban itu, untuk memacu kesadaran pada setiap orang agar kembali pada pesan-pesan takwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membumikan Pesan Kurban&lt;br /&gt;Selama ini, pembumian pesan-pesan keagamaan hanya diimplementasikan dalam persoalan-persoalan hukum. Atau bisa dikatakan, pola keberagamaan kita sangat berwajah fikih, yang sangat kaku dan formalistik. Sifat fikih yang formalistik itu jelas berpendekatan struktural, dalam arti ada ketentuan-ketentuan batasan yang diberlakukan. Misalnya, berkurban untuk satu orang adalah dengan satu ekor domba, sedangkan untuk dua orang dengan dua ekor domba. &lt;br /&gt;Hal-hal seperti itu sudah diatur dalam kitab-kitab fikih, padahal berkurban, karena ia berimplikasi pada realitas sosial, mestinya tak dibatasi dengan ketentuan seperti itu. Akan tetapi dibatasi (atau pembatasannya) secara kultural ditentukan hingga di mana tingkat kemampuan seseorang bisa memberinya.&lt;br /&gt;Pesan-pesan Islam tak selamanya (dan tak diwajibkan) mesti hanya didekati dengan pendekatan struktural model fikih seperti itu. Tapi justru pendekatan kultural akan lebih melatih tingkat sensitifitas nilai keberagamaan dan iman seseorang.&lt;br /&gt;Kesadaran berkeagamaan baiknya dibangun lewat dimunculkannya nilai-nilai kesadaran kultural itu sehingga pesan-pesan agama yang terselundup dalam iman seseorang ketika akan diimplementasikan tak bersifat paksaan (atau agama seperti memaksa). Namun, implementasi pesan-pesan agama karena terbangun lewat kesadaran kultural, maka bersifat tulus datang dari kesadaran berkeagamaan seseorang itu sendiri.&lt;br /&gt;Melihat tradisi keagamaan yang selama ini dibangun dengan mekanisme dan pendekatan fikih yang formalistik dan struktural seperti itu, sudah saatnya lewat peringatan hari Raya Kurban ini, kemudian pembumian Islam dibangun lewat suatu tradisi baru yang lebih bersifat kultural. Karena hampir sama dengan nilai-nilai ketakwaan itu sendiri, yang datang secara kultural ke dalam iman kaum muslim untuk kemudian terimplementasikan dalam ranah sosiologis. Dengan pembumian kurban, dan juga pembumian ajaran-ajaran Islam lainnya secara kultural, mudah-mudahan kaum muslim dapat memahami, menilai dan mengeksekusi segala persoalan keagamaan yang ada, baik yang bersifat ubudiah maupun amaliah-insaniah, tak bersifat kaku dan formalistik, akan tetapi bisa secara egaliter, cerdas dan substansial dapat mengartikulasi pesan-pesan dalam ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Nilai-Nilai Pendidikan dalam Ibadah Kurban&lt;br /&gt;Umat Islam seluruh dunia dalam beberapa hari merayakan hari Iedul-Kurban. Para jama'ah haji sibuk dengan ritual melempar Jamarat setelah sehari sebelumnya wuquf di padang Arafah. Pada saat para jama'ah haji wuquf di padang Arafah, mereka yang tidak berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji disunnahkan untuk melaksanakan puasa sehari di hari Arafah (9 Dzulhijjah) dan menyembelih hewan kurban pada Iedul-Kurban (10 Dzulhijjah). &lt;br /&gt;        Ibadah kurban pada hakekatnya mengikuti sunnah keluarga besar nabi Ibrahim as keluarga tauhid yang lurus yang telah memberikan contoh sempurna dalam menghambakan diri kepada Allah. Ada beberapa hikmah keteladan yang perlu kita fahami. Yang pertama dari Hajar, istri nabi Ibrahim, kita dapat belajar keikhlasannya dalam mengorbankan putra satu-satunya yang tercinta, setelah sekian lama bersusah payah dalam mengandung dan melahirkan, dilanjutkan dengan berbagai kesusahan untuk mempertahankan hidup putranya yang ditinggal suaminya di tengah padang pasir yang kering kerontang. Ibu mana yang hidup di jaman modern ini yang akan merelakan anaknya disembelih suaminya yang katanya atas perintah Allah. Hajar, yang karena keimanannya yakin betul bahwa suaminya tidak akan menyalahi perintah Allah, merelakan anaknya disembelih untuk memenuhi seruan Allah. Keikhlasan Hajar dalam mengorbankan putranya dapat dijadikan teladan bagi para ibu dalam menumbuhkan jiwa berkorban.&lt;br /&gt;Dari Isma'il sendiri kita dapat belajar bagaimana seorang anak muda karena keimanannya rela mengorbankan nyawanya karena Allah. Ketika ayahnya menyampaikan kepadanya perintah Allah untuk menyembelihnya, Isma'il menjawab yang artinya: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".) Subhanallah, andaikan perintah itu disampaikan kepada anak muda jaman sekarang mungkin ayahnya sudah dituduh gila. Bahkan bukan tidak mungkin ayahnya terlebih dahulu akan dibunuh oleh anaknya. Hanya orang-orang yang mempunyai keimanan dengan landasan tauhid yang kuat yang rela mengorbankan nyawanya karena Allah. Sikap seperti inilah yang mestinya diteladani oleh setiap orang beriman. &lt;br /&gt;Nabi Ibrahim as., nabi yang terkenal karena kelurusan tauhid dan kecerdasan akalnya, telah membenarkan perintah Allah untuk menyembelih anaknya. Dia tidak pernah mempersoalkan perintah yang nampak tidak masuk akal itu dan tidak pernah meragukannya. Dia korbankan kecerdasan akalnya untuk mendahulukan perintah Allah. Di jaman modern manusia terjebak kepada pendewaan akal. Sains dan teknologi seolah muncul sebagai kekuatan baru yang dipertuhan. Padahal semua itu adalah makhluk Allah. Allah telah menciptakan sunnatullah yang memungkinkan manusia untuk mengembangkan sains dan teknologi. Manusia mestinya memanfaatkan akal, sains dan teknologi untuk menghambakan diri kepada Allah. Bukan justru sebaliknya berbuat syirik, menuhankan akal, sains dan teknologi disamping Allah. Sikap nabi Ibrahim as., yang mendahulukan wahyu dari pada akal tersebut tetap relevan untuk dijadikan teladan dalam kehidupan di abad modern ini.&lt;br /&gt;Kurban yang kita laksanakan selama ini yakni dengan menyembelih hewan kurban dan membagikannya kepada keluarga, orang-orang fakir dan orang-orang yang meminta lebih bermakna simbolis. Besar kurban yang kita keluarkan tidak seberapa jika dibandingkan dengan pengurbanan yang dilakukan oleh keluarga besar nabi Ibrahim as. Dengan memahami ilmu dan mengikuti keteladannya kita berharap untuk dapat mewarisi sikap mendahulukan Allah dari pada yang lain. Disamping itu dengan melaksanakan ibadah kurban ini diharapkan akan tumbuh jiwa kedermawanan dalam diri setiap orang yang berkurban. Kedermawanan ini sangat penting dalam mendukung kesuksesan dakwah Islam. Maka pantas kalau Rasulullah saw.,  bersabda bahwa tidak ada amal anak Adam yang paling disukai Allah pada hari raya kurban selain daripada menyembelih kurban. &lt;br /&gt;Lebaran Kurban dikenal sebagai Hari Raya Akbar. Pada hari ini, Bapak Para Nabi, Ibrahim atau Abraham, melukis kisah keagamaan dan kemanusiaan yang tak akan pernah dilupakan oleh sejarah: hendak mengkurbankan anak kesayangannya. Dengan segala keikhlasan dan kasih sayang, Ibrahim membawa anaknya untuk dikurbankan, sesuai dengan perintah Tuhan. Namun Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tak bermaksud mengkurbankan manusia demi diri-Nya. Tanpa sepengetahuan Ibrahim, anak yang hendak dikurbankan telah diganti oleh Tuhan dengan kambing. &lt;br /&gt;Agama-agama samawi melukis kisah suci ini dengan tinta emas. Tak ada perbedaan yang substansial dalam melukiskan kisah agung itu. Oleh karenanya, tak berlebihan bila Lebaran Kurban disebut sebagai ‘gusti’ hari-hari keagamaan. Itu sebabnya, perayaan Hari Raya Kurban di sebagian daerah seperti Timur Tengah jauh lebih besar ketimbang hari-hari kegamaan lainnya. &lt;br /&gt;Hari Raya Kurban tak bisa dilepaskan dari sosok Nabi Ibrahim. Karena, sebagaimana telah dijelaskan, tokoh inilah yang hendak mengkurbankan anaknya. Setidaknya ada dua hal penting untuk dihadirkan kembali terkait dengan Panutan Para Nabi ini. Pertama, pembebasan dan kasih sayangnya kepada keluarga. Ibrahim dikenal sangat menghargai keluarganya. Bahkan memberi kebebasan kepada mereka. Ibrahimlah yang menyampaikan perintah Tuhan dalam bentuk ‘tawar menawar’ kepada anaknya. &lt;br /&gt;Sebagaimana dimaklumi, mengkurbankan anak adalah perintah Tuhan. Namun Nabi Agung ini tidak serta merta memaksa anaknya untuk mengikuti kehendaknya, karena perintah Tuhan sekalipun. Sebaliknya, Ibrahim menyampaikan perintah Tuhan kepada anaknya dalam bentuk ‘tawar menawar’. Hal ini bisa dilihat dalam firman Allah swt., dalam surah al-Shafat ayat 102, yang artinya: "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".&lt;br /&gt;Kedua, keberagamaan. Dalam beragama, Ibrahim tak seperti umat kebanyakan pada waktu itu, bahkan umat sekarang. Ibrahim tak mau beragama hanya karena itu adalah agama pendahulu dan masyarakat sekitar. Bagi Ibrahim, agama adalah rasionalitas dan kesadaran, baru kemudian keimanan. Dengan kata lain, sebelum meyakini agamanya, Ibrahim memerdekakan dirinya dari anasir subjektif yang mencakup agama para pendahulu dan masyarakat sekitar. Sebaliknya, Ibrahim berjalan sesuai dengan ‘suara hati’ dalam menemukan agama yang memerdekakan itu.&lt;br /&gt;Kisah panjang pencarian Ibrahim as., terhadap agamanya termaktub dalam kitab-kitab langit. Alquran surat al-An’am (74-79), contohnya, mengisahkan bagaimana Ibrahim hampir menuhankan bintang, rembulan dan matahari hanya karena: mereka menyinari, menerangi dan menghangatkan. Baru kemudian Ibrahim beriman kepada Dzat yang menciptakan semua itu. Bahkan, setelah beriman sekalipun, Ibrahim tetap dengan nalar kritisnya. Ibrahimlah yang pernah bertanya kepada Tuhan tentang proses menghidupkan kembali mereka yang telah mati (QS. 2: 259). Di sini dapat ditegaskan, hakikat perayaan Lebaran Kurban adalah menghidupkan kembali kemerdekaan beragama, sebagaimana telah diajarkan oleh Bapak Para Nabi: Ibrahim as. &lt;br /&gt;Peneguhan kemerdekaan dalam beragama mutlak dibutuhkan di masa sekarang. Tak dapat dipungkiri, agama bagi kebanyakan umat sekarang bukanlah rasionalitas, kesadaran dan keimanan. Agama masih seringkali dipahami sebagai warisan, irasionalis, atau bahkan kekuatan. Akibatnya, keteladanan dalam beragama sebagaimana ditampakkan Nabi Ibrahim jarang ditemukan di masa sekarang. &lt;br /&gt;Yang terjadi saat ini bukan mendialogkan kembali perintah Tuhan (sebagaimana dilakukan Nabi Ibrahim as., kepada anaknya), tapi penerapan perintah Tuhan secara membabi buta. Bahkan, yang masih dalam batasan asumsi sekalipun. Yang terjadi saat ini bukan menghormati keluarga (sebagaimana dilakukan Nabi Ibrahim), tapi memaksa umat untuk mengamalkan seperti yang diyakininya. Hatta umat yang berbeda keyakinan sekalipun.&lt;br /&gt; Tidak ada peristiwa pengorbanan yang terbesar yang tercatat dalam sejarah perkembangan dunia kecuali kisah Nabi Ibrahim as., yang harus menyembelih anak kandungnya Ismail karena mendapat perintah dari Allah swt., untuk mengorbankan anak kandungnya itu. Agaknya selama dunia terkembang inilah kisah pengorbanan yang paling monumental, yang setiap tahun selalu dirujuk dan dikenang. Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim as., yang harus mengorbankan anak satu-satunya, Nabi Ismail as., amat sangat mencekam. Betapa tidak, anak yang paling disayang, diperintahkan untuk dikurbankan. &lt;br /&gt;Dalam perspektif kekinian, perintah itu memang terasa sangat aneh dan mengada-ada. Tapi di zaman nabi-nabi dulu, perintah seperti itu memang dimungkinkan terjadi. Mendengar perintah yang diterima oleh ayahandanya, Ismail dengan yakin dan ikhlas menjawab penuh hormat kepada ayahandanya: "….Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".&lt;br /&gt;Kemudian, sebagaimana diriwayatkan dalam buku-buku sejarah Islam, Nabi Ibrahim as., membawa Ismail ke suatu tempat yang sunyi di Mina, tempat dimana para jemaah haji beratus-ratus tahun kemudian melakukan ritual melempar jumrah. Konon, sebelum acara penyembelihan dimulai, Ismail as., mengajukan tiga permohonan, yaitu: (1) sebelum ia disembelih hendaknya terlebih dahulu Ibrahim as., mengasah pisau setajam-tajamnya agar ia cepat mati dan tidak menimbulkan rasa kasihan maupun penyesalan dari ayahnya; (2) ketika menyembelih, muka Ismail harus ditutup agar tidak timbul rasa ragu dalam hati ayahnya, karena kasihan melihat wajah anaknya; dan (3) bila penyembelihan telah selesai, agar pakaian Ismail yang berlumuran darah dibawa ke hadapan ibunya, sebagai saksi bahwa kurban telah dilaksanakan. &lt;br /&gt;Maka, sebagaimana diriwayatkan, dengan berserah diri kepada Allah swt., Ismail pun dibaringkan dan dengan segera Ibrahim as., menyentakkan pisaunya dan mengarahkannya ke leher anaknya. Akan tetapi, sebagaimana disebut dalam kitab suci Alquran, keajaiban memang terjadi sebagaimana dikehendaki oleh Allah swt. Ismail as., diganti oleh Allah swt., dengan seekor domba yang besar. Maka kisah mega kurban itu pun berakhir dengan happy ending.&lt;br /&gt;Andaikan Ismail as., tidak diganti secara tiba-tiba oleh Allah swt., dengan seekor domba, maka peristiwa tragis akan terjadi, dan tentu ceritanya akan lain. Tentulah Nabi Ismail as., mati muda dan tentu kemudian Nabi Ibrahim harus membawa pakaian yang berlumuran darah itu pulang ke rumahnya untuk diperlihatkan kepada isterinya yaitu Siti Hajar ibunda dari Ismail as., bahwa kurban telah dilaksanakan. Hati ibu mana yang tidak akan hancur berkeping-keping bila suasana itu kita pandang dalam emosi dengan perspektif kekinian. Dan tentulah lain skenario sejarah mega kurban itu yang harus dijelaskan kepada umat Islam sampai kiamat menjelang. &lt;br /&gt;Peristiwa itu mengingatkan kepada manusia yang beriman bagaimana semestinya kepatuhan dan ketaatan kepada perintah Allah itu. Nabi Ibrahim telah menunjukkan betapa patuhnya dia, dikalahkannya semua perasaan sedihnya yang tentu amat sangat luar biasa. Nabi Ibrahim tidak tahu adanya skenario dari Allah swt., untuk mengganti Ismail dengan domba di saat kritis itu. Oleh karenanya peristiwa mega kurban Nabi Ibrahim as., dan Nabi Ismail as., itu kemudian diabadikan oleh Allah swt., menjadi salah satu unsur syariat Islam, yang hingga kini dilaksanakan oleh setiap muslim yang mampu.&lt;br /&gt;        Setiap tahun kemudian umat Islam yang memiliki kemampuan dan keberadaan selalu menyembelih hewan kurban dan memberikan daging hewan kurbannya kepada orang-orang yang tidak mampu. Daging-daging hewan kurban itu bahkan tidak lagi hanya didistribusikan lintas RT atau RW, Saudi Arabia misalnya, setiap tahun mengirim beratus-ratus ton daging hewan kurban ke negara-negara Islam yang miskin di Afrika. Tindakan menyembelih hewan kurban itu sesungguhnya bermakna simbolik. Di masa Nabi Ibrahim as., hewan ternak merupakan simbol kekayaan yang paling tinggi. Orang yang banyak memiliki ternak adalah orang kaya, orang yang tidak memiliki ternak adalah orang miskin. Tapi di zaman sekarang simbol kekayaan bukan lagi kambing, onta atau sapi, melainkan rumah-rumah mewah, mobil mercy atau perkebunan berhektar-hektar. Menyembelih seekor kambing atau seekor sapi bagi orang kaya harganya mungkin tak seberapa. &lt;br /&gt;         Penyembelihan hewan kurban tidak lagi dilihat hanya dalam aspek kepatuhan terhadap perintah Allah swt., ketaatan menjalankan syariat agama, tetapi juga mengandung semangat toleransi dan kesetiakawanan. Lebih dari itu sesungguhnya adalah semangat kebersamaan dan semangat rela berkorban. Yang kaya membantu yang miskin, yang kuat membantu yang lemah, yang pintar menolong yang bodoh. Dalam makna yang paling hakiki, kurban berarti kedekatan. Esensi pelaksanaan ibadah kurban, adalah sesuai dengan artinya, yaitu dekat, atau dengan kata lain, bahwa kurban merupakan sebuah upaya mendekatkan diri dengan Tuhan dan sesama manusia. Dalam hubungan antar manusia, setiap orang memerlukan orang lain, dan hubungan yang ideal mestilah terbangun atas dasar saling memberi dan mendekatkan diri.&lt;br /&gt;         Sebuah negeri yang maju, tidaklah cukup karena negeri itu telah mempunyai sejumlah sumberdaya alam, tenaga terdidik, atau karena mempunyai seperangkat pengaturan. Tidak, sungguh semua itu tidak cukup. Semua kelebihan yang ada hanya akan memberikan hasil yang baik, jika orang-orang yang hidup di dalamnya, memiliki semangat saling berbagi dan punya rasa saling memiliki antara satu komponen dengan komponen yang lain, dan kemudian rasa itu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, kekayaan yang dimiliki oleh sesebuah negeri, akan menjadi sebuah fitnah, atau lebih menakutkan lagi, menjadi punca kehancuran, jika di dalamnya tidak hidup orang-orang yang mampu dan mau berbagi demi kemaslahatan bersama. &lt;br /&gt;Dari sisi yang lain, kurban juga dapat dielaborasi sebagai suatu sikap untuk menjalankan fungsi secara benar. Jika harta merupakan kewajiban dan pelaksanaan fungsi secara benar dari orang kaya terhadap si miskin, maka para birokrat dapat pula melaksanakan makna kurban itu dengan memberikan layanan publik secara maksimal. Begitu juga para pengusaha, ketika ia memperhatikan nasib para buruh dengan baik, maka sesungguh ia telah menjalankan usaha dengan makna yang sama. Pun juga, para penyapu jalan, jika fungsinya dilakukan secara baik, maka iapun akan sampai pada hakikat itu. Sekali lagi, inti kurban adalah, setiap orang melakukan fungsi dalam kapasitasnya masing-masing. Jika kita kembalikan kepada kisah Nabi Ibrahim as di atas, maka bukankah keberanian Nabi Ibrahim, juga didasarkan pada pelaksanaan fungsi dan kewajiban sebagai Nabi Allah yang taat kepada Khaliknya?&lt;br /&gt;Hal yang menyedihkan adalah, bahwa semangat berkurban, dalam berbagai esensi dan makna, kian menipis dalam hubungan horizontal atau sesama manusia. Dewasa ini, orang-orang sepertinya sedang terperangkap dalam kemaruk pemuasan diri sendiri dan melupakan bahwa di sekitarnya ada tanggung-jawab yang harus ia pikul sebagai konsekuensi menjadi "golongan yang dimenangkan" oleh realitas. Kita seringkali dibuat tertegun, ketika melihat, betapa dengan sengaja orang menganiaya orang lain demi kepentingannya, dan sekali waktu kita tersentak pula, ketika menyaksikan betapa orang secara sadar untuk berlaku tidak peduli dengan orang yang mengharapkan pertolongan dari padanya. Bukankah pada sekujur diri kita, ada kewajiban terhadap orang lain? Bukankah Islam mengajarkan, bahwa Orang yang paling berguna/mulia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain? &lt;br /&gt;Hari Raya Kurban ini merupakan sebuah latar dasariah yang baik bagi kita semua untuk kembali ke makna kurban. Jika selama ini kita merasa kurang dekat dengan orang lain maka dari sekarang, mari secara bersama kita memperbaikinya. Jika selama ini kita alpa dalam melakukan kewajiban dan tanggung-jawab kemanusiaan, maka tak ada kata terlambat untuk menata diri. Riwayat mega kurban Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, akan terus bergemuruh dalam jiwa kemanusian dan kehambaan kita, jika semangat kurban itu kita dentingkan dalam kekinian, serta kita terjemahkan dalam perilaku kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;D. Implementasi Nilai-Nilai Pendidikan dalam Ibadah Kurban Pada Anak&lt;br /&gt;1. Menanamkan nilai-nilai akidah pada anak&lt;br /&gt;Nilai-nilai pendidikan akidah yang bisa diimplementasikan dari ibadah kurban adalah keimanan Nabi Iberahim, Nabi Ismail dan Siti Hajar kepada Allah, meskipun perintah tersebut hanya melalui mimpi dengan bertentangan dengan rasional. Sehingga bisa disimpulkan bahwa ibadah kurban tersebut adalah wujud dari keikhlasan dari seorang hamba kepada Rabb-nya. Bahkan seorang hamba tersebut bersedia mengorbankan jiwa, harta, perasaan dan apapun yang diminta oleh Tuhannya. Dalam hal ini muncullah pelajaran berharga bagi kita, khususnya pada anak yang telah mengerti tentang cerita, orang tuanya menceritakan tentang ketaatan Nabi Ibrahim as., Nabi Ismail as., dan Siti Hajar dalam proses pelaksanaan ibadah kurban. Hal tersebut akan membuat anak terikat oleh ikatan emosional dengan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita tersebut.&lt;br /&gt;Bila diperlukan untuk memantapkan suntikan akidah bagi anak ceritakan pula kisah Nabi Ibrahim as., mencari Tuhan dalam surah al-An’am ayat 74-79. Dan orang  tua bisa memberikan kesempatan anak untuk bertanya.  &lt;br /&gt;Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, pengimplementasian nilai-nilai pendidikan Akidah bisa disuntikan melalui metode bercerita/kisah Qurani dan Nabawi dan tanya jawab dan orang tua/pendidik harus kreatif dalam menggunakan metode-metode ini dan mengemaskan dengan baik hingga bisa diterima oleh anak.&lt;br /&gt;Setelah menanamkan nilai-nilai akidah kepada anak, orang tua bisa mengadakan evaluasi terhadap anak, baik melalui pertanyaan atau observasi sikapnya sehari-hari. Serta tetap membimbingnya hingga benar-benar tertanam nilai-nilai akidah dalam jiwanya.&lt;br /&gt;Akidah Islam adalah iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, kepada qadla dan qadar baik buruk keduanya dari Allah swt. Keimanan terhadap keenam rukun iman tersebut haruslah didapat dengan proses berpikir dan dilandaskan pada dalil naqli (Alquran &amp; al-Hadis) maupun aqli (nalar). Akal memiliki peran yang sangat besar dalam proses keimanan seseorang. &lt;br /&gt;Allah swt., berfirman dalam surat al-Jaatsiyat ayat 3-4 yang artinya:  “Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan binatang-binatang melata yang berterbaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang meyakini.” &lt;br /&gt;          Menanamkan aspek keimanan kepada anak dapat kita kaji dari langkah-langkah Rasulullah saw., dalam membina dan mendidik pribadi anak selama bergaul dengan anak-anak. Kita akan menemukan lima pola dasar pembinaan Akidah sebagai berikut: Mengajarkan kalimat tauhid, menanamkan cinta kepada Allah swt., menanamkan cinta pada Rasulullah saw., mengajarkan Alquran  dan mendidik anak berpegang teguh pada Akidah dan rela berkurban. &lt;br /&gt;1. Mengajarkan Kalimat Tauhid &lt;br /&gt;Ibnu Abbas ra menceritakan bahwa Rasulullah saw.,  bersabda: &lt;br /&gt;افتحوا على صبيانكم كلمة لا اله الا الله ولقنوهم عند الموت لا اله الا الله (رواه البيهقى عن مسعود)&lt;br /&gt;Artinya: Jadikanlah kata-kata pertama kali yang diucapkan seorang anak adalah kalimat Laa ilaaha illallaah. Dan bacakan padanya ketika menjelang maut kalimat Laa ilaaha illallaah.  &lt;br /&gt;Tujuannya adalah agar kalimat pertama kali yang didengar anak yang baru lahir adalah kalimat tauhid (keesaan Allah). Setelah itu memperdengarkan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tanamkan Cinta Pada Allah &lt;br /&gt;Mengenalkan Allah pada anak juga dapat dilakukan dengan terus menerus membiasakan mengucapkan kalimat thayyibah. Seperti mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar disertai dengan aktivitas yang dilakukan sehingga anak bisa menyambungkan bacaan dan aktivitasnya. Misalnya Alhamdulillah diucapkan sebagai wujud rasa syukur ketika selesai melakukan aktivitas tertentu. Subhanallah dilafadzkan jika melihat ciptaan Allah dan sebagainya. &lt;br /&gt;Dapat juga mulai mengenalkan Allah melalui ciptaan-Nya. Anak-anak seusia ini sangat senang dengan binatang. Anak bisa kita ajak ke kebun binatang, mendengarkan suara-suara binatang, bernyanyi dan lain-lain. Tentang siapa Allah, ajarkan surat al-Ikhlas dengan artinya, dan juga lagu-lagu yang syairnya dapat mengenalkan anak pada Allah swt. &lt;br /&gt;3. Tanamkan Cinta pada Rasul &lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Abu Nasr dari Ali ra., bahwa Rasulullah saw., bersabda:&lt;br /&gt;ادبوا اولادكم على ثلاث حصال: حب نبيكم, وحب أهـل بينه, و قرأة القرأن (رواه ابو نصر الشرازى عن علي أمير المؤمنين)&lt;br /&gt;Artinya: “Didiklah anak-anakmu pada tiga perkara: mencintai nabi kamu, mencintai ahli baitnya dan membaca Alquran. &lt;br /&gt;Para sahabat dan ulama salaf sangat suka menceritakan sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw., terhadap anak-anak mereka. Cerita tentang sejarah kehidupan Nabi akan berpengaruh kepada perkembangan jiwa anak. Karena pemahaman yang baik terhadap kepribadian Nabi saw., secara tidak disadari akan menumbuhkan rasa cinta  anak terhadap pribadi beliau. Beliau akan dijadikan sebagai tokoh pujaan yang pada akhirnya anak akan berusaha meniru apa yang beliau telah lakukan selama hidupnya. &lt;br /&gt;Langkah semacam ini secara perlahan akan membentuk pribadi anak mencintai Rasulullah.  Anak dapat memahami perjuangan beliau dalam menyelamatkan umat manusia dari lingkungan yang penuh dengan kesesatan menuju lingkungan yang baik, dari kebatilan menuju, dan dari kebodohan menuju cahaya Islam yang gemilang. &lt;br /&gt;4. Mengajarkan Alquran &lt;br /&gt;Al-Ghazali dalam Ihya, sebagaimana dikutip oleh Abdullah Nashih Ulwan, mengatakan bahwa anak harus diajari tentang Alquran, hadis, dan cerita orang-orang saleh, kemudian hukum-hukum agama. &lt;br /&gt;Mengajarkan Alquran kepada anak berarti mengajak anak untuk dekat kepada pedoman hidupnya. Dengan cara itu, mudah-mudahan  kelak ketika dewasa anak-anak benar-benar dapat menjalani hidup sesuai dengan Alquran. Inilah satu-satunya jalan untuk membentuk menjadi manusia yang shaleh. Mengajarkan Alquran pada anak dapat dilakukan dengan mulai mengenalkan, memperdengarkan, dan menghafalkan. &lt;br /&gt;Tak heran bila Rasulullah mengingatkan kita untuk mendidik anak dengan Alquran. Allah berfirman dalam surat al-Isra ayat 9 yang artinya: "Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.&lt;br /&gt;Saat yang paling tepat mengenalkan Alquran adalah ketika anak sudah mulai tertarik dengan buku. Anak usia 2 sampai 3 tahun biasanya sudah mulai tertarik dengan buku. Hal ini penting, karena banyak orang tua yang lebih suka menyimpan Alquran di rak lemari paling atas. Sesekali perlihatkanlah Alquran kepada anak sebelum mereka mengenal buku-buku lain, apalagi buku dengan gambar-gambar yang lebih menarik. &lt;br /&gt;Mengenalkan Alquran juga bisa dilakukan dengan mengenalkan terlebih dulu huruf-huruf hijaiyyah. Bukan mengajarinya membaca, tetapi sekedar memperlihatkannya sebelum anak mengenal A, B, C, D. Tempelkan gambar-gambar tersebut ditempat yang sering dilihat anak.Tentu dilengkapi dengan gambar dan warna yang menarik. Dengan sering melihat, akan memancing anak untuk bertanya lebih lanjut. Saat itulah kita boleh memperkenalkan huruf-huruf Alquran. &lt;br /&gt;Memperdengarkan ayat-ayat Alquran bisa dilakukan secara langsung atau dengan memutar kaset atau CD. Kalau ada teori yang mengatakan bahwa mendengarkan musik klasik pada janin dalam kandungan akan meningkatkan kecerdasan, insya Allah memperdengarkan Alquran akan jauh lebih baik pengaruhnya buat bayi. Apalagi jika ibu yang membacanya sendiri. &lt;br /&gt;Ketika membaca Alquran, suasana hati dan pikiran ibu akan menjadi lebih khusyu’ dan tenang. Kondisi seperti ini, akan sangat membantu perkembangan psikologis janin yang ada  dalam kandungan karena secara teoritis, kondisi psikologis ibu tentu akan sangat berpengaruh pada perkembangan bayi khususnya perkembangan psikologisnya. Ibu yang sering mengalami stress, tentu akan berpengaruh buruk pada kandungannya. &lt;br /&gt;Memperdengarkan Alquran bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Juga tidak mengenal batas usia anak. Untuk anak-anak yang belum bisa bicara, Insya Allah lantunan ayat Alquran itu akan terekam dalam memorinya. Dan jangan heran kalau tiba-tiba si kecil lancar melafadzkan surat al-Fatihah, misalnya begitu dia bisa bicara. Untuk anak yang lebih besar, memperdengarkan ayat-ayat Alquran (surat-surat pendek) terbukti memudahkan anak menghafalkannya. &lt;br /&gt;Menghafalkan Alquran bisa dimulai sejak anak lancar berbicara. Mulailah dengan surat atau ayat yang pendek. Atau potongan lafadz dari sebuah ayat (misalnya fastabiqul khayrat, hudallinnas, birrulwalidayn dan sebagainya). Menghafal bisa dilakukan dengan cara sering-sering membacakan ayat-ayat tersebut kepada anak, dan latihlah anak untuk menirukannya. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai anak hafal di luar kepala. &lt;br /&gt;Masa anak-anak adalah masa meniru dan memiliki daya ingat yang luar biasa. Orang tua harus menggunakan kesempatan ini dengan baik, jika tidak ingin menyesal kehilangan masa emas (golden age) pada anak. Menghafal bisa dilakukan kapan saja. Usahakan di saat  anak merasa nyaman. Walau demikian, hendaknya orang tua tetap mempunyai target baik tentang ayat, atau jumlah yang akan dihafal anak. &lt;br /&gt;5. Nilai Perjuangan dan Pengorbanan &lt;br /&gt;Mengenalkan anak kepada Allah, Rasulullah, dan Alquran pada anak balita akan menjadi dasar tumbuhnya Akidah dalam jiwa anak. Perlu jadi catatan bahwa menanamkan Akidah pada anak sejak dini merupakan sarana pendidikan yang efektif bagi pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak.  Bahkan, bisa menumbuhkan nilai perjuangan dan pengorbanan pada diri anak. &lt;br /&gt;          Ceritakan kisah anak-anak para sahabat yang sangat antusias mempelajari ajaran Islam, bahkan tidak sedikit yang berani berkurban untuk menegakkan dan mengharumkan kalimat Allah. Imam Ahmad dan Bukhari mengeluarkan sebuah hadits yang bersumber dari Anas Bin Malik ra., yang menceritakan bahwa Haritsah bin al-Rabi’ ra., ikut dalam perang Badar, padahal dia masih kecil. Tiba-tiba sebatang anak panah mengenai urat lehernya, dan mati syahidlah dia. &lt;br /&gt;Fase kanak-kanak merupakan tempat yang subur bagi pembinaan dan pendidikan. Masa kanak-kanak ini cukup lama, dimana seorang pendidik bisa memanfaatkan waktu yang cukup untuk menanamkan dalam jiwa anak, apa yang dia kehendaki. Jika masa kanak-kanak ini dibangun dengan penjagaan, bimbingan dan arahan yang baik, dengan izin Allah subhanahu wata’ala maka kelak akan tumbuh menjadi kokoh. Seorang pendidik hendaknya memanfaatkan masa ini sebaik-baiknya. Jangan ada yang meremehkan bahwa anak itu kecil.&lt;br /&gt;Mengingat masa ini adalah masa emas bagi pertumbuhan, maka hendaknya masalah penanaman Akidah menjadi perhatian pokok bagi setiap orang tua yang peduli dengan nasib anaknya.&lt;br /&gt;6. Penanaman Akidah&lt;br /&gt;Akidah islamiyah dengan enam pokok keimanan, yaitu beriman kepada Allah subhanahu wata’ala, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, serta beriman pada qadha’ dan qadar yang baik maupun yang buruk, mempunyai keunikan bahwa kesemuanya merupakan perkara gaib. Seseorang akan merasa hal ini terlalu rumit untuk dijelaskan pada anak kecil yang mana kemampuan berfikir mereka masih sangat sederhana dan terbatas untuk mengenali hal-hal yang abstrak.&lt;br /&gt;Sebenarnya setiap bayi yang lahir diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala di atas fitrah keimanan.&lt;br /&gt;Allah berfirman dalam Alquran surah al-Α’raf ayat 172 yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menajdi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).’”&lt;br /&gt;Adalah bagian dari karunia Allah subhanahu wata’ala pada hati manusia bahwa Dia melapangkan hati untuk menerima iman di awal pertumbuhannya tanpa perlu kepada argumentasi dan bukti yang nyata. Dengan demikian, menanamkan keyakinan bukan dengan mengajarkan ketrampilan berdebat dan berargumentasi, akan tetapi caranya adalah menyibukkan diri dengan al Quran dan tafsirnya, hadits dan maknanya serta sibuk dengan ibadah-ibadah. Kita perlu membuat suasana lingkungan yang mendukung, memberi teladan pada anak, banyak berdoa untuk anak, dan hendaknya kita tidak melewatkan kejadian sehari-hari melainkan kita menjadikannya sebagai sarana penanaman pendidikan baik itu pendidikan Akidah maupun pendidikan lainnya.&lt;br /&gt;7. Teladan Kita&lt;br /&gt;Jika kita perhatikan para rasul dan nabi, mereka selalu memberikan perhatian yang besar terhadap keselamatan Akidah putera-putera mereka. Perhatian nabi Ibrahim, diantaranya adalah sebagaimana terdapat dalam firman Allah swt.,  dalam Alquran surah Albaqarah ayat 132 yang artinya: “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yaqub. (Ibrahim berkata): Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama islam.”&lt;br /&gt; Firman Allah dalam Alquran surah Ibrahim ayat 35, yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.”&lt;br /&gt;Demikian juga Lukman mempunyai perhatian yang besar pada puteranya sebagaimana wasiatnya yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surah Luqman ayat 13 yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.”&lt;br /&gt;8. Sejak Masih Kecil&lt;br /&gt;Perhatian terhadap masalah Akidah hendaknya diberikan sejak anak masih kecil. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam memberikan perhatian kepada anak-anak meski mereka masih kecil. Beliau membuka jalan dalam membina generasi muda, termasuk diantaranya Ali bin Abi Thalib yang beriman kepada seruan nabi ketika usianya kurang dari sepuluh tahun. Begitu juga dalam menjenguk anak-anak yang sakit pun beliau memanfaatkan untuk menyeru mereka kepada Islam yang ketika itu di hadapan kedua orang tua mereka.&lt;br /&gt;Menurut Dr. Adil Syadi dan Dr. Ahmad Mazid, ada 10 tip sukses mendidik anak dalam masalah akidah, yaitu:&lt;br /&gt;a. Ajarkan pada anak kalimat tauhid.&lt;br /&gt;b. Ajarkan dan beritahukan kepada anak kenapa kita diciptakan.&lt;br /&gt;c. Jangan sering menakut-nakutinya dengan neraka, siksa, kemurkaan dan hukuman Allah.&lt;br /&gt;d. Buatlah anak lebih banyak mencintai Allah.&lt;br /&gt;e. Peringatkan dia dari berbuat kejahatan dan beri tahukan bahwa Allah selalu melihatnya.&lt;br /&gt;f. Ajarkan dzikir kepada Allah.&lt;br /&gt;g. Ajarkan untuk cinta kepada Rasul.&lt;br /&gt;h. Kuatkan keyakinan anak terhadap qadha dan qadar dalam pikirannya.&lt;br /&gt;i. Ajarakan kepada anak 6 (enam) rukun iman.&lt;br /&gt;j. Ajukan pertanyaan yang berhubungan dengan akidah. Seperti; siapa Rabb-mu? Apa agamamu? &lt;br /&gt;Jika para teladan kita begitu perhatian dengan anak-anak sejak mereka masih kecil, maka sangat mengherankan jika kita membiarkan anak-anak kita tumbuh dengan kita biarkan begitu saja terdidik oleh lingkungan dan televisi.&lt;br /&gt;Masih banyak kita dapati bahwa oleh banyak orang, anak kecil dianggap tidak layak untuk diberi penjelasan mengenai Alquran dan maknanya, dianggap tidak berhak untuk diberi perhatian terhadap mentalitasnya. Terkadang dengan berdalih “Kemampuan berfikir anak kecil masih sederhana, maka tidak baik membebani mereka dengan hal-hal yang rumit dan berat. Tidak baik membebani anak di luar kesanggupan mereka.” Atau kita juga banyak mendapati ketika anak terjatuh pada kesalahan-kesalahan, mereka membiarkan begitu saja dengan berdalih “Ah… tidak apa-apa, mereka kan masih kecil.”&lt;br /&gt;Dalih yang disampaikan memang tidak sepenuhnya salah, namun sayangnya tidak diletakkan pada tempatnya. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;2. Menanamkan tanggungjawab beribadah&lt;br /&gt;Di samping menanamkan nilai-nilai pendidikan akidah yang terdapat pada ibadah kurban kepada anak, orang tua juga mesti menanamkan nilai-nilai pendidikan ibadah di dalam ibadah kurban kepada anak. &lt;br /&gt;Berdasarkan kemakluman bersama bahwa kebanyakan anak suka bertanya dan berfikir logis baik terhadap permasalahan agama yang dihadapinya ataupun persoalan-persoalan lain. Di sini orang tua dituntut untuk memberikan alasan-alasan logis tentang ibadah kurban. Misalnya saja, ibadah kurban itu adalah suatu ibadah yang disyariatkan dalam agama Islam, dan ditekankan bagi orang-orang yang mampu. Dalam berkurban dituntut untuk ikhlas, demikian juga untuk ibadah-ibadah lainnya, semuanya harus dilakukan semata-mata karena Allah, tidak boleh ada niatan lain. Sebagaimana dijelaskan oleh firman Allah swt., dalam surah al-Hajj ayat 37, yang artinya: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.&lt;br /&gt; Di sini peran orang tua dalam menekankan niat tulus dalam beribadah hanya untuk Allah swt. Orang tua menanamkan kepada agar meniatkan segala bentuk perbuatan yang baik meskipun hal tersebut mubah, agar bernilai di sisi Allah. Misalnya saja makan dan minum, diniatkan untuk kuat beribadah kepada Allah, demikian halnya dengan tidur dan lain-lain. Dalam ibadah kurban ada ibadah besar yang tidak bisa dikesampingkan, yaitu ibadah haji. Orang tua harus bisa menjelaskan tentang haji secara global kepada anak, hingga anak mampu mencerna hal-hal yang halus dari ibadah haji dan puasa termasuk mengemukakan hikmah-hikmah dalam ibadah haji dan kurban.&lt;br /&gt;Firman Allah swt., dalam Alquran surah Luqman ayat 17, yang artinya: Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).&lt;br /&gt; Hadis Nabi saw., yang berbunyi: &lt;br /&gt;مروا اولادكم بالصلاة  وهم ابناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم ابناء عشر سنين وفرقوا بينهم فى المضاجع (رواه ابو داود( &lt;br /&gt;Artinya: Perintahkan anak-anak kalian untuk (mengerjakan) shalat ketika mereka berumur 7 tahun, dan pukullah mereka karena (meninggalkan) sholat ketika mereka berumur 10 tahun dan pisahkan tempat tidur mereka.&lt;br /&gt;Al-Malibari menjelaskan bahwa anak-anak diperintahkan shalat pada umur 7 tahun sempurna (perlu diingat bahwa ini adalah 7 tahun dalam hitungan tahun hijiriah bukan masehi, sehingga diharapkan orang tua tidak menunda kewajiban dan tanggung jawabnya mendidik anak untuk belajar shalat) dan seharusnya diperintah dengan perintah yang sungguh-sungguh dan wajib memukulnya bila ia meninggalkan shalat pada umur 10 tahun dengan pukulan yang tidak menyakiti (membahayakan).  &lt;br /&gt;Dr. Adil Syadi dan Dr. Ahmad Mazid, mengemukan ada beberapa tip untuk menyuntikkan tanggung jawab ibadah, yaitu: &lt;br /&gt;a. Ajarkan kepada anak 5 (lima) rukun Islam&lt;br /&gt;b. Latih anak mengerjakan shalat&lt;br /&gt;c. Ajak anak ke mesjid dan ajarilah cara berwudhu yang benar&lt;br /&gt;d. Ajarkan etika-etika di mesjid&lt;br /&gt;e. Latihlah untuk berpuasa&lt;br /&gt;f. Motivasi anak untuk menghafal apa yang mudah dari Alquran dan hadis, serta ajari dzikir-dzikir yang shahih&lt;br /&gt;g. Berilah hadiah bila ada kemajuan dalam menghafal&lt;br /&gt;h. Jadilah teladan yang baik bagi anak&lt;br /&gt;i. Latihlah anak untuk bersedekah dan berinfak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menanamkan kebiasaan berakhlak mulia&lt;br /&gt;Setiap pengalaman yang dilalui anak, baik melalui penglihatan, pendengaran, maupun perlakuan yang diterimanya akan ikut menentukan pembinaan pribadinya.&lt;br /&gt;Bekal pertama bagi orang tua adalah ia merupakan pribadi yang dapat dijadikan contoh teladan dari pribadi Islami, orang tua bersifaf jujur, tawadhu’, berani, benar, dan sebagainya. Keimanannya tercermin dalam pribadinya, perlakuannya terhadap anak menyenangkan, kasih sayang dalam membina dan mendidik meski tidak harus diwujudkan dengan memberikan segala apa yang dikehendaki anak dan membiarkan kesalahan anak tanpa dibenarkan. Hukum diberikan bila diperlukan.&lt;br /&gt;Bekal kedua adalah pengertian dan kemampuannya untuk mengerti dan memahami perkembangan jiwa anak serta perbedaan antara anak. Latihan-latihan keagamaan pada anak usia 7-10 tahun harus diberikan, hal tersebut selain mencerminkan dari pengamalan hadis Nabi, juga untuk menanamkan kepribadian Islami pada diri/jiwa anak. Latihan-latihan keagaan tersebut bisa berupa shalat, doa, membaca Alquran (menghafalkan surah-surah pendek), shalat berjamaah di mesjid/musholla, hingga lama kelamaan ia akan tumbuh rasa senang melakukan ibadah tersebut, terbiasa dan mengalir pada jiwanya tanpa dorongan siapapun.&lt;br /&gt;Keluarga sangat berperan besar dalam mengembangkan kepribadian anak, mengingat keluarga merupakan tempat sosialisasi pertama bagi anak, dimana norma-norma, budi pekerti, hal-hal mengenai kehidupan diperkenalkan kepada anak melalu keluarga. Orang tua dalam hal ini menjadi peran utama dalam mengembangkan kepribadian anak dan membentuk karakteristik anak, dalam keluarga yang terdapat kehangatan dalam keluarga anak akan mendapatkan sesuatu untuk dipelajari dan diolah menjadi karakteristik anak tersebut, sebagai contoh: anak yang berbudi pekeri baik sudah dapat dipastikan didalam keluarganya ia mendapat kehangatan kasih sayang serta komunikasi yang cocok di dalam keluarga, namun bila ada anak yang nakal dapat tercermin bahwa dia kurang mendapat kehangatan kasih sayang dalam keluarga. Namun hal ini tidak dapat dipastikan sebagai penyebabnya. bisa saja karenapengaruh lingkungan yang kurang baik sehingga anak tersebut berperilaku menyimpang. Hal ini dapat diatasi dengan mengawasi pergaulan anak serta mengadakan pengawasan yang tinggi terhadap pergaulan anak sehingga kepribadian anak dapat terbentuk dengan baik&lt;br /&gt;Kepribadian yang baik yang terbentuk dari kecil dapat membantu kehidupan kelak dimasa dewasa. Yakni mudahnya anak menyesuaikan diri dengan lingkungan yang pada akhirnya anak akan mudah beradaptasi dengan berbagai macam lingkungan dan mudah dalam kehidupan, hal ini dapat dilihat dari berbagai contoh,misalnya saja anak yang mempunyai pribadi yang baik dia akan selalu berperilaku baik dan akan pasti akan selalu berbuat yang baik kepada lingkungan kehidupannya. Semua ini dapat terjadi dengan peran orang tua yang baik dan selalu mengontrol hal-hal yang dilakukan anak sesuai dengan porsinya. Karena orang tua merupakan tempat yang utama dan pertama berperan dalam pembentukan kepribadian anak, dalam hal ini komunikasi sangat diperlukan dalam mendidik anak agar tercipta kepribadian yang baik sesuai dengan harapan keluarga.&lt;br /&gt;Komunikasi yang efektif merupakan komunikasi yang berasal dari kedua belah pihak yang saling berperan dan mendapat respon ataupun umpan balik dari lawan komunikasi, untuk itu bahasa yang di gunakan haruslah komunikatif yakni dapat mudah dimengerti. Hal ini sangat diperlukan dalam komunikasi didalam keluarga untuk mendidik anak.&lt;br /&gt;Firman Allah dalam Alquran surah Luqman ayat 17, yang artinya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hadis Nabi saw., yang berbunyi: &lt;br /&gt;مـا نحل والد ولده  افضل من أدب حسن (رواه الترمذى والحـاكم عن عمرو ابن سعيد بن العـاص)&lt;br /&gt;Artinya: Tidak ada perberian orang tua terhadap anaknya yang lebih afdhal dari mengajarkan adab yang baik.&lt;br /&gt;Dr. Adil Syadi dan Dr. Ahmad Mazid, mengemukan ada beberapa tip untuk menyuntikkan nilai akhlak, yaitu:&lt;br /&gt;1. Jangan menanamkan rasa takut pada anak&lt;br /&gt;2. Jujurlah terlebih dahulu agar anak belajar kejujuran dari orang tua&lt;br /&gt;3. Jelaskan kepadanya nilai keutamaan sifat jujur dan amanah&lt;br /&gt;4. Ujilah sifat amanah anak tanpa dia menyadari&lt;br /&gt;5. Latihlah kesabaran&lt;br /&gt;6. Orang tua harus adil di antara anak-anaknya&lt;br /&gt;7. Ajarilah untuk mendahulukan kepentingan orang lain (bisa dengan metode cerita)&lt;br /&gt;8. Jelaskan dampak negatif perbuatan jahat&lt;br /&gt;9. Berilah motivasi bila ia berani menegakkan kebenaran&lt;br /&gt;10. Jangan bersifat keras kepada anak&lt;br /&gt;11. Buatlah anak menyukai perilaku rendah hati, lemah lembut dan tidak sombong.&lt;br /&gt;12. Ajarilah anak tentang fitrah manusia&lt;br /&gt;13. Ajarilah anak tentang kezholiman dan dampak negatifnya.&lt;br /&gt;14. Jelaskan perbedaan-perbedaan perbuatan negatif dan positif&lt;br /&gt;15. Tanamkan sifat kedermawanan pada anak&lt;br /&gt;16. Jangan pernah ingkar janji kepadanya (selamanya). &lt;br /&gt;Dapat dilihat dari kisah, tanya jawab Nabi Ibrahim as., dan Nabi Ismail as., tentang perintah penyembelihan Nabi Ismail as. Ini membuktikan kepada kita bahwa orang tua tidak boleh juga otoriter dan memaksakan kehendak kepada anak. Nabi Ismail as., sebagai contoh anak yang taat dan berbakti kepada orang tua. Di sini juga ada perintah untuk membaguskan sembelihan dengan cara menajamkan pisau penyembelihan, agar binatang yang disembelih tidak tersiksa dengan cepatnya dia mati. Dalam kurban juga ada perintah untuk membagikan daging kurban kepada kaum fakir miskin, sehingga tumbuh rasa silaturahmi dan persaudaraan, serta menumbuhkan jiwa kedermawanan bagi setiap muslim.&lt;br /&gt;Orang tua bisa menyuntikkan nilai-nilai pendidikan akhlak kepada anak dengan perumpamaan, contoh, cerita, tanya jawab dengan anak dengan tidak mengesampingkan variatif dalam metode penanaman nilai-nilai tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR KUTIPAN BAB III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;[URL=http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html]http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html[/URL]&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2425223017908718266-2530405692750903260?l=nafi82.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nafi82.blogspot.com/feeds/2530405692750903260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/05/implementasi-nilai-nilai-ibadah-kurban.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/2530405692750903260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/2530405692750903260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/05/implementasi-nilai-nilai-ibadah-kurban.html' title='IMPLEMENTASI NILAI-NILAI IBADAH KURBAN DALAM PENDIDIKAN ANAK'/><author><name>NAFI KANDANGAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15298715059182094551</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JMe35SNgMFM/SfVLWczCeeI/AAAAAAAAAAc/FD-UBSQp110/S220/gatot-kaca-bule.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2425223017908718266.post-3421416463546753582</id><published>2009-05-05T11:20:00.003+07:00</published><updated>2009-05-05T11:26:19.602+07:00</updated><title type='text'>TEORITIS PENDIDIKAN ANAK</title><content type='html'>BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN TEORITIS TENTANG PENDIDIKAN ANAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Tujuan Pendidikan Islam&lt;br /&gt; Bila kita ingin berbicara tentang tujuan Pendidikan Islam, kita harus melihat tujuan hidup manusia di dunia ini. Tujuan itu tertera dalam surah al-Dzariyat ayat 56, yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Artinya: “Dan tidaklah Aku jadikan Jin dan Manusia itu kecuali untuk beribadah kepadaku”.&lt;br /&gt;Beribadah itu jugalah yang menjadi tujuan yang akan dicapai oleh Pendidikan Islam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan Pendidikan Islam adalah “bagaimana merealisasikan ubudiyah lillah dalam kehidupan insan, baik seca individu ataupun kelompok”.&lt;br /&gt;Ibadah yang dimaksudkan di sini bukanlah terbatas pada ritual-ritual Islam, seperti shalat, puasa dan zakat, tapi lebih luas dari itu. Ibadah dalam pengeritan bahwa seseorang hanya menerima seluruh masalah kehidupannya dari Allah swt., dalam arti bahwa ia terus menerus dalam hubungan dengan Allah swt. Shalat, puasa, zakat tidak lebih dari miftah ibadah/kunci ibadah, atau sebagai halte tempat menambah perbekalan bagi seorang yang sedang mengembara. &lt;br /&gt;Sesungguhnya seluruh perjalanan, mulai dari awal, sampai kepada akhir adalah ibadah. Ibadah dalam pengertian seperti ini mencakup seluruh kehidupan manusia, tidak terbatas pada waktu pendek yang dipergunakan untuk ritual itu saja. Kalau itu yang dimaksud dengan ibadah oleh ayat 56 surah al-Dzariyat itu, tentu ayat itu tidak mempunyai makna yang mendalam. Apa artinya waktu yang bebarapa menit untuk ritual itu jika dibandingkan dengan kehidupan kita yang panjang itu! Hampir ia tidak mempunyai pengaruh apa-apa. Ayat ini baru mempunyai makna penting bila ibadah dijadikan manhaj hayah/sistim kehidupan manusia ini, dan bila ibadah itu menjadi cara berbuat, dan cara berfikir insan tersebut. Dalam arti bahwa semua perbuatan manusia harus kembali kepada Allah.&lt;br /&gt;Membentuk hubungan hati manusia dengan Allah swt., dan mendorong hati manusia untuk kembali kepada Allah pada setiap saat adalah kaedah pokok Pendidikan Islam. Dengan kaedah inilah semua masalah dilaksanakan. Tanpa kaedah ini segala perbuatan di dunia tidak mempunyai arti.&lt;br /&gt;Tujuan akhir (ultimate aim) pendidikan Islam adalah pembentukan pribadi khalifah bagi anak didik yang memiliki fitrah roh di samping badan, kemauan yang bebas, dan akal. &lt;br /&gt;Oleh sebab itu, tujuan Pendidikan Islam berbeda dengan tujuan pendidikan lainnya, yaitu membentuk muslim yang beramal shaleh. Dalam arti bahwa manusia yang ingin diciptakan oleh Pendidikan Islam adalah insan yang dalam semua amalnya selalu berhubungan dengan Allah swt.&lt;br /&gt;B. Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak&lt;br /&gt;Pendidikan anak yang pertama dan utama dilaksanakan oleh  orang tua di dalam keluarga. Untuk itu, diperlukan perencanaan dan persiapan yang rapi. Diperlukan konsep yang handal yang sesuai dengan penciptaan manusia, yaitu khalifah dan abdi Allah swt., penciptaan manusia, yaitu khalifah dan abdi Allah swt.&lt;br /&gt;Digambarkan dalam hadits Rasulullah saw., “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah dan kedua ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR. Muslim). Tingkah laku seseorang dalam pergaulan sehari-hari merupakan cerminan pendidikan mereka dalam  keluarga. Tingkah laku dan cerminan moral tersebut turut berperan dalam masalah kehidupan bangsa. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa sebenarnya keluarga dapat berbuat banyak dalam membina moral bangsa, yaitu melalui pembinaan terhadap moral anak-anaknya. Islam menyatakan, bahwa tujuan akhir dari pendidikan adalah tujuan-tujuan moralitas dalam arti yang sebenarnya. Allah berfirman dalam Alquran surah al-Ahzab ayat 21 yang berbunyi: &lt;br /&gt;                    &lt;br /&gt;Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik, bagi orang-orang yang berharap bertemu dengan Allah dan Hari Kiamat dan mengingat Allah dengan dzikir yang banyak.&lt;br /&gt; Pencapaian tujuan moralitas yang sebenarnya dilakukan dengan meneladani Rasulullah saw., yang berarti memperhatikan pendidikan jasmani, akal, dan ilmu. Seorang anak harus dapat mengurus dirinya sendiri, berpikir, mencari hakikat, berkata benar, membela kebenaran, jujur dalam amal perbuatan, bersedia mengorbankan kepentingan diri sendiri untuk kepentingan bersama, berpegang pada keutamaan, dan menghindari sifat-sifat tercela.&lt;br /&gt;Pendidikan anak harus ditujukan untuk pembentukan kata hati agar anak berperilaku sesuai dengan etika Islam. Mendidik keinginan agar dapat mengendalikan hawa nafsu. Seseorang yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsu akan mudah melakukan perilaku yang tidak bermoral. Hal itu terlihat pada kenyataan saat ini, begitu Pendidikan anak harus ditujukan untuk pembentukan kata hati agar anak berperilaku sesuai dengan etika Islam. Mendidik keinginan agar dapat mengendalikan hawa nafsu. Seseorang yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsu akan mudah melakukan perilaku yang tidak bermoral. Hal itu terlihat pada kenyataan saat ini, begitu begitu marak tindakan maksiat, penyiksaan, penipuan, dan tindak kejahatan lainnya.&lt;br /&gt;Sebagai sebuah solusi, Model Sistem Pendidikan Interventif  mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam pendidikan informal di rumah agar anak mencapai kedewasaan moral pada usia 15 tahun. Pendidikan agama Islam di rumah yang dimaksud dalam model ini bukanlah sekadar melaksanakan ritual peribadatan. Model Sistem Pendidikan Interventif memuat pendidikan untuk beragama dalam arti yang sebenarnya, meliputi Akidah, pemantapan keyakinan; Ibadah, melaksanakan peribadatan, baik ritual maupun pemahaman kaidah; serta Muamalah, pelaksanaan dan implementasi dari pemahaman arti ibadah yang berbentuk pelaksanaan perbuatan terhadap lingkungannya perbuatan terhadap lingkungannya.&lt;br /&gt;Model Sistem Pendidikan Interventif diselenggarakan dalam rangka pembinaan sumber daya berkualitas sebagai upaya dan cara yang utama dalam mengatasi masalah umat. Model Sistem Pendidikan Interventif adalah model yang mengacu pada pemeliharaan fitrah anak. Model ini akan mengantarkan anak menjadi seorang individu religius yang selalu berhubungan dengan Allah swt., atau hablumminallah dan makhluk sosial yang selalu melaksanakan hubungan kemanusiaan atau hablumminannas.&lt;br /&gt;Model Sistem Pendidikan Interventif merupakan suatu model  pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan orang tua dalam meningkatkan cara mendidik  anak-anaknya. Suatu model pembinaan yang terkoordinasi, terarah, dan dapat diselenggarakan secara berkelanjutan oleh semua keluarga  yang beragama Islam. Suatu bentuk mekanisme kerja sesuai dengan kegiatan pembangunan yang diarahkan untuk mengatasi masalah penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Islam. dan pengamalan nilai-nilai Islam.&lt;br /&gt;Dalam Islam juga ada konsep keluarga sakinah yakni keluarga yang tentram di mana suami-istri dituntut menciptakan kehidupan rumah tangga yang harmoni antara kebutuhan fisik dan psikis. Yang dimaksud psikis adalah menjadikan keluarga sebagai basis pendidikan sekaligus penghayatan agama anggota keluarga. &lt;br /&gt;Mengapa pendidikan agama lebih urgen dilakukan dalam keluarga? Jawabannya terkait kedudukan keyakinan agama dengan fungsi pendidikan formal dan informal. Agama secara teologis adalah seperangkat nilai yang abstrak yang memiliki kebenaran absolut secara akidah (teologis) bagi pemeluknya, sedang bentuk aplikasi dari nilai itu sudah bersifat syariat (dijabarkan lewat fikih) yaitu dengan cara menyusun pemikiran hukum (istinbatu al-ahkam min al-adilah) dari teori hukum yang ada (ushul fiqih) yang telah disistematisasi dalam bentuk qawaid al-fiqhiyyah.&lt;br /&gt;Dari sini diambil bentuk akhir keputusan hukum keagamaan jika kondisi persyaratan yang melatarbelakanginya mengalami perubahan. Di sinilah letak dinamika pengembangan fikih yang dilakukan dalam Islam dengan metodologi fikih. Dengan demikian implementasi nilai Islam yang abstrak diwujudkan dalam bentuk syariat yang diformulasi dari Alquran, Sunnah, dan Ijtihad (nalar) ulama. Karena intervensi nalar ini maka dikenal istilah mazhab fikih yakni cara ibadah model imam yang diikuti seperti mengikuti cara Syafi'iyah, Malikiyah, Hambaliyah, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Kaitannya dengan pendidikan, sebenarnya amat sempit bila pendidikan agama diletakkan dalam pendidikan formal (sekolah), sebab pendidikan formal dibatasi ruang, waktu, kurikulum, target nilai, jenjang, terlebih ada intervensi sistem pendidikan dari luar lembaga pendidikan. Ilmu yang dikaji bersifat terapan, mengedepankan nalar, keberhasilannya diwujudkan dalam kerangka pengembangan pengetahuan yang bersifat praksis seperti teknologi, ekonomi, pranata sosial, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Sedang pendidikan agama adalah lebih sakral bersifat sepanjang hidup, yang di dalamnya mencapai target matang (mature) bukan sekadar kaffah (kuantitatif) atau relegiusitas, tetapi kedalaman spiritualitas haqqa (uqatihi). Oleh karena keberagamaan seseorang bersifat spiritualitas, maka menjadi amat privat, pengetahuan yang sama tentang agama antarseseorang belum tentu sama dalam ketakwaan. Di sinilah pendidikan agama menjadi penting diletakkan dalam wilayah yang tidak disekat sistem. Penghayatannya harus paduan antara pengetahuan dan pengalaman. Karena keluarga sebagai basis interaksi secara utuh dalam keseharian seseorang, maka amat tepat pendidikan agama dipercayakan kepada keluarga seperti disebutkan dalam hadis Nabi. &lt;br /&gt;Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa peran orang tua dalam pendidikan anak sangat signifikan dalam membentuk keimanan, keislaman, kemuhsinan, dan keahlakan anak. Orang tua berfungsi sebagai pendidik dan pembimbing, pengayom dan psikolog bagi anak. Karena perannya yang sangat signifikan inilah Allah memberikan pahala yang luar biasa bagi orang tua yang bisa menjadikan anak-anaknya sebagai khalifah yang berjiwa tauhid, muslim, dan muhsin serta berbudi luhur baik terhadap sesama maupun lingkungan di muka bumi ini. Bahkan ketika orang tua mati, dimana tidak ada lagi seseorang yang bisa menambah amal kebaikannya, anak yang saleh masih bisa memberikan doa yang sampai kepada orang tua, ibadah-ibadah yang dikerjakan oleh anak akan juga diterima pahala oleh orang tuanya yang telah meninggal, bahkan tidak dikurangi sedikitpun. Dan untuk melahirkan anak-anak yang shaleh diperlukan kerja keras dari orang tua, dan tidak semudah membalik telapak tangan. Fungsinya sebagai pendidik utama dan pertama membuat orang tua berada pada posisi panglima dalam pembentukan jiwa keagamaan dan kepribadian anak. Fungsi orang tua sebagai pembimbing, menuntut orang tua untuk memberikan bimbingan terhadap perilaku anak, baik yang berkaitan dengan habluminallah  maupun habluminannas. Ketika anak memerlukan tempat mencurahkan isi hatinya karena kegundahannya orang tua akan beralih fungsi sebagai seorang psikolog. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Beberapa Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak&lt;br /&gt;Sesungguhnya pendidikan anak bukanlah sebuah kinerja serampangan yang mudah dilakoni setiap orang tanpa bekal ilmu dan pengetahuan. Pendidikan anak tidak lain  adalah proses kinerja rumit yang memiliki sekian barometer detail, kaidah dan formula syariat, serta menerima berbagai bentuk inisiatif (ijtihad) personal dan cara pandang psikologis yang dibangun di atas asas merealisasikan kepentingan-kepentingan anak dan pengembangan daya nalar mereka, perluasan wawasan dan pencegahan mereka dari berbagai hal buruk.&lt;br /&gt;Dr. Adil Syadi dan Dr. Ahmad Mazid menerangkan tentang beberapa kesalahan orang tua dalam mendididik anak, yaitu:&lt;br /&gt;1. Sikap menyepelekan problematika pendidikan&lt;br /&gt;2. Dikte Orang tua&lt;br /&gt;3. Keteladanan yang kontradiktif&lt;br /&gt;4. Kebekuan Hati&lt;br /&gt;5. Meremehkan Kemungkaran&lt;br /&gt;6. Mengabaikan Realitas&lt;br /&gt;7. Tidak Mengakui Kekeliruan &lt;br /&gt;8. Egois dalam Mengambil Keputusan&lt;br /&gt;9. Tidak menghormati privasi&lt;br /&gt;10. Isolasi &lt;br /&gt;D. Pendidikan Keimanan, Ibadah dan Akhlak pada Anak&lt;br /&gt;Pahala yang paling baik, paling sempurna, dan paling besar, yang akan diperoleh oleh orang tua adalah bila mereka mengajarkan dan menanamkan prinsip-prinsip tauhid dalam hati anaknya. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah: iman, cinta kepada Allah dan Rasul-nya, taat kepada keduanya, serta takut kepada siksa Allah, dan hanya mengharap pahala dari-Nya.   Ketika anak mulai bisa berbicara anak diajari kalimat tauhid. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra., yang telah menceritakan bahwa Nabi saw., pernah bersabda: &lt;br /&gt;افتحوا على صبيانكم كلمة لا اله الا الله ولقنوهم عند الموت لا اله الا الله (رواه البيهقى عن مسعود)&lt;br /&gt;Artinya: “Ajarilah kepada anak-anak kalian pada permulaan bicaranya ucapan la ilaaha illallah,  dan ajarkan pula agar di akhir hayatnya mengucapkan laa ilaaha illallah.” (Baihaqi dalam Syu’bul ImanJuz 4 Hadits Nomor 8649. Menurut penelitinya, matan hadis ini gharib. Dia tidak menulisnya, kecuali hanya dengan isnad ini). &lt;br /&gt; Dalam hal ibadah Nabi sebenarnya menekankan orang tua untuk mengajarinya sejak kecil, meskipun dalam sebuah hadis orang tua baru diperintahkan untuk menyuruh anak untuk beribadah shalat ketika umur 7 (tujuh) tahun dan memukulnya karena meninggalkan sholat ketika umur 10 (sepuluh) tahun. Sebagaimana hadis Rasulullah saw.,:&lt;br /&gt;مروا اولادكم بالصلاة  وهم ابناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم ابناء عشر سنين وفرقوا بينهم فى المضاجع (رواه ابو داود) &lt;br /&gt;Artinya: Perintahkan anak-anak kalian untuk (mengerjakan) shalat ketika mereka berumur 7 tahun, dan pukullah mereka karena (meninggalkan) sholat ketika mereka berumur 10 tahun dan pisahkan tempat tidur mereka. (HR Abu Daud)&lt;br /&gt;Dalam penekanan pendidikan akhlak kepada anak dengan menyatakan bahwa sesuatu pemberian yang paling baik dari orang tua adalah pengajaran akhlak. Orang tua hendaknya mengajarkan kejujuran kepada anaknya. Tetapi sebelumnya orang tua wajib melaksanakan sifat jujur itu kepada dirinya sendiri, orang tua hendaknya mengajarkan kepada anak apa nilai keutamaan sifat jujur dan amanah. Orang tua yang berbuat adil kepada anak-anaknya adalah sarana paling efektif untuk mengajari mereka etika keadilan. Demikianlah hendaknya diterapkan dalam pendidikan anak dalam setiap momen untuk membentuk kepribadian islami anak.&lt;br /&gt;E. Metode Pendidikan pada Anak&lt;br /&gt;Firman Allah dalam surah al-Nahl ayat 78:&lt;br /&gt;    •               &lt;br /&gt;Artinya:  “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur” &lt;br /&gt;Anak dilahirkan ke dunia hanya membawa fitrah keimanan, tidak mengerti apa-apa tentang ilmu pengetahuan baik yang berhubungan dengan duniawi maupun ukhrawi. Sehingga orang tuanya lah yang dituntut untuk memberikan dan menginternalisaikan pendidikan keimanan, keislaman, dan kemuhsinan. Sebagaimana telah dijelaskan oleh hadis nabi bahwa anak itu lahir dalam keadaan fitrah dan orang tuanyalah yang berperan dan memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan jiwa keagamaannya. Di dalam menyuntikkan ilmu pengetahuan ketahuidan, keislaman, dan kemuhsinan serta akhlak, maka diperlukan pengetahuan dan metode-metode untuk menginternalisasikannya. Juga dalam menanamkan pendidikan pada anak perlu diperhatikan 3 (tiga) aspek yaitu kognisi, afeksi dan psikomotor. Apa itu KOGNISI, AFEKSI, PSIKOMOTOR?&lt;br /&gt;• Kognisi dapat diartikan sebagai kegiatan berpikir; mencari, mengelola sampai menggunakan pengetahuan. Anak yang sedang memfungsikan kognisinya akan memulai dari mengamati sesuatu, selanjutnya dicerna dan kemudian dipikirkan. &lt;br /&gt;• Afeksi merupakan perasaan yang dimiliki anak terhadap sesuatu. Seperti perasaan senang, sedih, suka dan tidak suka, baik dan buruk, termasuk sikap dan akhlak.  &lt;br /&gt;• Psikomotor berhubungan dengan fisik, misalnya gerakan-gerakan tubuh. Anak yang memiliki psikomotor yang baik dapat melakukan geraka-gerakan fisik dengan seimbang, terarah dan gerakan tersebut memiliki tujuan yang baik.  &lt;br /&gt;Usaha meningkatkan kecerdasan anak harus meliputi seluruh ranah pribadi anak, yaitu ranah kognisi, afeksi dan psikomotor. Hal ini dilakukan bertujuan agar anak memperoleh keseimbangan dalam dirinya. Ketika anak cerdas namun juga memiliki kejujuran, tanggungjawab kedisiplinan serta memiliki kekuatan tubuh (fisik) yang baik.&lt;br /&gt;Setiap ranah yang ada dalam diri anak dapat ditingkatkan dengan cara yang berbeda-beda. Untuk meningkatkan kemampuan Kognisi anak, orang tua perlu memberi makanan berupa ilmu pengetahuan, berita dari berbagai media, buku-buku bacaan, alat permainan yang merangsang kreativitas (seperti permainan pasir, balok kreatif, kartu imajinatif, dan sebagainya). Sedangkan untuk meningkatkan kemampuan Afeksi anak, orang tua bisa memberikan makanan berupa kasih sayang, perhatian, motivasi, ucapan-ucapan bijak dan lembut yang disampaikan pada anak. Dan untuk meningkatkan kemampuan Psikomotor anak, makanannya berupa asupan gizi 4 sehat 5 sempurna, olah raga dan aktivitas gerakan fisik yang cukup. &lt;br /&gt;Saat ini kita bisa dikatakan tak perlu kawatir dengan pemenuhan peningkatan kemampuan kognisi dan psikomotor anak. Di sekolah anak cukup memperoleh rangsangan untuk meningkatkan pengetahuan mereka melalui mata pelajaran yang diberikan. Demikian juga kegiatan olah raga yang rutin disekolah ataupun perhatian kita terhadap gizi anak akan memenuhi kebutuhan peningkatan kemampuan psikomotor anak. Walau demikian bukan berarti di rumah kita tidak perlu lagi memberikan pengetahuan atau perhatian terhadap perkembangan fisik. Namun yang sangat perlu diperhatikan pada saat ini adalah sentuhan afeksi pada anak-anak kita.  Anak yang memiliki afeksi yang kuat berarti memiliki kepekaan atau perasaan yang kuat, ia memahami perasaan apa yang sedang ia rasakan, dan mampu memahami perasaan orang lain. Ketika ia kesal karena dijahili temannya, maka reaksi yang muncul adalah kekesalan bukan amarah atau sampai mendendam. Dan seketika itu pula ia tau bagaimana menyikapi diri ketika sedang kesal, agar jangan sampai kekesalannya itu menyakiti temannya tadi. Misalnya dengan kekesalannya itu, ia tidak lantas marah-marah atau sampai memukul temannya, tetapi ia akan dengan lapang dada mengatakan pada temannya ”Saya tidak suka, kalau kamu jahilin saya”. &lt;br /&gt;Afeksi yang baik dalam diri anak juga tercermin dalam kekuatan spiritual anak. Anak yang taat pada kedua ibu bapaknya, mampu menyayangi anak yatim, mengasihi fakir miskin, mampu berserah diri pada Allah, serta taat dalam ibadah menunjukkan kecerdasan afeksi yang dimiliki anak. Karena semua aktivitas tersebut hanya dimiki oleh anak yang peka dan kuat perasaannya. &lt;br /&gt;Rasulullah telah memberikan contoh bagaimana mengembangkan afeksi anak, yaitu dengan memberi ciuman pada anak-anak sebagai wujud rasa sayang Beliau. Dengan demikian aktivitas mencium, membelai, memeluk anak perlu diberikan orang tua kepada anak sehari-hari. Selain itu orang tua juga bisa mengembangkan afeksi anak melalui pemberian motivasi dan keteladanan. Misalnya dengan senantiasa memberikan dorongan anak untuk berbuat baik, mendorong anak untuk memiliki akhlak terpuji maupun mendorong anak untuk senantiasa berdoa dan berserah diri pada Allah swt.&lt;br /&gt;Melalui keteladan, afeksi anak juga dapat dikembangkan. Misalnya orang tua mudah memaafkan dan meminta maaf pada anaknya, tentu hal ini akan dicontoh anak. Lainnya, seperti memberi keteladanan alam bentuk bersabar ketika mengingatkan anak yang lalai, lembut dalam tutur kata, jujur dalam berbicara, bertanggung jawab atas apa yang dipilih atau dilakukan. Semua hal tersebut akan mengembangkan afeksi anak.&lt;br /&gt;Hal lain yang bisa dilakukan, bisa sesekali waktu mengajak anak rihlah (jalan-jalan) ketempat yang pemandangannya indah, seperti pegunungan, sungai, daerah pedesaan yang asri dan sebagainya. Disana, anak kita sentuh afeksinya dengan mengajak mereka merenungi ciptaan Allah yang sangat indah yang wajib disyukuri, merenungi bagaimana ketika bencana tiba-tiba terjadi maka pertolongan Allah yang harus kita pinta untuk pertama kali.&lt;br /&gt;Jika seorang anak tumbuh dan berkembang dengan berpijak pada landasan iman kepada Allah dan terdidik untuk selalu takut, ingat, pasrah, meminta pertolongan dan berserah diri kepada Allah, maka ia akan memiliki kemampuan dan bekal pengetahuan di dalam menerima setiap keutamaan dan kemuliaan, disamping terbiasa dengan sikap dan berakhlaq mulia. Benteng pertahanan agama yang berakar pada hati sanubarinya, kebiasaan mengingat Allah yang telah dihayati dalam dirinya dan instropeksi diri yang telah menguasai seluruh pikiran dan perasaan telah memisahkan anak dari sifat-sifat jelek, kebiasaan-kebiasaan dosa dan tradisi-tradisi jahiliyah yang rusak. Bahkan setiap kebaikan akan diterima menjadi salah satu kebiasaan dan kesenangan, kemuliaan akan menjadi akhlaq dan sifat yang paling utama.&lt;br /&gt;Oleh karena itu peran orangtua sangatlah penting dalam mendidik anak-anaknya, seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Ayyub Bin Musa dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw., bersabda: &lt;br /&gt;مـا نحل والد ولده  افضل من أدب حسن (رواه الترمذى والحـاكم عن عمرو ابن سعيد بن العـاص)&lt;br /&gt;Artinya: “Tidak ada suatu pemberian yang lebih utama yang diberikan oleh seorang ayah kepada anaknya, kecuali budi pekerti yang baik.”&lt;br /&gt;Dan hadits dari Abdur Razzaq, Sa’id bin Mansyur dan lainnya sebagaimana dinukil oleh Dr. Abdullah Nashih Ulwan:&lt;br /&gt;علموا اولادكم و أهليكم الخير و أدبوهم (رواه عبد الرزاق و سعيد بن منصور)&lt;br /&gt;Artinya: “Ajarkanlah kebaikan kepada anak-anakmu dan didiklah mereka dengan budi pekerti yang baik.”&lt;br /&gt;Dari sinilah bahwa orang tua sangat bertanggung jawab mendidik anak-anak, terutama dari segi pendidikan moralnya, seperti perbaikan jiwa anak, meluruskan penyimpangan, mengangkat anak dari seluruh kehinaan dan menganjurkan bergaul yang baik dengan orang lain.&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai orang tua untuk meningkatkan kecerdasan anak. Segala usaha tetap harus dibarengi dengan do’a, kemudian berserah diri atas usaha yang telah kita lakukan.&lt;br /&gt;Dalam menerapkan dan menanamkan pendidikan yang diharapkan kepada anak, maka diperlukan metode-metode yang disesuaikan dengan perkembangan anak, di antaranya:&lt;br /&gt;1. Metode Dialog Qurani dan Nabawi &lt;br /&gt;Metode dialog adalah metode menggunakan tanya jawab, apakah pembiacaraan antara dua orang atau lebih, dalam pembicaraan tersebut mempunyai tujuan dan topik pembicaraan tertentu. Metode dialog berusaha menghubungkan pemikiran seseorang dengan orang lain, serta mempunyai manfaat bagi pelaku dan pendengarnya. Uraian tersebut memberi makna bahwa dialog dilakukan oleh seseorang dengan orang lain, baik mendengar langsung atau melalui bacaan.&lt;br /&gt;Dalam al-Quran banyak memberi informasi tentang dialog, di antara bentuk-bentuk dialog tersebut adalah dialog khitabi, taabbudi, deskritif, naratif, argumentative serta dialog Nabawiyah. Metode dialog sering dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw dalam mendidik akhlak para sahabat. Dialog akan memberi kesempatan kepada anak didik untuk bertanya tentang sesuatu yang tidak mereka pahami. &lt;br /&gt;2. Metode kisah Qurani dan Nabawi &lt;br /&gt;Dalam al-Quran banyak ditemui kisah menceritakan kejadian masa lalu, kisah mempunyai daya tarik tersendiri yang tujuannnya mendidik akhlak, kisah-kisah para Nabi dan Rasul sebagai pelajaran berharga. &lt;br /&gt;Kisah mengandung aspek pendidikan yaitu dapat mengaktifkan dan membangkitkan kesadaran pembacanya, membina perasaan ketuhanan dengan cara mempengaruhi emosi, mengarahkan emosi, mengikutsertakan psikis yang membawa pembaca larut dalam setting emosional cerita, topic cerita memuaskan pikiran. Selain itu kisah dalam Alquran bertujuan mengkokohkan wahyu dan risalah para Nabi, kisah dalam Alquran memberi informasi terhadap agama yang dibawa para Nabi berasal dari Allah, kisah dalam Alquran mampu menghibur umat Islam yang sedang sedih atau tertimpa musibah. &lt;br /&gt;Metode mendidik akhlak melalui kisah akan memberi kesempatan bagi anak untuk berfikir, merasakan, merenungi kisah tersebut, sehingga seolah ia ikut berperan dalam kisah tersebut. Adanya keterkaitan emosi anak terhadap kisah akan memberi peluang bagi anak untuk meniru tokoh-tokoh berakhlak baik, dan berusaha meninggalkan perilaku tokoh-tokoh berakhlak buruk.&lt;br /&gt;Cerita mengusung dua unsur negatif dan unsur positif, adanya dua unsur tersebut akan memberi warna dalam diri anak jika tidak ada filter dari para orang tua dan pendidik. Metode mendidik akhlak melalui cerita/kisah berperan dalam pembentukan akhlak, moral dan akal anak.&lt;br /&gt;Cerita mempunyai kekuatan dan daya tarik tersendiri dalam menarik simpati anak, perasaannnya aktif, hal ini memberi gambaran bahwa cerita disenangi orang, cerita dalam Alquran bukan hanya sekedar memberi hiburan, tetapi untuk direnungi, karena cerita dalam Alquran memberi pengajaran kepada manusia. Dapat dipahami bahwa cerita dapat melunakkan hati dan jiwa anak didik, cerita tidak hanya sekedar menghibur tetapi dapat juga menjadi nasehat, memberi pengaruh terhadap akhlak dan perilaku anak, dan terakhir kisah/cerita merupakan sarana ampuh dalam pendidikan, terutama dalam pembentukan akhlak anak.&lt;br /&gt;3. Metode Mauizah &lt;br /&gt;Nasihat mempunyai beberapa bentuk dan konsep penting yaitu, pemberian nasehat berupa penjelasan mengenai kebenaran dan kepentingan sesuatu dengan tujuan orang diberi nasehat akan menjauhi maksiat, pemberi nasehat hendaknya menguraikan nasehat yang dapat menggugah perasaan afeksi dan emosi, seperti peringatan melalui kematian peringatan melalui sakit peringatan melalui hari perhitungan amal. Kemudian dampak yang diharapkan dari metode mauizah adalah untuk membangkitkan perasaan ketuhanan dalam jiwa anak didik, membangkitkan keteguhan untuk senantiasa berpegang kepada pemikiran ketuhanan, perpegang kepada jamaah beriman, terpenting adalah terciptanya pribadi bersih dan suci. &lt;br /&gt;Dalam Alquran menganjurkan kepada manusia untuk mendidik dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Firman Allah swt., dalam surah al-Nahl ayat 125, yang berbunyi:&lt;br /&gt;             •     •          &lt;br /&gt;Artinya: “ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” &lt;br /&gt;Dari ayat tersebut dapat diambil pokok pemikiran bahwa dalam memberi nasehat hendaknya dengan baik, kalau pun mereka membantahya maka bantahlah dengan baik. Sehingga nasehat akan diterima dengan rela tanpa ada unsur terpaksa. Metode mendidik akhlak anak melalui nasehat sangat membantu terutama dalam penyampaian materi akhlak mulia kepada anak, sebab tidak semua anak mengetahui dan mendapatkan konsep akhlak yang benar.&lt;br /&gt;Nasehat menempati kedudukan tinggi dalam agama karena agama adalah nasehat, hal ini diungkapkan oleh Nabi Muhammad sampai tiga kali ketika memberi pelajaran kepada para sahabatnya. Di samping itu pendidik hendaknya memperhatikan cara-cara menyampaikan dan memberikan nasehat, memberikan nasehat hendaknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi, pendidikan hendaknya selalu sabar dalam menyampaikan nasehat dan tidak merasa bosan/ putus asa. &lt;br /&gt;Ada beberapa langkah dan hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan metode nasihat, di antaranya:&lt;br /&gt;a. Rayuan dalam nasehat, seperti memuji kebaikan murid, dengan tujuan agar siswa lebih meningkatkan kualitas akhlaknya, dengan mengabaikan membicarakan keburukannya. &lt;br /&gt;b. Menyebutkan tokoh-tokoh agung umat Islam masa lalu, sehingga membangkitkan semangat mereka untuk mengikuti jejak mereka. &lt;br /&gt;c. Membangkitkan semangat dan kehormatan anak didik. &lt;br /&gt;d. Sengaja menyampaikan nasehat di tengah anak didik. &lt;br /&gt;e. Menyampaikan nasehat secara tidak langsung/ melalui sindiran &lt;br /&gt;f. Memuji di hadapan orang yang berbuat kesalahan, orang yang melakukan sesuatu berbeda dengan perbuatannya. Kalau hal ini dilakukan akan akan mendorongnya untuk berbuat kebajikan dan meninggalkan keburukan. &lt;br /&gt;Dengan cara tersebut akan memaksimalkan dampak nasehat terhadap perubahan tingkah laku dan akhlak anak, perubahan dimaksud adalah perubahan yang tulus ikhlas tanpa ada kepura-puraan, kepura-puraan akan muncul ketika nasehat tidak tepat waktu dan tempatnya, anak akan merasa tersinggung dan sakit hati kalau hal ini sampai terjadi maka nasehat tidak akan membawa dampak apapun, yang terjadi adalah perlawanan terhadap nasehat yang diberikan.&lt;br /&gt;4. Metode Pembiasaan dengan Akhlak Terpuji &lt;br /&gt;Manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan bersih, dalam keadaan seperti ini manusia akan mudah menerima kebaikan atau keburukan. Karena pada dasarnya manusia mempunyai potensi untuk menerima kebaikan atau keburukan hal ini dijelaskan Allah dalam surah al-Syams ayat 7-10, sebagai berikut:&lt;br /&gt;                          &lt;br /&gt;Artinya: ”Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” &lt;br /&gt;Ayat tersebut mengindikasikan bahwa manusia mempunyai kesempatan sama untuk membentuk akhlaknya, apakah dengan pembiasaan yang baik atau dengan pembiasaan yang buruk. Hal ini menunjukkan bahwa metode pembiasaan dalam membentuk akhlak mujlai sangat terbuka luas, dan merupakan metode yang tepat. Pembiasaan yang dilakukan sejak dini/sejak kecil akan memebawa kegemaran dan kebiasaan tersebut menjadi semacam adab kebiasaan sehingga menjadi bagian tidak terpisahkan dari kepribadiannya. Hal ini dipertegas lagi dengan hadis Nabi yang berbunyi: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Metode Keteladanan &lt;br /&gt;Orang tua/pendidik itu besar dimata anak didiknya, apa yang dilihat dari gurunya akan ditirunya, karena murid akan meniru dan meneladani apa yang dilihat dari gurunya. Dengan memperhatikan hal di atas dapat dipahami bahwa keteladanan mempunyai arti penting dalam mendidik akidah, ibadah dan akhlak anak, keteladanan menjadi titik sentral dalam mendidik dan membina akhlak anak didik, kalau pendidik berakhlak baik ada kemungkinan anak didiknya juga berakhlak baik, karena murid meniru gurunya, senbaliknya kalau orang tua/guru berakhlak buruk ada kemungkinan anak didiknya juga berakhlak buruk.&lt;br /&gt;Dengan demikian keteladanan menjadi penting dalam pendidikan akhlak, keteladanan akan menjadi metode ampuh dalam membina akhlak anak. Mengenai hebatnya keteladanan Allah mengutus Rasul untuk menjadi teladan yang paling baik, Nabi Muhammad saw., adalah teladan tertinggi sebagai panutan dalam rangka pembinaan akhlak mulai. Ini didasarkan dari firman Allah pada surah al-Ahzab ayat 21, yang berbunyi:&lt;br /&gt;                    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ِArtinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” &lt;br /&gt;Keteladanan sempurna, adalah keteladanan Muhammad saw., menjadi acuan bagi pendidik sebagai teladan utama, di lain pihak pendidik hendaknya berusaha meneladani Muhammad saw., sebagai teladannya, sehingga diharapkan anak didik mempunyai figur yang dapat dijadikan panutan.&lt;br /&gt;6. Metode Targhib dan Tarhib &lt;br /&gt;Targhib adalah janji yang disertai bujukan dan rayuan untuk menunda kemaslahatan, kelezatan, dan kenikmatan. Sedangkan tarhib adalah ancaman, intimidasi melalui hukuman. Dapat dipahami bahwa metode pendidikan akidah, ibadah, dan akhlak dapat berupa janji/pahala/hadiah dan dapat juga berupa hukuman. Metode pemberian hadiah dan hukuman sangat efektif dalam mendidik akhlak terpuji. &lt;br /&gt;Anak berakhlak baik, atau melakukan kesalehan akan mendapatkan pahala/ganjaran atau semacam hadian dari gurunya, sedangkan siswa melanggar peraturan berakhlak jelek akan mendapatkan hukuman setimpal dengan pelanggaran yang dilakukannya.&lt;br /&gt;Pemberian hadiah bisa memberi motivasi siswa untuk terus meningkatkan atau paling tidak mempertahankan kebaikan akhlak yang telah dimiliki. Di lain pihak, temannya yang melihat pemberian hadiah akan termotivasi untuk memperbaiki akhlaknya dengan harapan suatu saat akan mendapatkan kesempatan memperoleh hadiah. Hadiah diberikan berupa materi, doa, pujian atau yang lainnya.&lt;br /&gt;Sanksi dalam pendidikan mempunyai arti penting, pendidikan terlalu lunak akan membentuk anak kurang disiplin dan tidak mempunyai keteguhan hati. Sanksi tersebut dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut, dengan teguran, kemudian diasingkan, dan terakhir dipukul dalam arti tidak untuk menyakiti tetapi untuk mendidik. Kemudian dalam menerapkan sanksi fisik hendaknya dihindari kalau tidak memungkinkan, hindari memukul wajah, memukul sekedarnya saja dengan tujuan mendidik, bukan balas dendam. Alternatif lain yang mungkin dapat dilakukan adalah;&lt;br /&gt;a. Memberi nasehat dan petunjuk. &lt;br /&gt;b. Ekspresi cemberut. &lt;br /&gt;c. Pembentakan. &lt;br /&gt;d. Tidak menghiraukan murid. &lt;br /&gt;e. Pencelaan disesuaikan dengan tempat dan waktu yang sesuai. &lt;br /&gt;f. Jongkok. &lt;br /&gt;g. Memberi pekerjaan rumah/ tugas. &lt;br /&gt;h. Menggantungkan cambuk sebagai simbol pertakut. &lt;br /&gt;i. Dan alternatif terakhir adalah pukulan ringan.  &lt;br /&gt;Dalam memberi sanksi hendaknya dengan cara bertahap, dalam arti diusahakan, dengan tahapan paling ringan, diantara tahapan ancaman dalam Alquran adalah diancam dengan tidak diridhoi oleh Allah, diancam dengan murka Allah secara nyata, diancam dengan diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya, diancam dengan sanksi akhirat, diancam dengan sanksi dunia.&lt;br /&gt;Demikianlah metode-metode yang bisa diterapkan kepada pendidikan anak, orang tua bisa saja berkreasi dengan metode lain, tetapi tetap dalam tujuan dan koridor-koridor yang dibenarkan dalam Islam, di samping itu disesuaikan dengan minat dan perkembangan anak. Sehingga pendidikan tersebut bisa diterima dan tertanam di hati anak hingga akhirnya menjadi kepribadian anak yang shaleh.&lt;br /&gt;Setelah metode-metode tersebut diterapkan sesuai dengan porsi dan tempatnya, dan orang tua telah melakukannya dengan sebaik-baiknya. Maka hal terakhir yang terbaik yang dilakukan adalah bertawakal kepada Allah dan mendoakan anak-anaknya agar menjadi orang-orang yang saleh. Sebagaimana hadis Rasulullah saw.,:&lt;br /&gt;لا تدعوا على انفسكم و لا تدعوا على أولادكم (رواه أبو داود عن جـابر بن عبد الله)&lt;br /&gt;Artinya: Janganlah kalian mendoakan kebinasaan atas diri kalian sendiri, dan janganlah kalian mendoakan kebinasaan atas anak-anak kalian…    &lt;br /&gt; Allah akan mengabulkan doa, apalagi doa-doa orang tua untuk anaknya. Karena Allah tidak akan pernah ingkar janji bahwa Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR KUTIPAN BAB II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;[URL=http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html]http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html[/URL]&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2425223017908718266-3421416463546753582?l=nafi82.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nafi82.blogspot.com/feeds/3421416463546753582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/05/bab-ii-tinjauan-teoritis-tentang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/3421416463546753582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/3421416463546753582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/05/bab-ii-tinjauan-teoritis-tentang.html' title='TEORITIS PENDIDIKAN ANAK'/><author><name>NAFI KANDANGAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15298715059182094551</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JMe35SNgMFM/SfVLWczCeeI/AAAAAAAAAAc/FD-UBSQp110/S220/gatot-kaca-bule.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2425223017908718266.post-4603742053304503233</id><published>2009-03-14T14:16:00.001+07:00</published><updated>2009-03-14T14:16:53.364+07:00</updated><title type='text'>Skripsi</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;[URL=http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html]http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html[/URL]&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2425223017908718266-4603742053304503233?l=nafi82.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='' href='http://www.indoskripsi.com' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nafi82.blogspot.com/feeds/4603742053304503233/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/03/skripsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/4603742053304503233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/4603742053304503233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/03/skripsi.html' title='Skripsi'/><author><name>NAFI KANDANGAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15298715059182094551</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JMe35SNgMFM/SfVLWczCeeI/AAAAAAAAAAc/FD-UBSQp110/S220/gatot-kaca-bule.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2425223017908718266.post-4859047230453939200</id><published>2009-03-12T12:52:00.000+07:00</published><updated>2009-03-12T12:54:13.875+07:00</updated><title type='text'>Gugatan</title><content type='html'>GUGATAN&lt;br /&gt;Gugatan harus diajukan dengan surat gugat yang ditandatangani oleh penggugat atau kuasanya yang sah dan ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri.&lt;br /&gt;Gugatan disampaikan kepada Pengadilan Negeri, kemudian akan diberi nomor dan didaftarkan da¬lam buku Register setelah penggugat membayar  panjar biaya perkara, yang besarnya ditentukan oleh Pengadilan Negeri (pasal 121 HIR).&lt;br /&gt;Bagi Penggugat yang benar-benar tidak mampu membayar biaya perkara, hal mana harus di¬buktikan dengan surat keterangan dari Kepala Desa yang bersangkutan, dapat mengajukan gugatannya secara prodeo.&lt;br /&gt;Penggugat yang tidak bisa menulis dapat me¬ngajukan gugatannya secara lisan dihadapan Ketua Pengadilan Negeri, yang akan menyuruh mencatat gugatan tersebut (pasal 120 HIR).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;KOMPETENSI RELATIF  (pasal 118 (1) HIR)&lt;br /&gt;Pengadilan Negeri berwenang memeriksa gugatan yang daerah hukumnya, meliputi:&lt;br /&gt;Dimana tergugat bertempat tinggal.&lt;br /&gt;Dimana tergugat sebenarnya berdiam (jikalau tergugat tidak diketahui tempat tinggalnya).&lt;br /&gt;Salah satu tergugat bertempat tinggal, jika ada banyak tergugat yang tempat tinggalnya tidak dalam satu daerah hukum Pengadilan Negeri.&lt;br /&gt;Tergugat utama bertempat tinggal, jika hubungan antara tergugat-tergugat adalah sebagai yang berhutang dan penjaminnya.&lt;br /&gt;Penggugat atau salah satu dari penggugat ber¬tempat tinggal dalam hal:&lt;br /&gt;o     tergugat tidak mempunyai tempat tinggal dan tidak diketahui dimana ia berada.&lt;br /&gt;o     tergugat tidak dikenal.&lt;br /&gt;o     Dalam hal tersebut diatas dan yang menjadi objek gugatan adalah benda tidak bergerak (tanah), maka ditempat benda yang tidak bergerak terletak.&lt;br /&gt;o     (Ketentuan HIR dalam hat ini berbeda dengan Rbg. Menurut pasal 142 RBg, apabila objek gugatan adalah tanah, maka gugatan selalu dapat diajukan kepada Pengadilan Negeri dimana tanah itu terletak).&lt;br /&gt;Dalam hal ada pilihan domisili secara teI1!llis dalam akta, jika penggugat menghendaki, di¬tempat domisili yang dipilih itu.&lt;br /&gt;Apabila tergugat pada hari sidang pertama tidak mengajukan tangkisan (eksepsi) tentang wewe¬nang mengadili secara relatif ini, Pengadilan Negeri tidak boleh menyatakan dirinya tidak berwenang. &lt;br /&gt;(Hal ini adalah sesuai dengan ketentuan Pasal 133 HIR, yang menyatakan, bahwa eksepsi mengenai kewenangan relatip harus di¬ajukan pada permulaan sidang, apabila diajukan terlambat, Hakim dilarang untuk memperhatikan eksepsi tersebut).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;[URL=http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html]http://hotfile.com/dl/40351365/fc4723c/01._HIKYP.mp3.html[/URL]&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2425223017908718266-4859047230453939200?l=nafi82.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nafi82.blogspot.com/feeds/4859047230453939200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/03/gugatan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/4859047230453939200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2425223017908718266/posts/default/4859047230453939200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nafi82.blogspot.com/2009/03/gugatan.html' title='Gugatan'/><author><name>NAFI KANDANGAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15298715059182094551</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JMe35SNgMFM/SfVLWczCeeI/AAAAAAAAAAc/FD-UBSQp110/S220/gatot-kaca-bule.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
